Cina-India (Cindia): Membangun Kekuatan Triumvirat Asia (Bagian Kedua)

Bagikan artikel ini

Menyambung tulisan sebelumnya, kini bahasan berikutnya adalah menyoal dinamika kekuatan Cina-India di lintas sektor.

Perdagangan dan Bisnis Internasional

Berbicara tentang perekonomian Cindia pada saat ini, maka kita tidak akan bisa melepaskannya dari perdagangan ekspor-impor dan menyatunya perekonomian kedua negara tersebut dengan bisnis internasional berkelas dunia.

Dengan nilai ekspor sebesar US$ 969 miliar dan nilai surplus hampir sebesar US$ 178 miliar pada tahun 2006, peran Cina di perdagangan global dapat dikatakan sangatlah kuat dan kredibel. Ekspor meningkat pesat sebesar 200 persen hanya dalam empat tahun terakhir dan dengan hal tersebut kedua negara berharap dapat menjaga kestabilannya di masa yang akan datang. Berdasarkan estimasi Economist Intelligence Unit (EIU), ekspor dari negara Cina akan mencapai US$ 2.140 miliar pada tahun 2010, di mana India akan pula meningkatkan hasil ekspornya sebesar US$ 217 miliar.[21]

Kegiatan manufaktur telah menjadi kendaraan utama bagi pertumbuhan ekonomi Cina dengan kontribusi sebesar 49 persen dari total GDP. Sedangkan, India yang mulai menyusul di belakangnya, memberikan sumbangan sebesar 28 persen dari GDP untuk produksi manufakturnya.

Sebuah laporan dari A CII-McKinsey di tahun 2002 menggarisbawahi lima kunci reformasi yang ditempuh oleh pemerintah Cina dalam menciptakan booming pada sektor manufaktur yang lebih baik dibandingkan dengan India. Kelima kebijakan tersebut, yaitu:[22]

-Pengurangan dan penyederhanaan pajak langsung dari 30 persen di tahun 1994 menjadi 17 persen di tahun 2002;

-Pengurangan terhadap kewajiban-kewajiban dalam hal impor yang nilainya setengah dari kewajiban impor yang diterapkan di India, yaitu 13 persen berbanding 24 persen;

-Implementasi dari peraturan hukum buruh yang lebih longgar dan menerapkannya sebagai praktik terbaik bagi Foreign Invested Enterprises (FIEs);

-Menciptakan Special Economic Zones (SEZs) yang saling berintegrasi satu sama lain;

-Menjaga suku bunga yang rendah untuk menstimulasi masuknya investasi.

Untuk bidang Information and Communication Technology (ICT), Cina kini mengungguli Amerika Serikat sebagai pengekspor ITC terbesar di tahun 2005. Nilai ekspor Cina berkisar US$ 180 miliar, berada di atas nilai ekspor Amerika Serikat yang berjumlah US$ 149 miliar. Sedangkan di segmen offshore, India kini telah menguasai 65 persen untuk IT dan 46 persen untuk BPO dari total seluruh pasar global.[23]

Selain di bidang IT, industri mobil India merupakan salah satu industri dunia yang berkembang sangat cepat. Setelah Tata Motors India meluncurkan mobil termurah di dunia (Nano Car) dengan harga kurang lebih US$ 2.500 per unit, akhir bulan Maret yang lalu Tata juga kembali mengakuisi salah satu perusahaan mobil termewah di dunia, yaitu Jaguar dan Land Rover.[24]

Begitu pula dalam hal industri farmasi dan obat-obatan, India semakin mengukuhkan posisinya dalam memberikan pelayanan terbaik dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat umum di dunia.[25]

Hegemoni Cindia

Kebangkitan Cindia bukanlah sekedar berkisah tentang keunggulan para ilmuwan, teknisi, dan wirausahawan semata. Bukan pula mengenai karakter khas pemerintah ataupun para pelaku bisnisnya saja. Keunggulan Cindia juga terletak pada nilai-nilai kebudayaannya yang meliputi bidang seni dan hiburan, fesyen, kerajinan tangan, nilai-nilai filosofi kehidupan, serta bebagai keunggulan lunak (soft advantages) lainnya. Melihat perkembangan yang terjadi saat ini, dapatkah kita kini menyematkan terminologi ‘hegemoni’ terhadap dominasi Cindia dalam banyak hal?

Kata ‘hegemoni’ seringkali mempunyai makna konotasi yang negatif, seperti misalnya western hegemony, suatu bentuk hegemoni negara barat yang dalam lima abad terakhir tidak pernah tertandingi dan seringkali dikaitkan dengan pola-pola penaklukan, kolonialisme, hingga perbudakan. Sebagai akibatnya, hegemoni negara barat acapkali ditafsirkan oleh negara-negara dunia lainnya dengan nilai-nilai superioritas, dominasi, kesombongan, dan juga rasis. Berbeda dengan falsafah hegemoni pada umumnya, hegemoni Cindia justru tidak berakar pada pola penaklukan ataupun pseudo-genetik lainnya.

Pada tahun 2025, Cina dan India akan menguasai 39 persen saham global atau setara dengan saham gabungan yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Eropa saat ini.[27] Sepertiga dari jumlah penduduk di dunia kini bertempat tinggal di negara Cina dan India.

Sejauh ini, Cina dan India menjadi pangsa pasar terbesar untuk penjualan telepon seluler dengan lebih dari 750 juta pelanggan. Cina berada pada urutan pertama untuk produksi rokok, sedangkan India menempati urutan kedua. Cina dan India juga memimpin dunia dalam hal penggunaan semen dan baja. Ketika Amerika terus bergantung pada brain-power yang diimpor dari negara-negara Asia dan Eropa, Cindia justru setiap saat dapat memanggil para ahli mereka yang tersebar di seluruh dunia untuk datang kembali ke negaranya, mengingat iklim usaha di negara mereka telah berubah dan terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Fenomena tersebut sekarang dikenal dengan istilah brain gain atau reserved brain drain.[28]

Di bidang pariwisata dan olahraga, prestasi Cindia sudah tidak lagi diragukan. Dengan strategi promosi yang tepat dan terarah, tempat-tempat wisata yang sebenarnya sederhana tetap mampu menyerap wisatawan asing dari seluruh manca negara. Tidak hanya sebatas kepiawaian para atlet olahraganya saja, Cindia juga berhasil “menggondol” posisi strategis sebagai tuan rumah untuk melaksanakan berbagai turnamen olahraga tingkat internasional, misalnya Commonwealth Games 2010 di New Delhi, India dan 29th Olympic Summer Games 2008 di Beijing dan beberapa kota lainnya di Cina.[29]

Abad ke-21 akan pula menjadi saksi bisu ketika pendulum waktu kembali ke arah Barat untuk menyerap ragam budaya dan pengaruh Asia lainnya. Di berbagai bidang kehidupan mulai dari makanan, seni, hiburan, buku, film, hingga hal-hal yang bersifat spiritual dari Cina dan India, mulai menginfiltrasi dan mendominasi tata struktur kemasyarakatan Amerika dan Eropa.

Untuk menyebutkan beberapa contohnya, siapa yang dapat memperkirakan ketika Kementerian Pariwisata Perancis menerbitkan buku setebal 65 halaman di tahun 2006 berjudul “Chinese Tourist: How Best to Welcome Them” yang berisi anjuran agar para pemandu turis profesional dapat menghidangkan makanan khas Perancis dengan selera cita rasa Cina guna menarik wisatawan Asia.

Begitu pula dengan keperkasaan soft power India yang telah mendominasi dunia, khususnya dalam bidang industri perfilman. Kesuksesan India dalam menggarap industri Bollywood sudah dapat dipastikan melewati film-film Hollywood dalam hal jumlah produksi dan estimasi penonton pertahunnya.[30]

Namun demikian, perbedaan pergerakan mendasar antara pendulum Easternization dan Westernization dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan di tengah-tengah masyarakat suatu negara. Westernisasi seringkali mengakibatkan terjadinya perbenturan budaya (clash of cultures), sedangkan easternisasi justru menciptakan perpaduan kebudayaan (cultural fusion).

Pan Mohamad Faiz (Peneliti LIPI)

(Catatan redaksi: Bagian selanjutnya tulisan ini (bagian ke-3) akan membahas eksistensi Cina-India di tengah pergeseran gopolitik dunia)

 

Catatan kaki:

[1] Lihat Vishnu Saraf, India and China: Comparing the Incomparable, Observer Research Foundation dan Macmillan India Ltd., 2008.
[2] Para pemimpin negara Cina mengklaim secara berulang kali bahwa Cina akan mengalami transisi demokrasi hanya dan jika masyarakatnya sudah terdidik dengan baik dan menikmati kesejahteraan yang cukup.
[3] Untuk memonitor perkembangan sekaligus mensensor berita negatif pada jaringan internet, pemerintah Cina mempekerjakan sedikitnya 30.000 cyber police. Bahkan menurut studi komprehensif yang dilakukan oleh peneliti Harvard University, kata-kata “democracy”, “human rights”, ataupun “freedom” telah dihilangkan dari mesin pencari kata Google. Lihat The Berkman Center for Internet and Society, Internet Filtering in China 2004-05: A Country Study, Harvard Law School, tersedia pada http://opennet.net/studies/china/, diakses terakhir kali pada tanggal 20 Maret 2008.
[4] L. Alan, Winters dan Shahid Yusuf, Dancing With Giants, World Bank, Washington DC, 2006, hal. 7.
[5] Laporan Goldman Sachs Economic Research dalam Dreaming with BRIC’s: The Path to 2050 (Global Economics Paper No. 99) dan India: Realizing BRICs Potential (Global Economics Paper No. 109).
[6] Lihat Joseph Stiglitz, Making Globalization Work, Penguin, edisi paperback, New Delhi, 2006.
[7] Salah satu contoh hasil skenario akuisisi terbaik dapat dilihat dari perjalanan Mittal Steel, perusahaan keluarga dari Mohan Mittal yang memulai bisnisnya dengan membeli perusahaan besi di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Setelah berhasil membeli International Steel Group (ISG) sebesar US$ 4.5 miliar, Mittal menjadi pemilik perusahaan besi terbesar di Amerika Serikat. Lebih dari itu, pada tahun 2006 Mittal juga membeli Arcelor, perusahaan manufaktur besi terbesar di Eropa dengan sebesar US$ 34 miliar. Akusisi tersebut menjadikannya sebagai perusahaan besi pertama di dunia yang mampu memproduksi 100 juta ton besi. Sekarang, Arcelor Mittal berada pada posisi tiga kali lebih besar dari pesaing terdekatnya yaitu Nippon Steel dari Jepang.
[8] Lihat Lee Kuan Yew, From Third World to First: The Singapore Story, 1965-2000, Harper Collins, New York, 2000.
[9] Robyn Meredith, The Elephant and The Dragon: The Rise of India and China and What It Means for All of Us, Viva Books, New Delhi, 2008 hal. 22-25.
[10] Feng Zhenghui, ed., Stories of China’s Reform and Opening-Up, Story of China Publishing, Shenzhen, Agustus 2004.
[11] Hemat penulis, pendekatan tersebut diutarakan atas dasar bayang-bayang perlindungan akan validitas Marxisme dan legitimasi rezim pemikirannya.
[12] Lihat Paul Wolfitz, Statement Issued on Visit to China, World Bank, Washington, Oktober 2005.
[13] Pengamat Cina dari University of Michigan, Kenneth Lieberthal, memberikan label pada sistem yang digunakan oleh Cina sebagai sistem “bureucratic capitalism”. Sedangkan John Gittings, salah satu ahli dari Cina menamakannya sebagai “state capitalism”. Satu kesamaan yang dibawa oleh para ahli tersebut bahwasanya sistem ekonomi Cina bukanlah sistem komunis secara penuh, namun bukan juga kapitalis secara sungguh-sungguh.
[14] Robyn Meredith, op. cit., hal. 39-40.
[15] Lihat Gurcharan Das, India Unbound: From Independence to the Global Information Age, Penguin Books India, New Delhi, 2002.
[16] Ketentuan “License Raj” inilah yang dianggap menjadi salah satu sumber malapetaka tumbuh suburnya praktik penyelundupan dan korupsi di tubuh pemerintahan India sepanjang masa.
[17] Lihat Sandep Ahuja, et al., Indian Economic Reform: Task Force Report, International Policy Practicum 2005, University of Chicago, Januari 2006.
[18] Bandingkan pandangan dan pola pemikiran antara para ekonom India dengan eknonom dari negara lainnya tentang “Reformasi Ekonomi di India”. Lihat salah satunya Jagdish N. Sheeth, Chindia Rising: How China and India Will Benefit Your Business, Tata McGraw-Hill, New Delhi, 2008.
[19] Menyadari akan kekurangannya, pemerintah India telah menganggarkan sekitar US$ 150 miliar untuk program pembangunan infrastruktur selama 2005-2010. Program tersebut secara garis besar meliputi: US$50 miliar untuk perbaikan bandar udara, pelabuhan, dan jalan raya; US$ 75 miliar untuk pembangkit energi tenaga listrik yang didistribusikan ke 125.000 desa; dan US$25 miliar untuk pembangunan jaringan telekomunikasi.
[20] Kebanyakan para petinggi dan masyarakat Indonesia seringkali masih mengukur segala sesuatunya dengan nilai fisik, materi, dan sifat konsumsi. Oleh karenanya, ketika berbagai studi perbandingan dilakukan oleh pihak legislatif ataupun eksekutif Indonesia di negara India, hasil yang diperoleh seringkali tidak maksimal dikarenakan para pembanding cenderung hanya membandingkan infrastruktur fisik dan struktur masyarakat di lapangan. “Invisible infrastructure” yang justru menjadi modal utama dan penghubung antara pembangunan negara India dengan dunia, jarang sekali diperhatikan dan dianalisa dengan mendalam.
[21] Lihat juga Venessa Wong, “Step into the Future”, Insight Magazine, American Chamber of Commerce in Shanghai, Juli-Agustus 2006.
[22] A CII-McKinsey Report, Learning from China to Unlock India’s Maufacturing Potential, Oktober 2002, hal. 19-23, 32.
[23] Nasscom-McKinsey, Chindia: How China and India are Revolutionizing Global Business, McGraw-Hill, 2007, hal. 168. Di tahun 2006-2007, IT memberikan kontribusi lebih dari 16 persen dari nilai total ekspor India untuk barang dan jasa. Nilai ini diperkirakan akan semakin meningkat dan memainkan peran yang penting di masa-masa mendatang.
[24] Lihat “From cars for Rs one lakh to Rs one crore, Tata makes them all”, The Economic Times, 26 Maret 2008.
[25] Pada Agustus 2006, Mylan Laboratories dari Amerika Serikat mengumuman akan mengeluarkan lebih dari US$ 700 juta agar dapat memiliki 71% saham Matrix Laboratories India. Sedangkan, Dr. Reddy’s Laboratories India sudah mulai mengembangkan usahanya di Mexico dengan mengeluarkan dana sebesar US$ 60 juta.
[26] Meskipun persaingan perdagangan internasional antara Cina dan India berlangsung sangat ketat, akan tetapi kedua negara tetap melakukan kerjasama perdagangan yang harmonis. Hal ini terbukti dengan ditandatanganinya “India-China Regional Trading Agreement” di tahun 2006 dengan total nilai kerjasama sebesar US$ 20 miliar.
[27] Gurcharan Das, “Afterword”, op. cit., hal. 360.
[28] Lihat Pan Mohamad Faiz, Brain Drain dan Sumber Daya Manusia Indonesia: Studi Analisa terhadap Reversed Brain Drain di India, disampaikan pada International Conference for Indonesian Students di Sydney, Australia, September 2007.
[29] Dengan adanya tournamen olahraga berskala internasional, maka selain terciptanya promosi total suatu negara, pembangunan infrastruktur akan menjadi lebih baik. Dalam rangka rangka mempersiapkan Olimpiade 2008, pemerintah Cina mengalokasikan dana sebesar US$ 38 miliar untuk membangun lokasi pertandingan, gedung, dan infrastruktur publik di berbagai kota di Cina. Dana yang dianggarkan oleh pemerintah Cina ini bernilai dua kali lipat lebih besar daripada rencana pendanaan Olimpiade 2012 di London, Inggris.
[30] Berdasarkan data yang dikeluarkan Motion Picture Association of America 2001-2002, perbandingan antara industri Bollywood Vs. Hollywood adalah sebagai berikut: Produksi film (1.013 : 739); Penjualan tiket (3,6 miliar : 2,6 miliar); Keuntungan seluruh dunia (US$ 1,3 miliar : US$ 51 milyar); Pertumbuhan rata-rata pertahun (12,6% : 5,6%); Biaya produksi rata-rata perfilm (US$ 1,5 juta : US$ 47,7 juta); dan Biaya promosi rata-rata perfilm (US$ 500.000 : US$ 27,3 juta).

Facebook Comments