55 Persen Bangsa Indonesia Buta Huruf Fungsional

Bagikan artikel ini

Kualitas pendidikan kita buruk. Karena baru pada taraf bisa membuat orang dari buta huruf menjadi melek huruf. Herannya kenapa pendidikan di Indonesia belum bisa membasmi buta huruf fungsional?

Berdasarkan data Bank Dunia, 55 persen orang Indonesia mengalami functionally illiterate.

Sumber data di atas berasal dari World Bank, pada dokumen publikasi Indonesia Economic Quarterly, Juni 2018, terbitan Bank Dunia yang berjudul “Pendidikan untuk pertumbuhan”. Bank Dunia merujuk pada data PISA (Programme International School Assessment).

PISA adalah program yang diselenggarakan oleh OECD (organisasi negara-negara ekonomi kuat untuk pengembangan ekonomi dunia). Pada umumnya, program-program OECD bertujuan mengevaluasi kemajuan berbagai negara baik anggota maupun bukan (seperti Indonesia).

Menurut tes internasional, lebih dari 55 persen orang Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan buta huruf secara fungsional, jauh lebih besar daripada yang terdata di Vietnam (14 persen) dan negara-negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) (20 persen).

Orang Indonesia yang buta huruf secara fungsional cenderung berujung pada sektor rendahnya produktivitas.

Berikut adalah serpihan pernyataan Bank Dunia soal masyarakat Indonesia yang buta huruf fungsional;

According to international tests, more than 55 percent of Indonesians who finish their education are functionally illiterate, a much larger share than registered in Vietnam (14 percent) and the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) countries (20 percent). Indonesians who are functionally illiterate tend to end up in low-productivity sectors.

“buta huruf secara fungsional” dalam dokumen tersebut dijelaskan dalam catatan kakinya, yang berbunyi “Tidak dibekali dengan keterampilan yang diperlukan untuk dengan sukses memasuki pasar tenaga kerja.

Siswa yang mendapat nilai PISA tingkat 1 dianggap buta huruf secara fungsional karena mereka dapat, misalnya, membaca teks tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan teks tersebut.”

Di blog penulis buku “Indonesia Etc”, Elizabeth Pisani, disebutkan bahwa hanya 25% peserta tes dari Indonesia yang mampu mengerjakan soal Matematika level 2 ke atas. Level 1 dianggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Contoh soal :
“Empat mobil memiliki kapasitas mesin yang berbeda-beda: Alpha: 1.79, Bolte: 1.796, Castel: 1.82, Dezal: 1.783. Mobil manakah yang memiliki kapasitas mesin terkecil?”
Soal level 2 tersebut tidak bisa dijawab oleh 75% peserta tes dari Indonesia!

Yang memprihatinkan buta huruf fungsional ini masih juga didapati di kalangan mahasiswa dan orang yang mengaku kaum intelektual . Pembuktiannya tinggal kita lihat kualitas skripsi dan thesis saat ini , banyak yang cuma copy paste, tanpa mengerti lebih jauh makna penulisannnya.

Bahkan saya menduga banyak wakil rakyat yang tugasnya membuat UU malah masih buta huruf fungsional.I ni salah satu faktor yang menyebabkan banyak tertundanya pembahasan UU di DPR.

Adi Ketu, Pegiat Sosial-Budaya

Facebook Comments