Ada Kejayaan Bangsa di Balik Panggung Indonesia

Bagikan artikel ini

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Titip Pointers Geopolitik untuk Capres/Cawapres

Kumpulan huruf disebut “kata,” di dalam kata ada “arti”. Untaian kata ialah “kalimat,” di sana ada “maksud”. Rangkaian kalimat disebut “paragraf,” di dalamnya terdapat “makna”. Susunan paragraf disebut “narasi,” dan di dalam narasi ada “agenda,” baik itu hidden (tersembunyi) agenda maupun agenda terbuka. Sekumpulan agenda disebut “skenario,” dan di dalamnya berisi “tujuan”. Inilah prolog catatan kecil ini.

Jadi, anatominya adalah sebagai berikut:

1) kata – arti
2) kalimat – maksud
3) paragraf – makna
4) narasi – agenda
5) skenario – tujuan, dan seterusnya

Terkait prolog di atas, bahwa carut-marut dan kompleksitas permasalahan bangsa ini, satu diantaranya diakibatkan para elit politik dan perumus kebijakan gagal membagun narasi yang berisi agenda-agenda strategis bangsa. Misalnya, bagaimana narasi guna mewujudkan agenda kedaulatan pangan; atau apa agenda dalam rangka menjamin narasi pasokan oil dan gas agar terwujud kemandirian energi? Dan lain-lain.

Dalam praktik, dinamika serta kegaduhan politik di Tanah Air terjebak pada (skenario) politik glamour. Memang terlìhat mewah di atas permukaan tetapi tidak memiliki narasi yang mengakomodir agenda-agenda strategis bangsa. Akibatnya, tujuan negara sebagaimana tertuang di pembukaan UUD 1945 justru terlupakan. Para elit politik abai untuk membuat narasi siapa musuh bersama yang menyebabkan kemiskinan tak bertepi. Perumus kebijakan lalai membuat agenda-agenda guna mewujudkan kedaulatan pangan dan energi. Mereka bias menemukan dari mana titik berangkat, apa nilai bersamanya, titik temu, dan lain-lain. Yang terjadi kini, jebakan politik glamour membuahkan agenda provokasi, tebar propaganda, bully, saling menjatuhkan sesama anak bangsa, dst. Sampai kapan? Sedang negeri agraris ini hanya dua musim serta bercurah hujan tinggi, kenapa mesti impor berbagai sembako yang berlimpah-ruah: Indonesia merupakan ring of fire yang meniscayakan kaya akan aneka tambang, kenapa harus impor gas dan minyak: negeri dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, mengapa mesti impor ikan dan garam; negeri kita merupakan lintasan sealane of communication (SLOC), jalur pelayaran dunia yang tidak pernah sepi serta memiliki empat selat strategis dari tujuh selat strategis yang ada di dunia, kenapa kita berdaya tawar rendah di panggung global? Retorika ini ada makna, perlu agenda, butuh narasi dan skenario untuk meraihnya

Seyogianya kegaduhan politik segenap anak bangsa adalah kesibukan guna menciptakan narasi berdasar kondisi (takdir) geopolitk di atas tadi. Apa agenda, bagaimana skenario, dan seterusnya guna meraìh “tujuan negara” sebagaimana tersurat jelas dalam pembukaan UUD 1945.

Teringat ucapan leluhur dulu, dimana inti pokoknya bahwa pertahanan negara akan maksimal bila berdasar geopolitik (Bung Karno, 1955). Dan Pak Dirman berpesan, “Pertahankan rumah serta pekarangan kita sekalian” (1947). Pertanyaannya adalah, sudahkah kita mempertahankan, memberdayakan dan mengoptimalkan takdir geopolitik yang melekat atas rahmat Tuhan YME terhadap bangsa ini?

Cuitan singkat tidak ada maksud mengkritisi dan/atau menggurui siapapun terutama para pakar dan pihak yang berkompeten. Sekadar sumbangsih pemikiran anak bangsa atas kondisi faktual yang ada.

Terima kasih

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com