Agenda Tersembunyi Trump di Balik Dukungan Terbuka Terhadap “Presiden Boneka” Venezuela Juan Guaido

Bagikan artikel ini

Nikolas Maduro, ahli waris dan penerus mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez, rupanya semakin menghkwatirkan bagi Amerika Serikat, khususnya Presiden Donald Trump dan kelompok sayap kanan Partai Republik.  Sehingga mendorong sosok baru sebagai “presiden boneka” untuk menggusur Maduro. Juan Guaido, seorang sarjana lulusan Amerika berusia 35 tahun.

Menariknya, seperti dilansir oleh situs berita https://www.strategic-culture.org/news/2019/02/13/president-guaido-neocon-tool-unlocking-venezuela-vast-resources.html , 80 persen warga Venezuela belum mengenal siapa sesungguhnya sosok yang diplot Washington sebagai kepala pemerintahan peralihan menyusul kontroversi hasil pemilu presiden Venezuela yang berlangsung belum lama ini.

Jika mencermati modus operandi yang dimainkan Amerika dan beberapa negara Amerika Latin yang berhasil digalang dalam persekutuan menggulingkan Maduro, nampaknya mirip dengan yang terjadi di Ukraina pada 2014 lalu.

Ketika Presiden Viktor Yanukovich digulingkan melalui persekongkolan antar-partai di parlemen, kemudian memunculkan Presiden Viktor Poroshenko sebagai presiden baru Ukraina yang didukung AS dan beberapa negara Uni Eropa seperti Jerman. Adapun motifnya pun sama. Demi untuk menguasai kekayaan alam Ukraina dan Venezuela, lantas memaksakan tampilnya “pemerintahan boneka” untuk mengamankan sphere of influence atau wilayah pengaruhnya di kedua negara tersebut.

Pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump nampaknya memang cukup agresif mendorong berbagai elemen masyarakat di Venezuela untuk menggusur Presiden Maduro secepatnya dari tampuk kekuasaan. Khususnya elemen-elemen sayap kanan Partai Republik pendukung Presiden Trump. Bahkan mendorong militer Venezuela berdiri di belakang Juan Guaido.

Campur tangan pemerintah AS semakin terang-benderang ketika pada 22 Januari lalu, Wakil Presiden Mike Pence yang juga berhaluan kanan radikal, menyatakan: “Nikolas Maduro adalah seorang diktator, dan tidak punya legitimasi kekuasaan. Dia tidak pernah memenangi pemilihan presiden yang bebas dan adil. Dia mempertahankan kekuasaannya dengan memenjarakan orang-orang yang berani melawannya.”

Campur tangan transparan dan tanpa-tedeng aling-aling dari Wakil Presiden Mike Pence itu, rupanya dibaca sebagai “kode keras” bagi Juan Guido dan kelompok-kelompok oposisi agar berani mengambil sikap frontal. Maka sehari kemudian, Guaido menyatakan diri sebagai kepala pemerintahan peralihan Venezuela.

Lebih krusial lagi, ketika kemudian Presiden Trump mengenakan sanksi terhadap perusahaan milik negara PDVSA, yang sangat beraroma pemerasan. Trump menyerukan akan mencabut sanksi terhadap PDVSA segera setelah Caracas menyerahkan kewenangan PDVSA kepada pihak oposisi.

Selain penguasaan kepemilikan minyak, Washington nampaknya punya sasaran lain yang tak kalah strategis di balik dukungannya kepada Guaido. Yaitu mendikte arah kebijakan ekonomi Venezuela. Tak lama berselang sejak Guaido menyatakan diri sebagai ‘presiden ad interim’, Gedung Putih memunculkan, satu lagi aktor baru sekaligus proxy agent-nya, yaitu pakar ekonomi sekaligus guru besar Universitas Harvard, Ricardo Haussman, sebagai penasehat ekonomi Juan Guaido.

Belum jelas apa agenda tersembunyi Trump di balik manuvernya yang begitu blak-blakan mendukung kelompok oposisi yang berpusat pada diri Juan Guaido. Sebagai pengusaha yang cukup cerdik dan licin, Trump mungkin bermaksud memanfaatkan instabilitas politik di Venezuela dengan adanya dualisme kepemimpinan saat ini, agar punya posisi tawar yang cukup kuat dalam perundingan dengan Presiden Maduro yang saat ini sepertinya masih mendapat dukungan cukup kuat di dalam negeri.

Namun dengan cara seperti itu, Trump dan Gedung Putih bermain penuh resiko, apalagi di tengah semakin meningkatnya kembali perlombaan senjata nuklir antar-negara adikuasa menyusul pembatalan sepihak Intermediate Range Nuclear Force (INF) pada awal Februari lalu.

Apalagi 86 persen rakyat Venezuela sama sekali tidak menghendaki kudeta model penggulingan terhadap Muammar Khadafi terulang kembali di Venezuela. Sehingga ketika AS memaksakan kehendaknya untuk campur tangan mendudukkan Guaido, dikhawatirkan akan memicu perang saudara seperti di Libya. Ketika skenario Arab Spring gagal menggusur Khadafi seperti berhasil mereka lakukan terhadap Ben Ali di Tunisia dan Hosni Mobarak di Mesir.

Situasi dualisme kepemimpinan di Venezuela semakin runyam ketika Guaido menyatakan akan meminta bantuan AS untuk melancarkan intervensi militer ke Venezuela. Barang tentu hal tersebut semakin memperjelas bahwa Amerika memang bermain di balik aksi Guaido dan kelompok-kelompok opoosisi.

Baca Juga: 

President’ Juan Guaido, a Neocon Tool for Unlocking Venezuela’s Vast Resources

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute.

Facebook Comments