Akankah AS Hambat Ekonomi Cina Melalui USMCA?

Bagikan artikel ini

 

 

 

 

 

 

TheGlobal-Review.com

Di bawah presiden seorang Donald John Trump, kini AS menjelma menjadi sebuah negara yang terkesan mengedepankan kebijakan ekonomi proteksionis. Kebijakan ekonomi Trump ini tentu mengundang banyak tanda tanya, jika kemudian yang menjadi tolok ukurnya adalah bagaimana faktor idiosinkratik atau figur seorang Trump yang berlatar belakang sebagai pembisnis terkemuka AS. Tentunya, di atas kertas, Trump akan bersifat ‘terbuka’ dan pastinya melanggengkan sistem ekonomi kapitalisme-neoliberalisme dalam setiap interaksi ekonomi-keuangan internasional.

Yang teranyar dengan adanya fenomena US-China trade war, lalu kemudian sifat kapitalisme berbasis korporasi yang selama ini menjadi tren ekonomi ala AS berubah kecenderungannya menjadi kapitalisme yang berbasis negara atau state based capitalism. Yaitu negara ikut mengintervensi aktifitas ekonomi dengan membuat regulasi yang dapat mengganggu jalannya dinamika moneter global dan turut berimbas pada sentimen pasar. Dan dalam konteks persaingan antar kedua negara ini, Trump berspekulatif dengan pengenaan tarif (proteksionis) dari yang sebelumnya atas barang-barang impor Cina.

Selain daripada itu, tepatnya kalau mengingat sebelum fenomena trade war ini. Pasca dilantik bulan Januari 2017 lalu, presiden AS yang ke-45 itu langsung merestorasi ekonomi AS di kancah internasional dengan beberapa gebrakan. Setidaknya, bisa dunia saksikan ketika arogannya seorang Trump melepas keanggotan AS dari pakta ekonomi Asia Pasifik atau Trans Pacific Partnerships (TPP). Sontak tindakan tersebut mendapat respon beragam dari para pengamat ekonomi internasional. Jika mengingat kehadiran TPP ini menjadi sangat penting bagi pemerintahan Obama kala itu, supaya mampu mengimbangi supremasi ekonomi Cina di kawasan Asia Pasifik – yang dengan RCEP-nya atau Regional Comprehensive Economic Partnerships. Lalu, apa kiranya gebrakan Trump setelah itu? Dan disinilah konsen tulisan kali ini.

Habis TPP, terbitlah UMSCA

Kini, setelah hengkangnya AS dari salah satu perjanjian ekonomi terbesar se-Asia Pasifik itu, lantas Trump meramu sebuah formula baru. Adalah USMCA atau United States Mexico Canada Agreement yang baru diluncurkan di penghujung September lalu. Kerjasama ekonomi trilateral ini digadang-gadang menjadi kelanjutan dan wajah baru dari NAFTA atau North America Free Trade Area yang sudah terbentuk hampir 25 tahun lamanya.

Yang menarik, USMCA ini diklaim AS sebagai salah satu manuver demi mengganjal bahkan dapat mengisolasi kekuatan ekonomi Cina. Hal ini senada dengan apa yang menjadi analisa Arkady Savitsky dalam tulisannya di strategic-culture.org. Tulisnya dalam artikel yang bertajuk USMCA: New Economic Alliance Formed to Isolate China, menyebut bahwa “This is (USMCA) a major threat to Beijing’s position within the global trading system”.

Menurut Savitsky, ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Pertama, adanya klausul dalam perjanjian yang mengikat baik Kanada maupun Meksiko agar tidak menjalin kerjasama ekonomi dengan Cina. Melalui klausul demkian, khususnya ketergantungan hubungan ekonomi Kanada dengan Cina akan dapat diredam sementara, bahkan berpotensi terputus. Mengingat pemerintahan Ottawa menempatkan Cina sebagai negara ke-2 terpenting dalam aspek hubungan kerjasama ekonomi.

Setidaknya, menurut China Global Investments Tracker (CGIT) yang menyebut total investasi Cina dalam dua tahun terakhir mencapai lebih dari US$ 1,6 triliun yang terbagi dalam bidang konstruksi dan investasi langsung atau Foreign Direct Investments (FDI). Di mana Kanada mendapat porsi yang cukup signifikan dari angka investasi tersebut.

Atas klausul perjanjian yang terlihat menjadi ‘ambisi pribadi’ AS itu, lalu juga masa depan keanggotaan Kanada pun dalam AIIB atau Asian Infrastructure Investments Bank (yang notabenenya sebagai bank dunia versi Cina) akan turut dipertanyakan. Karena suka tidak suka, Justin Trudeau (Perdana menteri Kanada) hendaknya mengikuti aturan main dalam USMCA. Sampai pada konteks ini, tentu akan berdampak bagi  legitimasi ekonomi Cina atas Kanada, yaitu hilangnya pengaruh.

Kedua, AS pun menganggap Kanada sebagai mitra strategis untuk membendung pengaruh Cina. Karena keterlibatan Kanada sebagai salah satu member dalam Comprehensive Economic and Trade Agreement atau CETA. Yaitu perjanjian perdagangan bebas antara Kanada dan Uni Eropa yang sudah terbentuk sejak 2014 lalu.

Dengan masuknya Kanada dalam CETA, maka pengaruh AS (melalui sekutunya Kanada) guna meredam ambisi The China’s Belt and Road Initiative (BRI) jalur Eropa bakal menjadi hambatan berarti bagi Xi Jinping. Hal ini disadari Trump dengan melihat hubungan Kanada-AS yang bersifat depedensi sebagai perwujudan perbedaan kapabilitas power antar kedua negara tersebut.

Dan yang terakhir, baik Kanada dan Meksiko merupakan negara partisan dalam TPP. Hal ini menjadi menarik bagi AS ketika dua sekutunya itu bisa menjadi jembatan masuk kembalinya AS bergabung dalam TPP. Jika hal ini terjadi, maka AS akan tampil dengan ‘formula baru’ lewat sederet strategi yang lebih matang demi mengamankan kepentingan ekonomi-politik di Asia Pasifik. Karena di seberang jalan, Cina dengan ambisi BRI dan amunisi RCEP-nya siap menjadi pesaing utama Washington.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa USMCA ini dipersiapkan oleh Trump agar dapat menghambat laju ekonomi Cina dengan memanfaatkan geopolitik Kanada dan Meksiko dalam konteks meredam pengaruh BRI jalur Eropa dan Asia Pasifik. Oleh karenanya, menjadi menarik tatkala melihat sejauh mana kelanggengan USMCA ini – yang menjadi satu dari sekian manuver seorang Trump agar dapat menyaingi pesaing Timur-nya itu. Just wait and see.

Rohman Wibowo, Junior Research Associate Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments