Amerika Serikat Manfaatkan Proyek GMO untuk Kuasai Monopoli Sektor Pertanian Indonesia

Bagikan artikel ini

Sektor pertanian Indonesia saat ini sedang dijadikan sasaran dua korporasi multinasional bidang Agro Ekonomi: Monsanto dan PT Dupont. Tujuannya, menguasai monopoli bisnis pertanian Indonesia melalui Proyek Genetically Modified Organism atau dikenal dengan sebutan GMO.

Kalau dulu Indonesia sempat dikejutkan dengan adanya Namru-2 sebagai proyek militer-intelijen Amerika Serikat yang tersamar melalui kerjasama dengan Kementerian Kesehatan, maka kali ini nampaknya kita harus mewaspadai suatu proyek yang sama berbahayanya dengan Namru-2 AS. Yaitu yang dikenal dengan sebutan Genetically Modified Organism atau GMO.
Sebelum kita telisik lebih jauh bahaya dari GMO ini, ada baiknya saya jelaskan dulu apa itu GMO. Dari beberapa sumber, GMO dijelaskan sebagai berikut: “is a plant, animal, microorganism or other organism whose genetic makeup has been modified using recombinant DNA methods (also called gene splicing), gene modification or transgenic technology. This relatively new science creates unstable combinations of plant, animal, bacterial and viral genes that do not occur in nature or through traditional crossbreeding methods.”
Dengan kata lain, GMO pada hakekatnya merupakan sebuah teknologi pengubahan susunan genetik dan organisme yang dilakukan dengan menggabungkan gen dari organisme yang berbeda atau yang kita kenal dengan teknologi kombinasi DNA. Dan organisme hasil penggabungan tersebut kemudian disebut genetically modified. Jadi ini semacam rekayasa genetika atau transgenik.
Adapun definisi menurut World Health Organization (WHO), GMO digambarkan produk rekasaya genetika yang mana organisme yang telah mengalami perubahan DNA-nya dengan menggunakan bioteknologi modern, sehingga kemudian menghasilkan suatu organisme atau produk yang berbeda dengan produk alamiahnya, sehingga memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan produk alamiahnya.
Dengan demikian, Genetically Modified Organism atau organisme transgenik sejatinya merupakan organisme yang telah mengalami modifikasi bahan genetic, sehingga secara sederhana semua organisme merupakan GMO, karena dalam proses reproduksinya terjadi percampuran bahan genetic kedua induknya.
Segi penting yang perlu kita jadikan pokok bahasan adalah, bahwa saat ini penggunaan GMO, karena beberapa kelebihan yang didapatkan pada produk ini, telah meluas, terutama di bidang pertanian. Karena beberapa produk pertanian yang menggunakan GMO, terbukti bisa bertahan dari serangan hama. Bahkan mampu betahan dari serangan berbagai macam penyakit. Sehingga tidak mengherankan jika GMO dipandang mempunyai nilai bisnis yang cukup tinggi di sektor agro-ekonomi dan agro-bisnis.
Apalagi menurut klaim beberapa kalangan ahli, penggunaan GMO berpotensi menjadi solusi untuk mengatasi krisis pangan dan kependudukan yang melanda dunia dewasa ini.
Namun demikian, sis rawan dari GMO ini adalah dapat menggantu keseimbangan lingkungan. Sehimgga isu penggunaan GMO di Indonesia tetap mengundang kontroversi hingga sekarang.
Amerika Serikat Memanfaatkan GMO Untuk Memonopoligi Pasar di Sektor Agro-Ekonomi dan Agro-Bisnis
Yang patut kita sayangkan di Indonesia, masalah GMO semata-mata hanya dilihat segi keuntungannya dalam pemgembangan industri agro ekonomi (Ekonomi Pertanian), sehigga mengabaikan adanya faktor ancaman merembesnya kepentingan-kepentingan korporasi multinasional yang bergerak di bidang Agro Ekonomi yang sepenuhnya mendapat dukungan dari Pemerintahan Amerika Serikat, untuk memonopoli pasar Agro Ekonomi di Indonesia.
Sebenarnya sudah beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Amerika Serikat telah menggunakan beberapa negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sebagai tempat untuk melakukan eksperimen (percobaan) Poligon GMO.
Salah satu korporasi multinasional bidang Agro Ekonomi yang sangat intensif melakukan lobi-lobi ke kalangan pemerintah Indonesia, yang bertujuan untuk mendapatkan hak-hak istimewa adalah Monsanto dan PT Dupont. Kedua Korporasi Multinasional yang bergerak di bidang Agro Ekonomi, nampaknya berkeinginan untuk memperoleh hak-hak istimewa seperti yang pernah diperoleh dua perusahaan tambang asing yaitu Freeport dan Newmont.
Adapun modus yang dilakukan kedua korporasi multniasional asing tersebut adalah modus korupsi. Bahkan PT Dupont, beberapa waktu berselang, sempat mengadakan sebuah seminar di Bali, dengan megundang beberapa pejabat tinggi penting pemerintahan Presiden Jokowi-JK. Yang bisa dipastikan melalui modus penyelenggaraan seminar tersebut, PT Dupont telah menyuap para petinggi pemerintah Indonesia, dengan harapan para pejabat pemerintah kita tersebut akan memberikan konsesi-konsesi yang menguntungkan bagi kedua korporasi multinasional tersebut: Monsanto dan PT Dupont.
Untuk itu, sudah seharusnya para stakeholders (Pemangku Kepentingan) bidang Politik dan keamanan Indonesia, memandang hal ini sebagai gejala yang membahayakan keamanan nasional Indonesia. Karena melalui indikasi sepak-terjang dan manuver kedua korporasi asing tersebut, nampak jelas bahwa Indonesia sedang menjadi sasaran proyek GMO Amerika Serikat. Sebagaimana terlihat melalui manuver Monsanto dan PT Dupont.
Nampaknya, benarlah ungkapan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Seikat Henry Kissinger, bahwa jika Amerika ingin menguasai rakyat suatu negara, maka kuasailah sektor pangan. Dan itu berarti menguasai sektor Agro Ekonomi.
Sudah menjadi skema kapitalisme global Amerika sejak berakhirnya Perang Dunia II, bahwa penetrasi modal asing terhadap suatu negara, termasuk Indonesia, dilancarkan oleh beberapa korporasi multinasional yang sepenuhnya mendapat dukungan dari pemerintahan di Gedung Putih. Seperti di sektor minyak melalui ExxonMobil, di sektor pertambangan Freeport, dan di sektor Agro Ekonomi melalui Monsanto dan Dupont.
Maka itu, pemerintah dan  berbagai komponen strategis bangsa, khususnya yang menaruh perhatian pada bidang ekonomi, kebijakan luar negeri dan keamanan nasional, harus semakin meningkatkan kewaspadaannya. Dan mencegah agar monopoli korporasi asing terhadap sektor strategis Indonesia, khususnya bidang pertanian, jangan sampai terjadi.
Penulis: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments