Cina-India (Cindia): Membangun Kekuatan Triumvirat Asia (Bagian Terakhir)

Bagikan artikel ini

Menyambung tulisan sebelumnya, kini bahasan lanjutan dimulai eksistensi Cina-India di tengah pergeseran geopolitik dunia.

Pergeseran Peta Geopolitik Dunia

Ketika Cindia menginjakkan kakinya sebagai pemain ekonomi kelas dunia melalui revolusi industrinya, kepentingan mereka terhadap kebutuhan barang tambang dan ladang minyak meroket tajam. Rasa haus Cindia terhadap minyak bumi telah pula menyebabkan terjadinya perpindahan konstelasi aliansi kekuatan politik di dunia.[31]

Perburuan Ladang Minyak

Dengan jumlah impor sekitar 6,9 juta barel perhari, kini Cina menempati peringkat kedua sebagai pengkonsumsi minyak dunia terbesar setelah Amerika Serikat (20,6 juta barel perhari). Sementara itu, India telah menggunakan jumlah yang hampir sama dengan negara Jerman yakni sebesar 2,6 juta barel perhari.[32] Memasuki tahun 2015, Cina diprediksi membutuhkan sedikitnya 8 persen dari cadangan minyak bumi dunia.

Dalam bukunya yang berjudul The World is Flat, Thomas L. Friedman beragumentasi bahwa kebijakan Cina saat ini terfokus menjadi dua tujuan utama, yaitu mencegah Taiwan memperoleh kemerdekaannya dan perburuan terhadap ladang minyak bumi. Jika pertumbuhan ekonomi Cina berjalan normal, lanjutnya, maka Cina diperkirakan akan mengimpor sebesar 14 juta barel minyak perhari pada tahun 2012. Untuk mengakomodasi pemenuhan tersebut, tidak ada alternatif cara selain menemukan negara-negara semacam Arab Saudi lainnya di muka bumi.[33]

Di tahun 2004, salah satu perusahaan minyak terbesar Cina yang dimiliki oleh negara, China National Offshore Oil Corporation (CNOOC), memperlihatkan ambisinya untuk menguasai minyak dunia dengan melakukan penawaran sebesar US$ 20 miliar untuk membeli perusahaan minyak raksasa Amerika Serikat, Unocal.

Namun tawaran tersebut akhirnya ditolak oleh Congress Amerika Serikat dengan alasan bahwa penawaran tersebut merupakan suatu bentuk ancaman nasional terhadap pertahanan energi domestik Amerika. Selang beberapa bulan berikutnya, perusahaan penghasil minyak dan gas Cina lainnya, China National Petroleum Corporation (CNPC), membeli perusahaan miyak raksasa milik Kanada, PetroKazakhstan, sebesar US$ 4.2 miliar.[34]

Pemimpin Cina juga begitu agresif melakukan kerjasama impor minyak dengan negara-negara Afrika, seperti Angola, Nigeria, dan negara Amerika Selatan, khususnya Argentina dan negara Venezuela yang dipimpin oleh Hugo Chavez, Presiden beraliran kiri yang sangat anti terhadap Amerika Serikat.[35]

Untuk mengamankan penyediaan minyak bumi, gas alam, dan sumber-sumber lain guna menjaga laju pertumbuhan ekonominya, Cina dan India telah melakukan perjanjian khusus antarnegara mulai dari Sudan, Iran, hingga Myanmar. Bahkan, India pun harus bersikap lunak terhadap musuh bebuyutannya sendiri, Pakistan, mengingat beberapa jalur pipa minyak dari negara lain yang masuk ke India harus melewati wilayah Pakistan.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila dalam beberapa forum internasional, baik Cina maupun India selalu menjadi oposisi keputusan sidang atau setidaknya bersikap lamban terhadap keputusan-keputusan yang dapat mempengaruhi kondisi sosial-politik negara-negara pensuplai minyak bagi negaranya. Untuk menyebut beberapa konflik di antaranya, yaitu kasus kekerasan militer di Myanmar, sengketa program pengayaan nuklir di Iran, dan kejahatan genosida di Darfur oleh Sudan.

Geopolitik Asia

Pada bulan Februari 2007 yang lalu, Menteri Luar Negeri dari tiga raksasa dunia, yakni Rusia, Cina, dan India bertemu di New Delhi untuk melakukan aliansi kerjasama untuk mempromosikan perdamaian internasional, kemakmuran, dan persamaan negara-negara dunia. Menurut kacamata analisa Madhava D. Nalapat, Direktur dari The School of Geopolitics, Manipcal Academy of Higher Education, aliansi tersebut mempunyai tiga tujuan bersama yang ingin dicapai, yaitu:

Seluruh negara Asia memiliki kemandirian untuk menempuh jalan dan caranya masing-masing dalam hal pembangunan politik, ekonomi, dan sosial tanpa adanya tekanan ataupun intervensi dari siapapun;
Tidak ada satu negara pun yang dapat mendominasi Asia ataupun benua lainnya, termasuk berlaku juga bagi ketiga penandatangan kerjasama tersebut; Keseimbangan tata dunia harus dibangun dengan menciptakan iklim kerjasama yang sehat, terutama dengan menghindari terjadinya konfrontasi dalam hubungan antarnegara.[36]

Lebih lanjut, Napalan mengungkapkan bahwa aliansi ini dibentuk sebagai respon atas terjadinya hegemoni dari negara-negara barat yang terjadi selama ini. Namun demikian, peta geopolitik Asia sendiri cukuplah rumit untuk digambarkan hanya dengan sekedar menjelaskan kebijakan anti-Barat yang sebenarnya cukup bias. Sebagai contoh, hingga saat ini antara India dan Amerika Serikat merupakan “teman akrab” di berbagai sektor kerjasama, dan Uni Eropa justru semakin memperlihatkan hubungan yang lebih erat dengan Cina maupun India.

Dalam kerangka yang lebih luas, Odded Shenkar melihat bahwa Cina saat ini sedang berevolusi dari kekuatan ekonomi global menjadi kekuatan geopolitik internasional di masa yang akan datang. Dalam beberapa kurun waktu ke depan, Cina bukan saja akan berperan menjadi tuan rumah dari pasar Asia yang menjadi pesaing terberat dari perekonomian Eropa dan Amerika, tetapi juga Cina akan menjadi “broker” dan “arbiter” dalam hal hubungan diplomasi internasional bagi negara-negara di dunia.

Peningkatan militer Cina yang begitu mengesankan akan menjadi faktor penyeimbang dari dominasi tua yang dibangun oleh negara barat. Pemain tunggal politik kelas dunia kini akan menemukan sparing partner baru yang cukup menjanjikan. [37]

Posisi aman dan nyaman dalam pentas geopolitik dunia, kini amatlah dinikmati oleh India setelah memperoleh angin segar dari para pemimpin Amerika Serikat. Untuk kali pertamanya, pemerintahan George W. Bush melakukan kebijakan yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para pendahulunya. Pada bulan Maret 2005, Bush mengunjungi New Delhi guna menandatangani perjanjian yang cukup kontroversial yaitu kesediaan Amerika Serikat dalam penyediaan teknologi pengembangan program energi nuklir untuk India, sebuah negara yang tidak pernah berkeinginan untuk menandatangani Nuclear Non-Proliferation Treaty (1968).

Majalah The Economist menjuluki perjanjian tersebut sebagai “Dr. Strangedeal”.[38] Pendekatan Amerika kepada India merupakan tindak lanjut dari laporan CIA yang mengidentifikasi India sebagai “the key swing state” di abad ke-21. Dalam konteks tersebut, Amerika Serikat bermaksud untuk memperkuat India sebagai bentuk counterbalancing terhadap pengaruh Cina di Asia dan negara dunia lainnya.[39]

Akan tetapi rencana Amerika ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan apabila kita melihat kenyataan yang begitu kontras bahwa India tidak ingin menjalankan perannya sekedar menjadi negara penyeimbang bagi Cina. Selain menjalin hubungan baik terhadap Cina maupun Amerika Serikat, India juga menjaga jarak atas kemungkinan terjadinya intervensi kebijakan yang datang dari keduanya.

Sebagai contoh, India selalu menghindar ketika Washington berulang kali memintanya agar dapat bergabung dalam “the coalition of the wiling”. Puncak dari ketidakberdayaan Amerika Serikat terlihat ketika India justru semakin mempererat hubungan kerjasamanya dengan Iran, negara yang dimasukan dalam kelompok “Axis of Evil” oleh Presiden Bush. Mengutip perumpanan yang digunakan oleh Edward Luce, India kini sedang menikmati “the triangular dance”.[40]

Perang Dingin

Melihat kondisi geopolitik yang berkembang saat ini, maka dalam jangka waktu yang tidak lama lagi kita semua akan melihat terbentukanya kekuatan tripolar ekonomi-politik dunia di bawah bendera Amerika Serikat, Cina, dan India.[41] Pertanyaannya sekarang adalah, akankah negara-negara tersebut menciptakan terjadinya perang dingin (cold war) episode kedua?

Di masa yang akan datang, hemat penulis, pertarungan antarnegara bisa saja terjadi, tetapi bukanlah didasarkan atas ideologi, melainkan akibat pemenuhan kebutuhan sumber daya alam yang sangat terbatas.

Pada masa yang lalu Uni Soviet mempunyai kepentingan atas hancurnya ideologi kapitalisme, sedangkan saat ini baik Cina maupun India tidak lagi mempunyai kepentingan yang sama sebagaimana halnya Uni Soviet. Namun tidak menutup kemungkinan pula, apabila di kemudian hari tercipta kerjasama non-formal antara Cina, India dan negara lainnya, untuk secara tidak langsung menjatuhkan Amerika dan aliansinya dengan cara-cara yang lain.

Pan Mohamad Faiz (Peneliti LIPI)

 

Catatan kaki:

[31] Data yang dipaparkan oleh Organisation for Economic Coopearation and Development (OEDC) menunjukan bahwa setiap 1 persen pertambahan pada GDP suatu negara, maka akan meningkatkan permintaan kebutuhan minyak sebesar 0,5 persen.
[32] Data dihimpun berdasarkan laporan dari U.S. Departement of Energy, Energy Informatioan Administration yang tersedia pada http://www.eia.doe.gov/oil_gas/petroleum/info_glance/petroleum.html, diakses terakhir kali pada tanggal 21 Maret 2008.
[33] Lihat Thomas L. Friedman, The World Is Flat: A Brief History of the Tweny-First Century, Penguin Book, New Delhi, 2005.
[34] Ted Fishman, China Inc.: How the Rise of the Next Superpower Challenges America and the World, Scribner, edisi paperback, New Delhi, 2006, hal. 55.
[35] Dari tahun 2000-2005, Cina diperkirakan menghabiskan sekitar US$ 15 miliar untuk membeli saham dari lebih 100 perusahaan minyak asing sekaligus pengeksplorasian ladang mnyak di Amerika Selatan, Afrika dan Timur Tengah. Berdasarkan laporan China Daily (2006), impor minyak bumi Cina berasal 50 persen dari Timur-Tengah, 25 persen dari Afrika, khususnya berasal dari Angola, 15 persen dari Asia Tenggara, dan 10 persen dari Rusia dan negara-negara di Asia-Tengah.
[36] Madhav D. Nalapat, “Partnership for Peace, Prosperity, and Parity”, China Daily, 14 Februari 2007, hal. 11.
[37] Odded Shenkar, The Chinese Century: The Rising Chinese Economy and Its Impact on the Global Economy, The Balance of Power, and Your Job, Whartoon School Publishing, 2006, hal. 162.
[38] Lihat “George W. Bush in Dr. Strangedeal”, The Economist, edisi 22-27 Maret 2006.
[39] Perhatikan butir-butir kerjasama militer antara Amerika Serikat dan India yang dikeluarkan oleh Pentagaon pada Oktober 2002 dalam laporannya yang berjudul, “The Indo-US Military Relationship: Expectation and Perceptions”.
[40] Edward Luce, In Spite of the Gods: The Strange Rise of Modern India, Doubleday, 2007.
[41] Arvind Virmani, A Tripolar Century: USA, China and India, Working Paper No 160, Indian Council for Research on International Economic Relation, Maret 2005.

 

Facebook Comments