Antara Chavez dan Ahmadinejad (by Bill Van Auken)

Bagikan artikel ini

Dina Y. Sulaeman

Saat dunia beramai-ramai melakukan pembunuhan karakter terhadap Ahmadinejad dan pemerintahan Islam Iran, luar biasa, yang tampil sebagai pembela terdepan justru seorang Nasrani dari Amerika Latin: Hugo Chavez.

Chavez, tujuh tahun yang lalu, juga pernah mengalami hal serupa Ahmadinejad. Dia mengalami pembunuhan karakter yang dilakukan oleh media-media mainstream AS. Saat itu, sebagaimana juga sekarang, standar objektivitas jurnalistik telah dibuang lewat jendela. Chavez difitnah. Sementara lawannya, yang sebagian besar terdiri dari kaum oligarki Venezuela dan kalangan menengah ke atas, dicitrakan sebagai pejuang demokrasi. Pernyataan dari pihak oposisi dilaporkan sebagai fakta dan diperlakukan dengan penuh respek, sementara pernyataan dari pihak pemerintah dicemooh.

Mari kita lihat beberapa kutipan dari New York Times antara Maret-April 2002. Pada 26 Maret, New York Times menulis, “Para pegawai (pemerintahan) pemberontak telah memberi energi bagi gerakan oposisi yang terpecah-pecah namun terus tumbuh, yang menggunakan protes regular di jalanan untuk melemahkan Chavez yang memiliki gaya aristocrat dan memiliki kebijakan sayap kiri yang telah menindas orang-orang yang jumlahnya terus bertambah.”

New York Times juga mengutip pernyataan kelompok oposan, “Masalah ini hanya bisa dilakukan dengan pengunduran diri presiden..Ini adalah pilihan antara demokrasi dan kediktatoran. “Persis seperti citra yang dibangun media Barat tentang Iran: demokrasi melawan kediktatoran. Media barat juga mengabaikan fakta bahwa kemenangan Chavez dalam pemilu –sama seperti kemenangan Ahmadinejad– dia mendapatkan suara di atas 60% yang sebagian besaar datang dari kawasan pinggiran dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Di Venezuela saat itu juga terjadi kekerasan. Ketika penembak gelap menembaki masa oposisi yang sedang demo, di depan istana kepresidenan Miraflores –komposisi para demonstran sangat mirip dalam hal jumlah dan kelas social dengan komposisi demo di jalanan Iran– dosa atas tewasnya 19 orang yang tewas dalam kejadian itu semua dilemparkan kepada aparat keamanan pemerintah atau pendukung Chavez yang bersenjata.

Padahal kemudian terungkap data bahwa sejumlah yang tewas justru berasal dari kerumunan massa pendukung Chávez dan tembakan2 itu berasal dari angkatan kepolisian Caracas, yang loyal pada Alfredo Peña, oposisi keras pada presiden Chavez; Pena mendapat dukungan dari AS.

Dalam meliput kerusuhan ini, Times mewawancarai Peña, yang tentu saja, melemparkan semua kesalahan pada Chávez.

Tujuan dari semua aksi ini menjadi jelas, ketika akhirnya sekelompok militer, bersama dengan bisnismen besar Venezuela dan birokrat yang disponsori AS, bergabung dalam sebuah kudeta yang sesaat sempat menggulingkan Chávez. Times segera melaporkan kejadian ini dengan menulis, “Demokrasi Venezuela tidak lagi terancam oleh dictator.” Koran itu juga berkeras menyatakan bahwa Washington tidak memiliki peran dalam kudeta ini. “Penggulingan Chavez murni urusan dalam negeri Venezuela,” tulis Times.

Tidak ada yang lebih menjelaskan konsep demokrasi yang dimaksud oleh Times dan AS. Sebuah rezim yang dibangun melalui kudeta militer yang menggulingan sebuah pemerintahan hasil pemilu, disebut ‘demokratis’ sepanjang rezim itu sejalan dengan interes AS. Di Venezuela, dimana menyuplai 15 % minyak utk AS, kepentingan itu sangat jelas.

Klaim bahwa kudeta itu “murni dilakukan org Venezuela” adalah untuk menutupi oprasai destabilisasi di Negara itu yg dilakukan oleh AS, dimana New York Times memainkan peran yang sangat jelas.

Kudeta “demokratis” berlangsung hanya dua hari. Chávez kembali ke kursi kekuasaan setelah kaum miskin turun ke jalanan memrotes rezim baru.

Di Iran, the New York Times juga mengikuti skenario yang sama, namun dalam skala yang lebih besar.

*disarikan dari tulisan Bill Van Auken (http://wsws. org/articles/ 2009/jun2009/ prop-j24. shtml) oleh Dina Y. Sulaeman- http://dinasulaeman .wordpress. com

Facebook Comments