Antara Kontinjensi dan Sexy Killers

Bagikan artikel ini

lkisah sebuah entitas baik itu organisasi, kelompok, komunitas maupun organisme yang lahir, hidup, berkembang, menyusut dan mati, ketika ia dipimpin sosok buruk atau leadership yang lemah, maka seyogianya dikelilingi oleh (fungsi) staf dan para pembantu yang amanah, smart, handal dan seterusnya. Kalau tidak, niscaya akan muncul resistensi (penolakan) baik dari internal sendiri, atau warga dan/atau rakyat bahkan oleh lingkungan sekitarnya. Tetapi bagientitas “sexy killers“, misalnya, bahwa lemahnya leadership justru dianggap ‘anugerah’ dan cenderung dipertahankan agar mereka —the killers— selain langgeng menikmati privilage, juga bebas “menjarah” apa yang dikehendaki karena faktor kedudukan pada organisme dimaksud.

Kemudian untuk mempertahankan keadaan di atas, biasanya direkayasa sebuah situasi dan kondisi demi lestarinya posisi tersebut. Dan celakanya skenario pelestarian situasi tersebut justru dibuat justru oleh (staf pembantu) orang yang menjadi kepercayaannya, yang kerap disebut dengan istilah the real leaders. Adapun lazimnya langkah the sexy killers yang dikerjakan antara lain:

Pertama, lemahkan pihak lawan, musuh dan/atau oposisi dari sisi internal melalui taktik pecah belah;

Kedua, kacaukan perhatian publik dengan bombadier isu-isu hilir agar penolakan publik menjadi cair (tidak menggumpal menjadi sebuah power);

Ketiga, ketika penolakan publik telah mencair maka yang muncul sudah tentu bukan ombak tidak pula gelombang, tetapi hanya buih atau riak-riak kecil belaka;

Keempat, selanjutnya riak-riak tersebut dikelola supaya menjadi ombak kecil, namun pada porsi yang dapat dikendalikan. Kenapa? Selain agar seolah-olah ada dinamika namun tidak membahayakan, juga sewaktu-waktu, “ombak kecil” dapat diseting untuk kepentingan entitas dimaksud;

Kelima, pada saat tertentu, bisa diciptakan situasi dan kondisi (chaos misalnya) melalui “ombak kecil” agar dengan alasan itu –ada situasi kontinjensi– kepemimpinan terus berlanjut dengan menerbitkan instrumen kegentingan semacam keadaan darurat sipil, misalnya, atau terbitnya dekrit, dan seterusnya.

Itulah gambaran kondisi di sebuah entitas atau organisme apapun, kapanpun dan dimanapun akibat lemahnya leadership. Teringat ungkapan tua dari Inggris: “Fish rots from the head.” Ya, busuk ikan dimulai dari kepala.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments