Bait Sultan Al Malik Ash Shalih

Bagikan artikel ini

Salah satu bait Epigrafi yang terpahat di Batu Penanda Kubur milik Sultan Al Malik Ash Shalih (wafat pada 696 H/1297 M) sang pendiri Samudra Pasai ini terdapat inskripsi yang menyebutkan bahwa ia seorang yang bergelar “al- abid al-fâtih“, yang artinya kurang lebih bermakna “al- abid” (seorang ahli ibadah) “al-fâtih” atau sang Pembebas.

Bait ini mengingatkan kita kisah tentang prajurit Romawi yang telah melakukan kegiatan mata-mata terhadap karakter kaum muslimin di Madinah yang menemukan jawaban: “Ruhbaanun bil-laili, firsaanun binnahaar!”

Mereka, kaum muslimin itu, kalau malam tak ubahnya seperti rahib, sedangkan kalau siang bagaikan singa. Para sahabat dan generasi pertama Islam ini, mereka itu bagaikan singa di siang hari karena selalu berjihad fisabilillah dan di malam hari mereka menangis dan tekun beribadah melebihi kaum pendeta yang pekerjaanya hanya beribadah di dalam kuil saja.

Dalam inskripsi nisan Sultan Malik Ash Shalih ini juga terpahat gelar “An-Nâshih” yang artinya pemberi nasehat, yang mengajak, menyeru kepada menyembah Tuhan yang patut disembah dan berbuat kebaikan demi keselamatan di dunia dan akhirat..

Bait inskripsi ini seolah memberi informasi kepada kita bahwa peran seorang Sultan (Pemimpin Islam) pada masa itu adalah sebagai pemberi nasehat yang baik kepada rakyatnya. Sultan bukanlah penguasa seperti pemahaman Barat hari ini, tetapi tugas Sultan dimasa lalu adalah membimbing rakyatnya kepada ketaatan kepada Khaliknya.

Demikianlah sekelumit karakter umat ini di masa lalu.

Abu Bakar Bamuzaham, Network Associate Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments