Balkanisasi Nusantara itu di Depan Mata

Bagikan artikel ini

Abu Bakar Bamuzaham, Network Associate Global Future Institute (GFI)

No Lunch free!

Tidak ada makan siang yang gratis. Itu adalah rumus memahami gerak kaum Imeperialis. Tidak ada ceritanya dalam kamus mereka kata ikhlas atau sedekah. Tetapi yang ada adalah kuasai, monopoli lalu hisab seluruh SDA yang ada hingga kering kerontang. Tak peduli rakyat yang ada masih bisa bertahan hidup atau tidak. Itulah rumus memahami gerak mereka.

Maka patut di curigai ketika mereka (imperialis) menyanjung atau memberi penghargaan kepada umat Islam, karena pasti ada suatu agenda lanjutan dibalik penghargaan yang mereka berikan tersebut, yang ujungnya adalah melakukan kolonialisasi negara target.

Adapun polanya adalah pecah belah persatuan negara target, dan selanjutnya kotak-kotakan semua elemen yang ada hingga menjadi kelompok kecil-kecil.

Bagi mereka (Kaum Imperialis) memandang tantangan terberat untuk menguasai wilayah Nusantara adalah adanya Ukhuwah Islamiyyah yang telah erat terjalin di bumi Nusantara ini. Karena dengan adanya Ukhuwah Islamiyyah maka disana masih ada benih persatuan yang akan melawan praktek Imperialisme mereka di bumi Nusantara.

Sesuai dengan rekomendasi Rand Corporation, yang merupakan sebuah badan riset dan pengembangan strategis di Amerika yang dikenal sering melayani secara akademis kepentingan Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) dan atas dukungan dana dari Bilderberg pada tahun 1998 kepada Bill Clinton, memiliki agenda untuk memecah Indonesia menjadi 8 bagian, atau yang sering disebut dengan istilah Balkanisasi Nusantara.

Bilderberg hakikinya sama dengan Pemerintahan Satu Dunia (One World Government). Suatu kelompok rahasia yang terdiri dari para mantan presiden maupun presiden yang masih menjabat, perdana menteri, para banker internasional, para anggota teras kerajaan, serta orang-orang yang mengelola perang maupun pasar modal dan keuangan global.

Atas dasar rekomendasi itulah mereka berusaha dengan berbagai cara untuk memecah belah Ukhuwah Islamiyyah yang telah ada di Nusantara ini menjadi kelompok-kelompok kecil.

Adapun skenario mereka, pertama dengan cara memisahkan Islam dari induknya (Arab) dan seolah Islam itu produk lokal, dan hanya mengakui Islam Nusantara sebagai Islam Ideal yang patut diberi penghargaan. Adapun target lanjutannya adalah memecah belah kembali “Islam Nusantara” menjadi bagian-bagian kecil yang terdiri dari Islam Jawa, Islam Kudus, Islam Sunda dan sebagainya.

Kiranya perlu kita waspadai bersama geliat para proxy agents (tangan-tangan asing) yang bermain guna memicu pertentangan antar-warga, meniupkan isu perang sipil.

Para proxy dimaksud, biasanya — selain diperankan oleh LSM dan/atau organisasi massa (ormas) dimana sebelumnya menerima gelontoran dana asing dalam jumlah fantastis —no free lunch— sering pula melalui kompor (provokasi) media, baik media konvensional/cetak, online, terutama sekali media sosial (medsos).

Salam..

Referensi bacaan selanjutnya:
http://theglobal-review.com/bilderberg-group-rekomendasi-r…/

http://theglobal-review.com/waspadai-hadirnya-pasukan-asin…/

Facebook Comments