» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Bedah Buku
Menggugah Nasionalisme Keindonesiaan Aktivis Papua Saat Ini
Pengarang : Otjih Sewandarijatun

Resensi Buku

Judul Buku : Kembali ke Indonesia : Langkah, Pemikiran dan Keinginan

Penulis : Nicolaas Jouwe

Cetakan Pertama : Agustus 2013

Kata Pengantar : Drs. Sidarto Danusubroto, SH (Ketua MPR RI)

Penerbit : PT Pustaka Sinar Harapan dan Verbum Publishing

Tebal Buku : 116 halaman termasuk biodata penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun 


Lelaki kelahiran Jayapura, Papua pada 24 November 1923 ini dikenal sebagai satu-satunya orang yang mendesain bendera Bintang Kejora, dan ketika saat muda Nicolaas Jouwe untuk berhasil ditaklukan oleh bujuk rayu Belanda untuk melawan Indonesia. Namun, akhirnya lelaki ini menyadari kekeliruannya yang diawali dengan menyimak pidato Bung Karno pada Sidang Umum PBB berjudul “To Build the New World” pada 30 September 1960. Menurut Nicolaas Jouwe, pelariannya ke Belanda merupakan pilihan yang patut disesali. Namun, kini saya menyadari bahwa Papua merupakan bagian integral dari NKRI. Keputusan Nicolaas : “Saya kembali ke Indonesia”. Nicolaas yakin bersama pemerintah Indonesia, ia bisa ikut membantu membangun dan menyejahterakan masyarakat dan rakyat Papua (halaman ix).

Dalam kata pengantarnya, Ketua MPR-RI Sidarto Danusubroto mengatakan, dari buku ini dapat kita ketahui bagaimana Nicolaas “berjuang” hampir sepanjang usianya. Nyatanya apa yang dilakukannya itu, justru mengembalikannya pada identitas kebangsaannya semula : Indonesia tercinta. Negara tempat tanah kelahirannya, Papua, yang notabene provinsi yang tidak terpisahkan dari NKRI (halaman xii).

Kembalinya Nicolaas ke pangkuan Ibu Pertiwi, menggugah kita untuk lebih peduli terhadap persoalan utama yang perlu kita tanamkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu agar kita giat gotong royong, bahu-membahu, dan bekerja keras dengan sepenuh hati : menghadirkan Papua yang sejahtera. Itulah impian Nicolaas sesungguhnya. Impian itu merupakan impian kita semua sebagai anak bangsa, sebab impiah menyejahterakan Papua adalah bagian dari kerja besar kita dalam upaya menyejahterakan Indonesia secara keseluruhan.

Menurut Nicolaas Jouwe, saya melihat bahwa “Perhatian pemerintah Indonesia dan kondisi politik sudah berbeda terhadap Papua. Setelah melihat sendiri perkembangan tahap demi tahap, saya akhirnya percaya bahwa Pemerintah Indonesia sangat serius memperhatikan kesejahteraan masyarakat Papua” (halaman xvii).

Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan informasi akurat tentang sejarah Papua (yang kemungkinan aktivis-aktivis Papua saat ini yang tergabung dalam KNPB, WPCNL, OPM dll tidak mengetahuinya).

Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Sekitar 47% wilayah Papua merupakan bagian dari Indonesia, yang dikenal dengan Netherlands New Guinea, Irian Barat, West Irian, Irian Jaya dan Papua. Papua memiliki luas area sekitar 421.981 kilometer persegi dengan jumlah populasi penduduk hanya sekitar 2,3 juta jiwa. Lebih dari 70% wilayah Papua merupakan hamparan hutan hujan tropis yang sulit ditembus, karena terdiri dari lembah-lembah yang curam dan pegunungan tinggi, dan sebagian dari pegunungan tersebut diliputi oleh salju. Seperti juga bagian besar pulau-pulau di Pasifik Selatan lainnya, penduduk Papua berasal dari daratan Asia yang bermigrasi dengan menggunakan kapal laut. Migrasi itu dimulai sejak 30.000 hingga 50.000 tahun yang lalu, dan mengakibatkan mereka berada diluar peradaban Indonesia yang modern (halaman 3).

Para penjajah Eropa yang pertama kali datang ke Papua, menyebut penduduk setempat sebagai orang Melanesia. Kata Melanesia berasal dari kata Yunani, “Mela” artinya “Hitam”, karena kulit mereka berwarna gelap. Kemudian bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan juga bangsa Portugis yang berinteraksi secara dekat dengan penduduk Papua, menyebut mereka sebagai orang Papua. Dalam catatan yang tertulis di dalam kita Negara Kertagama, Papua juga termasuk dalam wilayah kerajaan Majapahit (1293-1520). Selain tertulis dalam kitab yang merupakan himpunan sejarah yang dibuat oleh pemerintahan Kerajaan Majapahit tersebut, masuknya Papua ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit juga tercantum di dalam kitab Prapanca yang disusun tahun 1365. Papua adalah sebagai bagian yang tidak terlepas dari jaringan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara yang berada di dalam kontrol kekuasaan kerajaan Majapahit (halaman 6-7).

Nama Papua sendiri diberikan oleh dua orang Portugis yang menemukan pulau ini pada tahun 1511-1513. Dua orang pelaut Portugis itu bernama Antonio d’ Abreu dan Francisco Serrano, meskipun mereka tidak pernah menginjakkan kakinya di daratan Papua. Keduanya berlayar dari Gilolo (sekarang Jailolo di Maluku Utara) kemudian memberi nama Papua untuk Gilolo dan oleh pelaut Portugis, pulau-pulau di bagian Barat New Guinea sering disebut Os Papoas (halaman 15).

Menurut Nicolaas Jouwe, upaya pemisahan diri dari NKRI sangat bertentangan dengan sejarah. Sejak 1962, Pemerintah Belanda telah menyerahkan Papua ke pangkuan NKRI melalui New York Agreement Juli 1962 antara Soekarno dan Jhon F Kennedy, dengan pengesahan PBB tentang hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 sampai pada Otsus 2001. “Dunia tidak akan lagi melihat bahwa upaya pembebasan sebagai independensi tapi interdependensi” (halaman 30).

Masyarakat Papua saat ini sudah dihormati oleh bangsa Indonesia dibandingkan tidak adanya penghormatan dari Australia terhadap suku Aborigin misalnya. Sampai saat ini, suku Aborigin tidak memiliki satupun anggota di parlemen Australia. Sedangkan di Indonesia, banyak orang Papua yang menjadi anggota DPR-RI, DPD RI, MPR-RI, DPRP, Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Wakapolda Papua dll. Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan Australia, maka Australia jauh lebih mundur di bidang penghormatan HAM daripada Indonesia.

Hanya sayangnya buku yang cukup baik dan cukup informatif ini dicetak dengan cover buku dan halaman buku dengan kualitas yang sangat baik, sehingga tentunya akan berdampak pada kemungkinan mahalnya harga buku ini. Seharusnya dapat dilakukan sejumlah penghematan, sehingga buku ini dapat dicetak lebih banyak dengan harga yang lebih murah, agar dapat dibaca banyak kalangan di Indonesia pada umumnya dan Papua pada khususnya, karena sejatinya inti pesan buku ini adalah menggugah nasionalisme keIndonesiaan terhadap beberapa aktivis muda di Papua ataupun di luar Papua bahwa pilihan mereka untuk tetap memperjuangkan Papua Merdeka adalah pilihan yang salah, seperti diawal-awal sikap politik Nicolaas Jouwe yang membela Belanda karena ditipu hendak dijadikan Presiden jika Papua merdeka. 

Tidak menutup kemungkinan, aktivis-aktivis yang tergabung dalam OPM ataupun KNPB, PNPB, WPNCL dll terus radikal karena “telah tertipu” oleh mentornya ataupun sponsornya. 


Dibaca : 3574


Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »