» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos » Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil » Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik » Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia » Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing


Bedah Buku
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar


Terpilihnya Barrack Hussein Obama sebagai Presiden AS ke-44 dan 45 sebenarnya diharapkan banyak kalangan dapat memberikan perubahan yang signifikan terkait perdamaian dan kebaikan di berbagai belahan dunia, namun ternyata harapan tersebut haruslah diteliti ulang.

Apa yang disampaikan berbagai kalangan tentang terpilihnya Obama saat periode pertamanya sebagai Presiden AS, seperti dikemukakan Robert Kuttner dalam bukunya Obama’s Challenge : A Transformative Opportunity, 2008 yaitu Obama berpotensi menjadi presiden yang progresif dan transformatif pertama sejak Lyndon Jhonson belum mencapai kenyataan.

Sebenarnya potensi Obama untuk “membenahi” dunia ada kansnya, karena sebagai presiden kulit hitam pertama, Obama mampu mematahkan dominasi white, anglo saxon, Protestan, seperti mendiang Presiden Jhon Flitz Gerald Keneddy yang beragama Katolik.

Apalagi dengan kondisi plural yang dialami dalam kehidupan Obama, seperti pengakuannya dalam bukunya berjudul “The Audicity of Hope”, Obama seorang penganut Kristen dan mengaku tidak dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ibunya dibesarkan oleh orang tuanya yang non religius, karena kakek dan nenek Obama penganut Metodis dan Baptis non praktik yang terpisah dari agama. Obama juga menyatakan ayahnya Barrack Husein Obama dan ayah tirinya Lolo Soetoro adalah muslim, namun ayahnya tak dapat dikatakan sebagai penganut yang taat (halaman 27).

Obama sendiri faktanya merupakan seorang dengan kepribadian menarik, cerdas, dan ia mewakili kelompok yang moderat, memilik karisma dan kemampuan (halaman 47).

Harapan Indonesia yang menginginkan Amerika Serikat terus meningkatkan peranannya untuk benar-benar membangun perdamaian dan keamanan dunia serta kerjasama global untuk menanggulangi perubahan iklim maupun pemanasan global (halaman 103), tampaknya masih harus gigit jari dengan kondisi yang sekarang ini, karena diakui atau tidak, perekonomian dunia saat ini belum adil dan perdamaian belum seluruh bagian dunia ini mengalaminya. Beberapa kalangan masyarakat Indonesia masih memandang AS sebagai agresor dalam beberapa konflik di Timur Tengah dan Afrika.

Bagi rakyat AS sendiri, Obama sebagai presiden memang menunjukkan fenomena tidak ada kapling-kapling dalam politik, yang menyebabkan pemilih terpenjara dengan calon yang akan dipilih. Terpilihnya Obama sebagai Presiden AS menunjukkan rakyat AS telah meninggalkan isu rasisme (halaman 104).

Lobi yahudi diyakini memiliki pengaruh kuat terhadap Obama. Obama juga menegaskan kembali hubungan khusus antara AS dan Israel. Dalam hal ini, nampaknya Obama akan memiliki sikap yang sama dengan pendahulunya, memberikan dukungan penuh terhadap apapun yang dilakukan Israel (halaman 109). AS akan tetap menjadikan Israel sebagai anak emas dan tak memberikan tekanan terhadap Israel ketika melakukan segala hal meski itu melanggar hukum internasional (halaman 155).

Paul Findley (1985) dalam tulisan They dare to speak out dan Mearsheimer and Walt (2006) dalam “The Israel lobby and US foreign policy”, menyatakan AS tidak mampu ketika berhadapan dengan kelompok Yahudi, sehingga pemerintah AS dapat didikte oleh mereka terutama sekali dalam kebijakan luar negeri (halaman 157).

Oleh karena itu, benar pendapat Ichsanudin Noorsy yang menyatakan, dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan tidak akan ada perubahan kebijakan strategis AS terhadap Indonesia, karena Obama akan fokus mengurusi masalah ekonomi dalam negeri AS dan politiknya (halaman 109).

Dalam konteks kebijakan luar negeri AS, banyak yang sebelumnya menilai apapun partai dan siapapun capres di Indonesia yang menang, Indonesia akan tetap berada dibawah penetrasi AS (halaman 110).

Indonesia hanya dipandang perlu digandeng oleh Obama dalam rangka memerangi terorisme (halaman 110). Negara-negara yang cukup disegani oleh AS yaitu seperti yang dikemukakan Jhon Hughes, mantan Asisten Menlu AS semasa pemerintahan Ronald Reagan yaitu China yang telah menjadi raksasa baru, karena menjadi eksportir penting AS sekaligus menjadi “bank” untuk AS. India juga menjadi mitra bisnis penting AS mengingat India telah menjadi pusat telemarketing dan rekrutmen tenaga ahli bagi banyak perusahaan besar AS. Brazil akan menjkadi mitra global terbesar ketiga bagi AS, karena telah menjadi pusat keuangan dan perbankan di Amerika Latin. Rusia karena memegang banyak kunci permasalahan di dunia, terutama di kawasan-kawasan seperti Georgia, Asia Tengah dan Timur Tengah (halaman 122).

Laporan Dewan Intelijen Nasional AS (NIC) berjudul Global Trends 2025 : A Transformed World, memprediksikan AS akan mendapati Cina, Rusia dan India sebagai kekuatan baru yang mematahkan dominasi unipolarnya dan menjadi kekuatan multipolar yang berpengaruh, artinya dominasi kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS akan merosot tajam pada 2025. Sejumlah negara di Asia Selatan dan Afrika berpotensi ambruk, jika mereka tidak berhasil menangani konflik. Dunia dalam waktu dekat akan menjadi subyek bagi meningkatnya konflik terkait sumber-sumber makanan dan air dan akan dibayang-bayangi oleh rogue state dan kelompok teroris yang mempunyai akses lebih besar terhadap senjata nuklir. (halaman 149-151).

Terkait dengan Islam dan Timur Tengah, kepemimpinan Obama juga masih berarti secara minim. AS banyak menempatkan pasukannya di Provinsi Wardak dan Logar di Afghanistan, karena kedua provinsi ini dinilai masif penyusupan kelompok militan ke Afghanistan (halaman 125). AS juga menempatkan pasukannya di Provinsi Helmand, karena wilayah ini merupakan penghasil ganja terbesar dan selama ini menjadi basis perlawanan Taliban (halaman 126).

Dalam pandangan Seth Jones, seorang analis dari RAND Corporation, perlawanan yang dilakukan di Afghanistan oleh kelompok Taliban masih lemah, sebab tidak ada struktur komando yang terpusat dan Taliban tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat lokal (halaman 127).

Islam tetap akan menjadi rival, khususnya kelompok Islam politik ideologis. AS akan ramah terhadap kelompok Islam yang dianggap moderat, artinya yang mau berkompromi dengan kepentingan AS. Kalau itu yang terjadi, Obama dapat menggunakan politik belah bambu untuk menekan dan melemahkan kelompok Islam ideologis (halaman 157).


Dibaca : 6098


Advance Search

   Isu Hangat »
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise ...

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Mahasiswa Papua Minta Freeport Ditutup

Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Kontroversi Keberadaan Freeport

Penyebaran Paham Radikalisme: Ancaman Nyata Kedaulatan NKRI

Menyikapi Kasus Freeport

Bangkitnya Komunisme dalam Konstelasi Politik Indonesia

Bom Panci di Cicendo, Pesan Eksistensi Kelompok Radikal

Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Saatnya Mengambil Alih Freeport

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »