» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Bedah Buku
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.


Nama Umberto Eco sendiri di Indonesia tidak kalah populer dibandingkan Michel Foucault. Para pemerhati kajian semiotika tidak akan melewatkan bukunya, A Theory of Semiotic, sebagai salah satu kajian pustakanya. Selain ahli semiotik, ahli sejarah abad pertengahan, kajian budaya kontemporer, dan sejumlah keahlian lainnya, Eco juga seorang novelis. Pria kelahiran Italia 1932 ini telah menulis enam novel. Dua di antaranya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, The Name of the Rose dan Boudolino yang dalam bahasa Italia pertama kali terbit masing-masing pada tahun 1980 dan 2000. Buku kajian budayanya, Travels in Hyperreality (Tamasya dalam Dunia Hiperealitas) juga telah diterbitkan di Indonesia tahun 2004.

Novel Foucault’s Pendulum adalah novelnya yang kedua setelah The Name of the Rose (1980). Novel-novel Eco bukanlah novel yang linear menyajikan sebuah narasi atau kisah yang menarik seperti novel pada umumnya. Novel-novel Eco lebih berupa kisah dengan penggambaran tentang rentang waktu yang panjang dan terkait dengan peristiwa-peristiwa historis yang cukup kaya. Karya-karyanya berupa intertekstualitas, khususnya tentang sejarah abad pertengahan, sebuah rentang waktu dan wilayah yang tidak mudah dipahami, bahkan oleh orang-orang Eropa sendiri. Untuk memahami novel The Name of the Rose perlu sebuah buku panduan tersendiri. Tampaknya hal yang sama juga berlaku untuk novel Foucault’s Pendulum (meski buku panduan atau keterangan tambahan tentang hal itu belum ada).

Novel ini sebenarnya memiliki latar cerita pada akhir tahun 1960-an hingga awal tahun 1970-an di sekitar Milan, Paris, dan Brazil. Akan tetapi, kisah yang dipaparkan di dalamnya merentang dalam waktu yang cukup panjang, mulai dari abad ke-11 hingga abad ke-20. Fokusnya pada sepak terjang Knight Templar, sebuah ordo ksatria yang muncul pada masa perang salib di Yerusalem. Permasalahannya, riwayat Knight Templar bukanlah sebuah riwayat yang sederhana. Kelompok ini memiliki intrik yang cukup tajam dengan beberapa pihak kerajaan di Eropa dan Paus di Vatikan. Pada awalnya, kelompok yang mengawal para peziarah Eropa yang pergi ke Yerusalem hanya sebuah kelompok yang didirikan oleh sembilan orang, lalu menjadi kelompok atau ordo yang kuat dan kaya, kemudian berseberangan dengan pihak Vatikan, diberangus, setelah itu muncul sebagai kelompok yang kemudian sering disebut dengan Iluminati atau Freemasonry. Kelompok ini seringkali dikaitkan dengan kekuatan yang menguasai dunia dan bersifat rahasia. Pembicaraan tentang Masonry seringkali dikaitkan dengan Teori Konspirasi Dunia.

Eco bukannya tidak memiliki skenario dengan novel ini. Melalui tiga tokoh utama novel ini, Eco setidaknya mengisahkan rentang sejarah abad pertengahan dengan sentral Laut Tengah atau Mediterania, khususnya terkait dengan kelompok-kelompok yang berperan dalam pergolakan sejarah. Knight Templar tentu saja menjadi pilar utama yang menjadi jalinan kisah novel ini. Kelompok ini di Indonesia mulai dikenal dengan sejumlah penerbitan buku akhir-akhir ini. Sebuah trend yang dipicu oleh kesuksesan penerjemahan novel The Da Vinci Code karya Dan Brown pada tahun 2003 yang membahas tentang sejarah kehidupan Maria Magdalena dan juga kelompok yang disebut dengan istilah Priory of Sion, nama lain dari Knight Templar.

Eco menamakan sub-subjudul novel Foucault’s Pendulum ini dengan nama-nama sefirot yang berjumlah sepuluh mulai dari: keter, hokmah, binah, hesed, gevurah, tiferet, nezah, hod, yesod, dan malkhut. Ilustrasi bagan atau gambar sefirot ini menjadi bagian awal ilustrasi buku. Sefirot adalah inti ajaran kabalah, suatu tradisi lisan atau sempalan Yahudi, yang lebih dekat dengan tradisi agama pagan Mesir kuno. Novel ini bukanlah sekedar novel yang menyajikan sebuah romansa yang terjadi pada tokoh-tokohnya atau sekedar novel detektif yang mengisahkan tentang sebuah pembunuhan dan mencari siapa dalang di balik pembunuhan itu.

Novel ini lebih bersifat cerita berbingkai yang lebih mengutamakan cerita-cerita bingkainya. Mirip seperti yang dilakukan oleh Brown pada novel-novelnya termasuk pada The Da Vinci Code, meski kalau dilihat waktu penerbitannya, novel Eco muncul jauh sebelum novel-novel Brown. Sekuel awal The Da Vinci Code adalah Angels and Demons terbit tahun 2000 dan yang terakhir The Lost Symbol terbit tahun 2009. Model cerita berbingkai sudah banyak dikenal dalam tradisi Islam seperti kisah Seribu Satu Malam, sebuah karya sastra yang menginspirasi begitu kuat tradisi sastra Eropa. Karya Eco merupakan karya yang oleh Julia Kristeva dikenal sebagai karya yang bersifat intertekstual, novel yang sangat kaya dengan berbagai referensi sejarah abad pertengahan dan dipenuhi berbagai kutipan dari berbagai bahasa. Selain itu, novel Foucault’s Pendulum adalah karya yang bersifat simbolik, sebuah titik balik arah pergerakan dari sebuah pendulum, sebuah titik balik kekuasaan dalam sejarah dunia.

Kisah Novel Foucault’s Pendulum


Kisah yang terjadi pada novel Foucault’s Pendulum berpusar pada tiga tokoh yang mempelajari keberadaan dan sejarah sepak terjang Knight Templar. Ketiganya adalah Casaubon, Belbo, dan Diotallevi. Casaubon yang menjadi narator (pencerita dalam novel) awalnya mempelajari Knight Templar guna menyelesaikan disertasinya pada tahun akhir 1960-an. Sementara dua temannya, Belbo dan Diotallevi adalah editor Penerbit Garamond yang mendapatkan sebuah naskah tentang Knight Templar dari seorang kolonel bernama Ardenti.

Kisahnya diawali ketika Casaubon mendapati Belbo tiba-tiba pergi ke Paris dan lepas kontak dengannya. Ada usaha Belbo untuk mengontak Casaubon karena tampaknya akan terjadi peristiwa yang membahayakan dirinya. Dari penelusuran Casaubon terhadap “komputer pribadi” Belbo yang dinamainya dengan Abulafia, penelusuran tentang Knight Templar mulai dipaparkan satu per satu dengan teknik kepingan-kepingan peristiwa terkait. Kepergian Belbo yang misterius inilah yang menjadi konflik novel ini yang kemudian dilanjutkan dengan kisah-kisah flash back, mulai dari pengumpulan data Knight Templar untuk bahan disertasi Casaubon hingga dia lulus kuliahnya sampai punya anak.

Dalam kisah yang memenuhi hampir sebagian besar novel, isinya berupa pengungkapan sepak terjang Knight Templar oleh ketiga orang ini (Belbo, Casaubon, dan Diotallevi). Mulai dari pendiriannya oleh Huges de Payens dan Godfrey de Saint-Omer di Palestina pada tahun 1119 hingga peristiwa yang terkenal manakala kelompok ini diberangus dan dilarang keberadaannya oleh Paus Clement V dan oleh Raja Perancis, Philip IV, pada tahun 1312. Pimpinan Knight Templar kala itu, Jacques de Mollay, ditangkap dan dieksekusi di Penjara Bastile. Momen ini sering disebut-sebut dalam novel. Revolusi Perancis (1879) yang berawal dari Penjara Bastile konon seringkali dikaitkan sebagai bentuk balas dendam kelompok ini kepada kerajaan Perancis yang telah mengeksekusi de Mollay.

Cerita tidak hanya berkutat tentang pembunuhan tokoh grand master Knight Templar, tetapi juga tentang sebuah rencana tersembunyi dalam sebuah kode (dari sebuah perkamen) yang menggambarkan adanya sebuah misi pertemuan dengan siklus 120 tahunan. Misi itu direncanakan jatuh pada tahun-tahun: 1344 di Portugal, 1464 di Inggris, 1584 di Perancis, 1704 di Jerman, 1824 di Bulgaria, dan 1944 di Jerusalem (hlm 422). Inilah sebuah misi rahasia yang seringkali dikaitkan dengan Protokol Sion yang menggambarkan rencana Yahudi dalam menguasai dunia yang bocor di Rusia pada akhir abad ke-19. Masih banyak lagi informasi-informasi yang terkait dengan kelompok sosial rahasia semacam illuminati, rosicrucian, masonry, scothis-rites, york-rites, teotonik, dan sejumlah secret society lainnya. Semua diungkapkan oleh Eco melalui tokoh-tokoh semacam Ardenti, Aglie, ataupun “Abulafia” dengan ketiga tokoh utama novel ini, Belbo, Casaubon, dan Diotallevi.

Klimaks novel ini terjadi pada bagian no 113 (subjudul “Permasalahan Kita adalah Suatu Rahasia”) yang mengisahkan penangkapan Belbo oleh kelompok rahasia yang melibatkan Aglie dan juga pemilik penerbit Garamond yang bernama Signor Garamond. Kejadian yang berlangsung di Conservatoire, Paris (tempat Pendulum Foucault disimpan) ini diawali dengan ritual pagan yang disaksikan Casaubon setelah berhasil menyelinap ke ruangan itu sesudah menanti sepanjang sore hingga tengah malam, waktu kejadian itu berlangsung. Belbo dipaksa untuk mengungkap rahasia sebuah peta yang sampai sekarang belum bisa dipecahkan oleh kelompok tersebut. Belbo menolak atau memang dia tidak tahu. Ia dibunuh malam itu. Casaubon menyaksikannya. Sementara temannya yang lain, Diotallevi, akhirnya meninggal setelah malam itu sekarat karena penyakit kanker di Milan.

Casaubon meninggalkan Paris, kembali ke Italia. Ia menanti di Bukit Bricco milik pamannya. Ia yakin kelompok rahasia itu bakal mengetahui keberadaan dirinya. Hanya ia tidak tahu nasib apa yang bakal menimpa dirinya.

Apa Itu Knight Templar

Knight Templar awalnya didirikan oleh dua orang veteran Perang Salib asal Perancis Huges de Payens dan Godfrey de Saint-Omer pada 1119 yang bertujuan melindungi para peziarah Eropa yang berkunjung ke Palestina. Awalnya ordo ini termasuk ordo yang miskin meskipun kemudian berkembang menjadi ordo yang kaya raya.

Meskipun awalnya berkaitan dengan kepentingan Gereja Katolik, Knigt Templar seringkali dikaitkan dengan sistem kepercyaan yang bernama Kabalah yang berasal dari kepercayaan pagan Mesir Kuno. Setelah dilarang keberadaannya pada tahun 1312 oleh Paus Clement V dan Raja Perancis Philip IV (Philip le Belle), Knight Templar kemudian lebih dikenal dengan sebagai kelompok rahasia seperti Illuminati atau Freemasonry.

Perhatikan kutipan mengenai Knight Templar dari situs Wikipedia berikut ini.
Around 1119, two veterans of the First Crusade, the French knight Huges de
Payens and his relative Godfrey de Saint-Omer, proposed the creation of a monastic
order for the protection of these pilgrims. King Baldwin II of Jerusalem agreed to
their request, and gave them space for a headquarters on the Temple Mount, in the
captured Al Aqsa Mosque. The Temple Mount had a mystique, because it was above
what was believed to be the ruins of the Temple of Solomon. The Crusaders
therefore referred to the Al Aqsa Mosque as Solomon's Temple, and it was from this
location that the Order took the name of Poor Knights of Christ and the Temple of
Solomon, or "Templar" knights. The Order, with about nine knights, had few
financial resources and relied on donations to survive. Their emblem was of two
knights riding on a single horse, emphasizing the Order's poverty.

Officially endorsed by the Roman Catholic Church around 1129, the Order
became a favoured charity throughout Christendom, and grew rapidly in
membership and power. Templar knights, in their distinctive white mantles with a
red cross, were among the most skilled fighting units of the Crusades. Noncombatant
members of the Order managed a large economic infrastructure
throughout Christendom, innovating financial techniques that were an early form of
banking, and building many fortifications across Europe and the Holy Land.

The Templars' existence was tied closely to the Crusades; when the Holy
Land was lost, support for the Order faded. Rumors about the Templars' secret
initiation ceremony created mistrust, and King Philip IV of France, deeply in debt to
the Order, took advantage of the situation. In 1307, many of the Order's members
in France were arrested, tortured into giving false confessions, and then burned at
the stake. Under pressure from King Philip, Pope Clement V disbanded the Order in
1312. The abrupt disappearance of a major part of the European infrastructure gave
rise to speculation and legends, which have kept the "Templar" name alive into the
modern day.


Dalam buku Ancaman Global Freemasonry, Harun Yahya menyatakan bahwa Ksatria Templar, ordo pejuang salib yang aneh dan gelap ini, dipengaruhi oleh sebuah "rahasia" yang ditemukan di Yerusalem, yang membuat mereka meninggalkan agama Kristen dan mulai memraktikkan ritus-ritus sihir. Banyak peneliti telah mencapai pendapat bahwa rahasia ini berhubungan dengan Kabalah. Misalnya, dalam bukunya Histoire de la Magie (Sejarah Ilmu Sihir), penulis Prancis, Eliphas Levi, memberikan bukti terperinci bahwa para Templar dibaiat ke dalam doktrin-doktrin misterius Kabalah, yakni, mereka secara rahasia dilatih di dalam doktrin ini. Begitulah, sebuah doktrin yang berakar di Mesir Kuno diteruskan kepada para Templar melalui Kabalah.

Para Templar dipengaruhi oleh Kabalah dan bahwa para pengikut Kabalah memiliki rahasia yang dapat dilacak hingga ke fir’aun-fir’aun Mesir Kuno. Sebagian bangsa Yahudi yang terkemuka, mereka mempelajari rahasia-rahasia tertentu yang diambil dari bangsa Mesir Kuno, dan kemudian menyisipkannya ke dalam lima kitab pertama Perjanjian Lama (Pantateuch). Tetapi rahasia yang diteruskan secara rahasia ini hanya dapat dipahami oleh para pengikut Kabalah. Para Templar mempelajarinya dari para rabbi pengikut Kabalah di Yerusalem.

Ketika para Templar mengadopsi doktrin Kabalis-Mesir kuno ini, sudah tentu mereka bertentangan dengan kekuasaan Kristen yang mendominasi Eropa. Pertentangan serupa juga terjadi antara mereka dengan kekuatan bangsa Yahudi lainnya. Setelah para Templar ditangkap oleh perintah bersama raja Prancis dan Paus di tahun 1307, ordo ini bergerak di bawah tanah, namun pengaruhnya tetap bertahan, dan dengan cara yang lebih radikal dan mantap.

Seperti disebutkan sebelumnya, sejumlah besar ksatria Templar melarikan diri dan meminta perlindungan kepada raja Skotlandia, satu-satunya kerajaan Eropa pada saat itu yang tidak mengakui otoritas Paus. Di Skotlandia, mereka menyusup ke dalam gilda para tukang batu, dan perlahan mengambil alih. Gilda-gilda tersebut mengadopsi tradisi-tradisi ksatria Templar. Dengan demikian, benih Masonik ditanam di Skotlandia. Sampai hari ini, garis utama Masonry masih merupakan “Ritus Skot yang Kuno dan Diakui”.

Jejak para Templar dapat dideteksi sejak awal abad keempat belas dan sekelompok bangsa Yahudi berhubungan dengan mereka pada berbagai babak sejarah Eropa. Tanpa membahas detailnya, berikut ini sebagian heading yang mengkaji topik-topik berikut ini.

Di Provence, Prancis, pernah terdapat sebuah tempat persembunyian penting para Templar. Selama masa penahanan, sangat banyak yang bersembunyi di sini. Ciri-ciri penting lain daerah ini adalah sebagai pusat Kabbalisme paling terkenal di Eropa. Di Provence tradisi lisan Kabalah dibukukan.

Pemberontakan Petani di Inggris pada tahun 1381, menurut para ahli sejarah, dikipas-kipasi oleh sebuah organisasi rahasia. Para pakar yang mengkaji sejarah Masonry sepakat bahwa organisasi rahasia ini adalah para Templar. Pemberontakan ini lebih dari sekadar pemberontakan sipil, tetapi merupakan penyerangan terencana terhadap Gereja Katolik.

Setengah abad setelah pemberontakan ini, seorang pastor di Bohemia bernama John Huss memulai pemberontakan melawan Gereja Katolik. Lagi, di balik pemberontakan ini berdiri para Templar. Lebih-lebih lagi, Huss sangat tertarik dengan Kabbalah. Avigdor Ben Isaac Kara adalah salah satu nama terpenting yang berpengaruh dalam perkembangan doktrinnya. Kara adalah seorang rabbi dari komunitas Yahudi di Praha dan seorang pengikut Kabalah.

Contoh-contoh seperti ini menunjukkan bahwa persekutuan antara para Templar dan pengikut Kabalah diarahkan kepada suatu perubahan tatanan sosial Eropa. Perubahan ini melibatkan perubahan di dalam budaya Kristen yang mendasar di Eropa, dan penggantiannya dengan sebuah budaya berdasarkan doktrin-doktrin pagan, seperti Kabalah. Setelah perubahan budaya ini, berbagai perubahan politik akan mengikuti termasuk Revolusi Prancis dan pergolakan Italia.

Pada bagian berikutnya, beberapa titik balik penting terjadi di dalam sejarah Eropa. Pada setiap tahap, sejarah dihadapkan kepada fakta bahwa terdapat sebuah kekuatan yang hendak memisahkan Eropa dari warisan Kristennya, menggantikannya dengan ideologi sekuler, dan dengan program pemikiran ini menghancurkan lembaga-lembaga keagamaannya. Kekuatan ini berusaha memaksa Eropa menerima doktrin yang telah diestafetkan sejak Mesir Kuno melalui Kabalah. Sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya, pada basis dari doktrin ini terdapat dua konsep penting: humanisme dan materialisme. Sebuah paham yang kemudian diteruskan oleh kelompok Freemasonry, sebuah secret society.

Novel sebagai Situs Sejarah

Novel bagaimana pun hingga kini dianggap sebagai sebuah karya fiksi. Artinya, apa saja yang dikisahkan dalam sebuah novel pada hakikatnya adalah sebuah imajinasi yang tidak harus dibuktikan dalam sejarah. Jika sebuah novel mengangkat peristiwa historis, itu hanya sebuah trik dari pengarangnya supaya dapat lebih meyakinkan para pembacanya. Selama ini karya sastra, termasuk novel, adalah sebuah background dari suatu peristiwa. Berbeda dengan peristiwa sejarah yang diyakini sebagai foreground. Inilah yang menempatkan peristiwa dalam sebuah novel tidak lebih penting daripada peristiwa sejarah.

Hal tersebut merupakan paham dari kajian historisisme. Akan tetapi, sejak tahun 1980-an di Amerika mulai muncul apa yang disebut dengan kajian new historisisme yang menentang paham historisisme. New historisisme memandang karya sastra dan sejarah sebagai dua wilayah yang sama. Dua-duanya sejajar dalam membentuk suatu diskursus. Novel tidak selamanya dipandang sebagai kajian imajinatif, sementara sejarah tidak selalu diyakini sebagai sebuah kebenaran. Tidak ada tindakan rekonstruksi masa lalu seperti apa yang dilakukan oleh sejarah yang lepas dari kesalahan. Seringkali sejarah ditulis atas kepentingan penguasa kala itu. Novel meskipun dibangun atas dasar imajinasi, di dalamnya masih terkandung suatu kebenaran yang seringkali bersifat konstruktif terhadap wacana kebenaran.

Bukan tidak mungkin apa yang diungkapkan dalam sebuah novel adalah sebuah fakta historis sementara apa yang dikisahkan dalam pelajaran sejarah adalah sebuah rekonstruksi fakta historis yang menyesatkan. Pada titik kajian semacam inilah tampaknya karya-karya Umberto Eco ditempatkan, khususnya pada novelnya yang berjudul Foucault’s Pendulum ini. Terlepas dari berbagai pertentangan apakah peristiwa-peristiwa abad pertengahan, khususnya yang terkait dengan Knight Templar yang legendaries dalam novel ini, termasuk fakta ataukah imajinasi, Eco memilihnya dengan tepat. Ketika peristiwa-peristiwa tersebut dikemas dalam bentuk novel, segala tuntutan akan akurasinya tidak diperlukan lagi. Meskipun harus dicatat, novel Foucault’s Pendulum ini sarat dengan akurasi data dan referensi. Inilah novel yang di depan disebut sebagai novel intertekstualitas dengan gaya penulisan secara groteks.

Dengan menuliskan sejumlah peristiwa yang terkait dengan Knight Templar sebagai benang merahnya dalam bentuk novel, Eco mengangkat tema tersebut menjadi sebuah diskursus, menjadi sebuah pembicaraan. Tidak sedikit kritikus sastra yang meyakini sejumlah informasi yang diangkat Eco tersebut sebagai sebuah kebenaran sejarah. Meskipun sejarah Knight Templar hingga Masonry seringkali gelap karena sifat kerahasiaan keanggotaan mereka. Fakta historis semacam ini dipergunakan oleh Dan Brown dalam halaman pertama trilogi novelnya (Angels and Demons, The Da Vinci Code, dan The Lost Symbol), yang menyatakan bahwa sejumlah peristiwa dan kelompok tertentu yang dikisahkan dalam novel-novel tersebut adalah benar.

Dalam kasus karya-karya Dan Brown, novel-novelnya banyak dibicarakan orang. Karya-karya fiksinya telah menjadi wacana. Karya dengan tema sejenis yang dilakukan oleh Michael Baigent dan sejumlah koleganya seperti buku sejarah Holy Blood Holy Grail seringkali malah dianggap sebagai fake history atau sejarah palsu. Dalam konteks inilah karya sastra dianggap lebih benar daripada tulisan sejarah. Tampaknya, Umberto Eco sebagai kritikus sastra juga menyadari hal ini sehingga karya-karya novelnya sebenarnya adalah penuturan sejarah, termasuk seperti yang ditulisnya dalam novel Foucault’s Pendulum. Lalu siapakah Eco?

Umberto Eco sebagai Pengarang


Umberto Eco sebagaimana diungkap secara sekilas di depan termasuk tokoh intelektual asal Italia yang memiliki berbagai keahlian. Dalam situs Wikipedia, Eco yang termasuk Knight Grand Cross OMRI (lahir 5 Januari 1932) adalah seorang ahli abad pertengahan, ahli semiotik, filsuf, kritikus sastra, dan novelis yang terkenal dengan  novelnya yang berjudul The Name of the Rose (Il nome della rosa, 1980), sebuah karya misteri intelektual yang mengkombinasikan semiotik dalam karya fiksi, analisis biblikal, studi abad pertengahan, dan teori sastra. Eco juga menulis sejumlah buku teks untuk universitas, buku-buku sastra anak, dan sejumlah esai. Eco adalah President of the Scuola Superiore di Studi Umanistici, University of Bologna, anggota Accademia dei Lincei (sejak November 2010) and Anggota Kehormatan Kellogg College, University of Oxford.

Eco lahir di kota Alessandria di wilayah Piedmont (Italia Utara). Ayahnya, Giulio, adalah seorang akuntan untuk pemerintah hingga perang memanggilnya untuk terlibat dalam tiga perang. Selama Perang Dunia II, Umberto dan ibunya, Giovanna, pindah ke pelosok di wilayah Pegunungan Piedmontese. Eco pernah mendapatkan pendidikan Salesian. Nama keluarganya kemungkinan diperoleh dari sebuah akronim, ex caelis oblatus (Latin: a gift from the heavens, Bahasa Indonesia: sebuah hadiah dari surga), yang didapatnya dari sang kakek.

Ayahnya mempunyai tiga belas anak dan menganjurkan Umberto untuk menjadi pengacara, tetapi dia malah masuk ke Universitas Turin untuk mengambil program filsafat dan kesusastraan abad pertengahan. Dia menulis untuk tesisnya tentang Thomas Aquinas dan mendapatkan Laurea pada bidang filsafat pada 1954. Selama masa ini, Eco meninggalkan agamanya, Katolik Roma, setelah mengalami krisis kepercayaan. Setelah itu, Eco bekerja sebagai editor budaya untuk stasiun penyiaran Radiotelevisione Italiana (RAI) dan juga menjadi dosen untuk Universitas Turin (1956—1964). Karirnya sebagai penulis dan pengajar mulai dikenal sejak itu.

Pada September 1962, dia menikahi Renate Ramge, seorang guru seni Jerman yang membuahkan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Dia memisahkan waktu kehidupannya antara berada di sebuah apartemennya di Milan dengan rumah liburannya di dekat Rimini. Dia telah memiliki koleksi sebanyak 30.000 buku perpustakaan yang kemudian bertambah lagi dengan 20.000 koleksi lainnya. Pada 1992—1993 Eco mengajar sebagai Norton professor di Harvard University. Pada 23 Mei 2002, Eco menerima gelar honorary Doctor of Letters dari Rutgers University di New Brunswick, New Jersey. Eco juga menjadi salah seorang anggota dari the Italian skeptic organization CICAP.

Beberapa karya Eco yang berupa novel adalah sebagai berikut. Il nome della rosa (1980; terjemahan bahasa Inggris: The Name of the Rose, 1983); Il pendolo di Foucault (1988; terjemahan bahasa Inggris: Foucault's Pendulum, 1989); L'isola del giorno prima (1994; terjemahan bahasa Inggris: The Island of the Day Before, 1995); Baudolino (2000; terjemahan bahasa Inggris: Baudolino, 2001); La misteriosa fiamma della regina Loana (2004; terjemahan bahasa Inggris: The Mysterious Flame of Queen Loana, 2005); Il cimitero di Praga (2010; terjemahan bahasa Inggris: The Cemetery of Prague, 2011).

Selain menulis novel, berbagai buku Eco banyak mengupas tentang berbagai topik yang terkait dengan bidang budaya, sejarah, dan humaniora.

Membaca Foucault’s Pendulum Harus Membaca Eco

Roland Barthes pernah menyatakan sebuah pernyataan yang cukup banyak dikupas oleh sejumlah kritikus sastra. Pernyataan yang berbunyi “the dead of the author” yang seringkali diindonesiakan menjadi “kematian pengarang” banyak menimbulkan berbagai penafsiran. Artinya, jika sebuah karya sastra lahir, matilah sang pengarang sejak saat itu. Mati di sini tentu saja bersifat konotatif. Jika sebuah karya sastra dipublikasikan, peran pengarang sebagai pemilik utama penafsir karya sudah tidak berlaku lagi, ia seakan-akan “mati”. Dalam bahasa Inggris kata “author” (pengarang) sangat dekat dengan kata “authority” (otoritas). Sejak karya sastra dipublikasikan, pengarang tidak lagi memiliki otoritas menafsirkan karyanya. Para pembacalah yang kemudian memiliki otoritas dalam menafsirkan atau “membaca” terhadap karya tersebut menjadi sebuah “komunitas pembacaan”.

Oleh karena itu, pengarang sebuah karya sastra tentu saja masih berkaitan dengan karya yang telah dipublikasikannya, termasuk dalam hak mendapatkan royalty hasil penjualan bukunya. Dalam konteks ini, pengarang juga seringkali masih “membela” karyanya ketika dikritik atau disalahtfsirkan oleh pembaca. Penafsiran pengarang setelah karyanya diterbitkan kemudian dianggap sebagai kontestasi penafsiran. Ia kemudian menjadi “pembaca” lain yang turut membentuk komunitas pembacaan karya sastra tersebut. Dalam sejumlah kasus terkait komentar atau resensi terhadap novel Foucault’s Pendulum, Eco masih tampak “membela” atau mengomentari karyanya tersebut. Akan tetapi, sekali lagi hal itu perlu dipahami bukan sebagai satu-satunya kebenaran; itu hanyalah sebuah kontestasi pembacaan.

Meski demikian, sebagai pembaca karya sastra, seseorang tidak bisa secara sembarangan memberikan penafsiran atau penilaian terhadap karya tersebut. Seseorang harus memperhatikan tradisi atau aturan main yang selama ini dipegang oleh komunitas pembaca. Selain itu, latar belakang penulis dan proses penulisannya juga menjadi bahan pertimbangan seseorang dalam membaca karya tersebut. Bagi pembaca Indonesia, apa yang diungkapkan oleh Eco dalam Foucault’s Pendulum merupakan sebuah topik yang relative tidak begitu dikenal atau dipahami.

Tanpa mengetahui atau mengenali permasalahan yang terkait dengan Knight Templar, rasanya sulit untuk membaca novel Foucault’s Pendulum. Hal ini mirip seperti yang dialami oleh para penonton film ataupun pembaca novel The Da Vinci Code yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang sejarah abad pertengahan di Eropa. Untuk menjadi pembaca novel-novel semacam The Da Vinci Code ataupun Foucault’s Pendulum diperlukan sebuah “storage” atau segudang pengetahuan yang mendasarinya. Eco melalui novel Foucault’s Pendulum tidaklah ingin menjelaskan kepada para pembacanya topik besar yang merentang pada abad pertengahan di wilayah Mediterania; dia ingin
mendiskusikan topik ini kepada pembacanya. Dia menganggap bakal pembacanya bukan orang yang awam terhadap informasi abad pertengah yang melingkupi wilayah Laut Tengah yang meliputi Eropa, Asia Barat, dan Afrika Utara itu.

Oleh karena itu, jalinan alur cerita novel Foucault’s Pendulum bukanlah teknik penceritaan yang linear. Eco menggunakan alur cerita yang relatif kompleks. Begitu juga pemaparan peristiwa-peristiwa historisnya pun tidak disajikan dengan gaya paparan biasa tetapi lebih dekat dengan gaya penyajian seperti klip video-musik masa kini. Adegannya sepotong-sepotong dan berpindah secara cepat dari satu frame ke frame lainnya. Eco menampilkan peristiwa-peristiwa itu dengan teknik puzzle yang akan ketahuan bentuk akhirnya manakala kepingan-kepingan kecil itu membentuk kesatuan yang utuh. Inilah penceritaan gaya groteks. Penceritaan semacam ini menuntut pembacanya sebagai orang yang cerdas. Untuk membaca Foucault’s Pendulum sebaiknya seseorang memiliki pengetahuan dasar tentang sejarah abad pertengahan kawasan Mediteriania.

Penutup


Seperti disinggung di depan, maraknya topik-topik tentang Knight Templar di Indonesia bermula dari kesuksesan novel The Da Vinci Code (termasuk sekuelnya Angels and Demons dan The Lost Symbol) yang sedikit banyak menyinggung tentang keberadaan kelompok-kelompok seperti Priory of Sion, Illuminati, dan Freemasonry.

Dalam tulisan Harun Yahya (nama pena Adnan Oktar) asal Turki yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia juga, tema tentang Freemasonry dan Knight Templar pun menjadi salah satu tema sering dituangkan ke dalam beberapa karyanya baik berupa artikel, buku, maupun VCD. Karya-karya Harun Yahya ini dapat didownload secara gratis di website-nya. Sejumlah penulis Indonesia seperti Toto Tasmara, Rizki Ridyasmara, Ahmad A. Suci adalah segelintir penulis yang mengangkat sepak terjang Masonry dalam buku-buku mereka yang dikaitkan dengan dajjal.

Tampaknya, penerjemahan novel Foucault ‘s Pendulum karya Umberto Eco ini pun tidak terlepas dari imbas karya-karya Dan Brown tersebut. Meskipun dalam naskah aslinya atau dalam bahasa Inggris, karya Eco ini jauh lebih awal diterbitkan dibandingkan karyakarya Dan Brown. Selain karya fiksi, sejumlah buku sejarah (yang kemudian dikategorikan sebagai the fake history bagi yang memandangnya secara skeptik) seperti Holy Blood, Holy Grail dan The Messianic Legacy (karya Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln) serta The Templar Revelation (karya Linn Picknett dan Clive Prince) makin mewarnai topik-topik ini dalam dunia perbukuan Indonesia.

Apakah di Indonesia ada kelompok Freemasonry? Jika ingin mengetahui secara detail sejarah perkembangan Masonry di Indonesia silakan baca buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764—1962 oleh Th. Stevens. Dalam sejarah Indonesia, Presiden Soeharto melarang keberadaan PKI sementara sebelumnya, Presiden Soekarno melarang keberadaan Masonry.

Daftar Pustaka

  • Baigent, Michael, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. 2006. Holy Blood, Holy Grail  (Penerjemah Isma B. Koesalamwardi). Jakarta: Ufuk Press.
  • Baigent, Michael, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. 2007. The Messianic Legacy (Penerjemah Ursula Gyani B). Jakarta: Ramala Books.
  • Brown, Dan. 2004. The Da Vinci Code (Penerjemah Isma B. Koesalamwardi). Jakarta: Serambi.
  • Brown, Dan. 2005. Malaikat dan Iblis (Angels and Demons; Penerjemah Isma B. Koesalamwardi). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
  • Brown, Dan. 2010. The Lost Symbol (Penerjemah Ingrid Dwijani Nimpoeno). Yogyakarta: Bentang.
  • Eco, Umberto. 2004. Tamasya dalam Hiperealitas (Penerjemah Iskandar Zulkarnaen). Yogyakarta: Jalasutra.
  • Eco, Umberto. 2006. Baudolino (Penerjemah Nin Bakdi Soemanto). Yogyakarta: Bentang.
  • Eco, Umberto. 2008. The Name of the Rose (Penerjemah Nin Bakdi Soemanto). Yogyakarta: Bentang Pustaka.
  • Eco, Umberto. 2010. Foucault ‘s Pendulum (Penerjemah Nin Bakdi Soemanto). Yogyakarta: Bentang.
  • “Foucault Pendulum,” Wikipedia, diunduh 27 Desember 2010.
  • “Foucault’s Pendulum,” Wikipedia, diunduh 27 Desember 2010.
  • Picknett, Linn dan Clive Prince. 2006. The Templar Revelation (Penerjemah FX Dono Sunardi). Jakarta: Serambi.
  • Ridyasmara, Rizki. 2007. Knights Templar Knights of Christ-Konspirasi Berbahaya
  • Biarawan Sion Menjelang Armagedon. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
  • Stevens, Th. 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia
  • 1764—1962. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  • Suci, Ahmad A. 2010. The Secret of Dajjal. Jakarta: Wahyumedia.
  • Tasmara, Toto. 2006. Dajjal dan Simbol Setan. Depok: Gema Insani Press.
  • “Umberto Eco,” Wikipedia, diunduh 27 Desember 2010.
  • “Umberto Eco,” Wikipedia_indonesia, diunduh 27 Desember 2010.
  • Yahya, Harun. 2002. The Knights Templars. Turki: Millad Book Center.
  • Yahya, Harun. 2003. Global Freemasonry. Istanbul: Global Publishing.

* Artikel no 66 dimuat pada Majalah Ilmiah Populer WUNY, LPM UNY edisi tahun XIII no.1, Januari 2011;


Dibaca : 2746


Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Menyimak Konflik Sosial di Indonesia

Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »