Benarkah Akan Datang Gelombang Perubahan Konstitusi dan Tatanan Politik? (Bagian 3/Habis)

Bagikan artikel ini

Telaah Ringan Filsafat, Geopolitik dan Geospiritual atas Fenomena Politik di Tanah Air

Ketika filsafat memberi tanda bahwa faktor utama perubahan adalah ketidakpercayaan khalayak (public distrust) terhadap sesuatu, sesuatu dan sesuatu; manakala geopolitik menekankan bahwa pergeseran lanskap politik serta perubahan konstitusi akibat lemahnya sistem negara karena tidak mampu bertahan atas fluktuatif isu lingkungan strategis dan dinamika geopolitik. Hal-hal dimaksud telah diurai pada catatan sebelumnya (baca Bagian 1 dan Bagian 2). Merujuk judul di atas, kini giliran geospiritual membaca gerak perubahan di Tanah Air. Inilah uraian secara sederhana.

Dalam hitungan Hijriyah (H), tahun 2019 Masehi itu 1440 H. Dan pada 1 Muharam nanti atau 1 September akan memasuki 1441 H dimana secara geospiritual, hurufnya duduk di Ba’, artinya “Tahun Air”. Sedang secara Masehi (M), 2019 M hurufnya duduk di Jim atau “Tahun Mati”. Makna mati di sini adalah kumpul, atau rapat, musyawarah, meeting, dan seterusnya. Poin inti yang ingin dirajut ialah, bahwa setiap ketetapan atau keputusan pada tahun tersebut niscaya melalui musyawarah mufakat (jadi bukan voting, bukan pula top down). Inilah ketetapan alam berdasar geospiritual pada 2019 M —Tahun Mati— baik di level lokal, regional, maupun di skala global. Artinya, ke depan bakal terbit suatu keputusan, atau kebijakan, ketetapan dan seterusnya yang sifatnya mengubah kondisi dan/atau tatanan yang ada dan hal itu merupakan hasil MUSYAWARAH MUFAKAT. Entah di bulan apa, ia terbentang hingga 31 Desember 2019.

Sekarang membahas tahun 1441 H atau Tahun Air yang dimulai pada 1 Muharam atau tanggal 1 September 2019. Pertanyaan selidik muncul, “Semacam apa peristiwa dan/atau perubahan di Tahun Air?” Nah, sebelum membahas lebih jauh lagi, perlu diterangkan bahwa pertemuan antara “tahun keputusan” (M) dan “tahun perubahan” (H) kelak akan menimbulkan situasi dan kondisi yang luar biasa. Nah, apa ujud perubahan nanti? Mari kita breakdown melalui sifat-sifat air beserta analoginya.

Sifat paling umum air ialah datar di permukaan atau menyesuaikan ruang. Terlihat tenang tapi jangan dipikir tidak dalam, jangan dikira tidak ada arus di bawah permukaan. Menghanyutkan juga ciri dari air. Analoginya apa? Di tahun air, apa yang terlihat bukanlah yang berlangsung. Seperti kata Pepe Escobar, “Politik praktis bukanlah yang tersurat melainkan apa yang tersirat” (2007). Selalu ada hidden agenda di balik open agenda. Dan hal itu jamak di dunia (geo) politik.

Kembali ke sifat air. Ia dapat mengubah ujud cair ke padat, dan pada suhu tertentu menjadi uap. Maknanya, mapping geopolitik dan aliansi kekuasaan setiap saat bisa berubah baik di level global sampai di lokal/nasional pararel dengan tingkat kepentingan. Pada skala lokal contohnya, koalisi partai bukan lagi harga mati. Pun demikian orang-seorang, kelompok atau golongan. Ini sudah terbukti pada geliat politik di Tanah Air usai MK ketuk palu. Tak ada yang permanen dalam politik.

Selanjutnya sifat liquid air dapat dianalogikan sebagai fleksibilitas atas turbulensi dinamika politik. Tiba-tiba. Unpredictable. Ini juga sering terjadi. Kapilaritas sebagai sifat air mampu merembes ke atas, hal ini berlawanan dengan sifatnya yang mengalir ke tempat lebih rendah. Top down. Dalam manajemen, kapilaritas itu seperti bottom up process. Proses dari bawah. Boleh jadi, aspirasi akar rumput di Tahun Air bakal kuat mempengaruhi keputusan elit politik dan para pengambil kebijakan. Atau minimal, menjadi pertimbangan utama para top level management. Entah seperti apa narasinya.

Air memiliki massa atau berat. Pararel dengan Tahun Mati = musyawarah mufakat, keputusan yang diambil memiliki daya dorong dan power luar biasa. Flash back sebentar, kemarin di era reformasi, siapa mengira UUD 1945 boleh diamandemen; siapa sangka Polri keluar dari ABRI? Sekedar sampel.

Dan bisa jadi, power perubahan nanti dapat berupa dekrit untuk kembali ke UUD 1945 plus perubahan di beberapa pasal, misalnya, atau persekusi terhadap para alumni BLBI dan seterusnya. Ini cuma pengandaian di tahun (air) perubahan.

Dan sifat air paling unik adalah melarutkan zat. Ini sifat paling dahsyat. Analogi situasi, bahwa nanti ada partai, misalnya, organisasi massa, ataupun paham/aliran, ideologi, golongan dan seterusnya tersapu oleh perubahan karena dinilai sebagai “sampah,” dan selama ini mengotori halaman pekarangan NKRI dan Pancasila. Ya, nantinya entitas “kotor” dimaksud akan terhempas oleh gelombang perubahan di Bumi Pertiwi.

Sifat terakhir air ialah menekan ke semua arah, ke segala penjuru. Makna analoginya, selain arus perubahan kelak memiliki daya dobrak dahsyat, dapat memasuki di segala lini, juga substansi perubahan diterima hampir di semua strata dan lapisan masyarakat.

Itulah gambaran prakiraan situasi serta kondisi perubahan di Bumi Pertiwi berdasar filsafat, geopolitik dan geospiritual. Dan dalam praktik implementasi kelak tergantung kepada rakyat, sang pemilik kedaulatan tertinggi. Entah tebal tipisnya, keras lembut, gaduh atau senyap dan sebagainya. Itu cuma soal selera dan cita rasa peradaban.

Mengakhiri tulisan ini, ingin disampaikan bahwa tidak ada maksud menggurui siapapun terutama para pakar serta pihak berkompeten. Telahaan kecil ini hanya membaca fenomena atas apa yang terjadi berbasis tiga perspektif di atas.

Demikian adanya, terima kasih.

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments