Bergabungnya Iran Dengan SCO, Inspirasi Terciptanya Aliansi Geopolitik Eropa-Asia

Bagikan artikel ini

Insiden penembakan pesawat Drone AS RQ-4 Global Hawk oleh Iran, bukan saja aliansi strategis Cina-Rusia semakin solid dalam kerangka Shanghai Cooperation Organization (SCO). Melainkan juga akan menjadi momentum bagi Iran menyusul bergabung dalam aliansi Eropa-Asia (Euro-Asia) tersebut.

Pembatalan sepihak perjanjian nuklir Iran oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dibuat antara Presiden Obama dan Presiden Rouhani, pada perkembangannya justru mendorong percepatan terjalinnya persekutuan strategis antara Iran dengan negara-negara Eropa-Asia dalam  kerangka SCO.

Inilah tren global yang nampaknya menyebabkan perbedaan pandangan antara AS dengan beberapa negara Uni Eropa seperti Prancis dan Jerman dalam menyikapi Iran pasca penembakan pesawat Drone AS itu. Bahkan Inggris pun , yang baru saja melepaskan diri dari keanggotaannya sebagai negara anggota Uni Eropa, juga menentang petualangan militer AS di Iran.

Menyusul ditembak jatuhnya pesawat Drone AS oleh Iran sewaktu terbang di atas perairan Selat Hormuz, negara-negara SCO yang dimotori Rusia dan Cina, telah bersepakat untuk menentang keputusan AS melakukan aksi militer di kawasan Timur-Tengah maupun Teluk Persia.

Bahkan dalam deklarasi bersama negara-negara SCO, menegaskan bahwa perjanjian senjata nuklir dengan Iran secara damai harus menjadi prioritas utama pemerintah AS. Dengan demikian, konfrontasi bersenjata antara AS dan Iran harus dicegah. Dan menyerukan semua pihak agar berkomitmen memenuhi seluruh kesepakatan perjanjian sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan komprehensif.

Meskipun AS di era Trump sudah membatalkan secara sepihak perjanjian nuklir Iran yang dibuat semasa Obama, namun negara-negara SCO bersepakat bahwa perjanjian senjata nuklir dengan Iran merupakan satu-satunya jalan menuju penyelesaian damai.

Adapun terkait kesamaan sikap antara Rusia dan Cina terhadap Iran bukan saja karena kedua negara motor penggerak SCO tersebut bersekutu dengna Iran, melainkan juga karena Iran hadir sebagai peninjau dalam sidang SCO tersebut. Sehingga pemihakan secara terang-terangan Cina-Rusia terhadap Iran menghadapi AS, pertikaian AS-Iran menjadi agenda utama pertemuan negara-negara SCO.

Melalui momentum pertemuan SCO tersebut, Iran menggunakan forum tersebut untuk menyerang kebijakan luar negeri AS. Seperti dinyatakan dalam pidato Presiden Iran Rouhani:

“Pemerintah AS dalam dua tahun terakhir, telah melanggar aturan main dan struktur internasional dan menggunakan sumberdaya ekonomi , keuangan dan militer, untuk melakukan aksi-aksi agresif, sehingga menimbulkan instabilitas di berbagai kawasan dunia.”

Sementara itu Presiden Cina Xi Jinping, menegaskan bahwa Beijing akan tetap mengembangkan hubungan baik dengan Tehran, apapun situasi yang berkembang ke depan.

Semakin merapatnya Iran ke Cina dan Rusia dalam kerangka SCO, aliansi strategis Eropa-Asia yang dimotori Cina dan Rusia, nampaknya akan semakin solid ke depan. Sebaliknya, hubungan antara Iran dan Uni Eropa(Jerman dan Prancis) akan semakin merenggang.

Menurut sebuah artikel yang ditulis Salman Rafi Sheikh berjudul:

Trump Must Tackle the SCO over Iran ,

Salah satu pertimbangan Iran merapat ke Rusia dan Cina, karena Iran yakin bahwa Prancis dan Jerman, apalagi Inggris, pada akhirnya akan memihak AS dalam melancarkan tekanan maksimum kepada Iran agar menghentikan program senjata nuklirnya. Sementara itu bagi Cina dan Rusia, bergabungnya Iran dalam persekutuan SCO akan menjadi factor penting mengingat Iran merupakan aktor penting di Timur-Tengah. Bahkan Iran merupakan aktor kunci untuk menyatukan berbagai rencana konektivitas kawasan seperti Belt Road Initiatives, SCO maupun Uni Ekonomi Ero-Asia.

Dalam situasi demikian, tren global ini akan mengarah pada terciptanya suatu kerjasama multipolar(multipolar world order) yang tidak lagi secara unipolar dimonopoli oleh AS dan Eropa. Yang tak kalah penting, bergabungnya Iran ke dalam SCO yang didasarkan persekutuan Cina-Rusia, bisa menjadi dasar untuk mengembangkan suatu kerjasama geografis baru bidang perdagangan yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Bagaimana, menarik bukan?

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments