» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Hankam
03-12-2009
Militer Indonesia
Global Future Institute Merekomendasikan Pengadaan Kapal Selam Rusia Jenis Kilo Class (Project 636/877EKM)
Penulis : Tim Global Future Institute (GFI)

Pertengahan November lalu, bukan saja kabar gembira bagi Tentara Nasional Indonesia dan Angkatan Laut pada khususnya, melainkan juga bagi hubungan persahabatan Indonesia dan Rusia. Betapa tidak. Di tengah-tengah masih berlakunya embargo penjualan peralatan militer Amerika kepada Indonesia, Rusia justru dengan penuh antusiasme memasok peralatan militer yang cukup strategis bagi pertahanan nasional bangsa kita: 17 tank ampibi jenis BMP -3 F rencananya akan segera dikirim kepada TNI Angkatan Laut kita.


Bagi Indonesia yang dikenal sebagai Negara kepulauan, pasokan 17 tank buatan Rusia tersebut tentulah sangat strategis dan efektif guna mengawal pertahanan matra laut negara kita. Namun dari segi strategi penguasaan laut negara kita secara keseluruhan, apalagi ketika harus menangkal serangan militer dari luar negeri, tentu saja kepemilikan tank ampibi masih masuk dalam kategori taktis.

Kebutuhan TNI Angkatan Laut yang jauh lebih strategis dan cukup mendesak, adalah perlunya TNI AL membeli sejumlah kapal selam untuk memperkuat matra laut negara kepulauan Indonesia.

Hal ini dengan jelas dikumandangkan oleh beberapa pakar militer dan pertahanan kita. Dalam sebuah diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Global Future Institute (GFI) di Wisma Daria Selasa (01/12), pakar ekonomi dan mantan Diplomat Departemen Luar Negeri RI Arif Budi Prayogo mengatakan bahwa pengadaan kapal selam bagi TNI AL sudah sangat mendesak.

Menurut Arif Budi Prayogo, yang juga lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, kapal selam sangat dibutuhkan bagi TNI AL karena daya tangkalnya yang cukup tinggi. Sehingga untuk menghadapi ancaman serangan militer dari luar negeri, tersedianya sejumlah kapal selam akan memudahkan TNI AL untuk menetralisasi sekecil mungkin potensi ancamann yang bakal datang dari negara-negara tetangga seperti Australia maupun Malaysia.

Pandangan Arif Budi Prayoga, didukung sepenuhnya oleh Andriyanto, Direktur Pendidikan dan Pelatihan Global Future Institute. Karena menurut pandangan Andriyanto, yang kebetulan skripsinya mengangkat tema Kebijakan Amerika Serikat dalam Memberi Bantuan Militer kepada Indonesia, kondisi geografis dan pertahanan kita memiliki nilai yang cukup strategis di kawasan Asia Pasifik. Karenanya, memiliki kapal selam sudah saatnya menjadi prioritas bagi TNI Angkatan Laut kita.

Diskusi terbatas Global Future Institute Selasa lalu, sebenarnya bertujuan membahas secara lebih mendetil rencana Departemen Pertahanan untuk membeli dua kapal selam pada 2011 mendatang. Dan untuk itu, Korea Selatan dan Rusia merupakan dua negara produsen yang menjadi pertimbangan utama Departemen Pertahanan.

Dalam pada itu, Arif Budi Prayoga menilai bahwa kapal selam buatan Rusia menurutnya jauh lebih baik. Selain murah harganya, kualitasnya pun tak kalah dibanding buatan Perancis maupun Amerika Serikat.

Andriyanto bersepakat dengan penilaian Arif Budi Prayoga. Bahkan Andriyanto, lulusan Fakultas Ilmu Politik jurusan Hubungan Internasional Universitas Nasional, mengajukan usulan yang jauh lebih konkret.

Menurut Andriyanto, yang belakangan ini menekuni berbagai jenis produk peralatan militer angkatan laut, menilai kapal selam Rusia jenis Kilo Class (Project 636/877EKM) Diesel-Electric Submarine, merupakan salah contoh produk unggulan Rusia yang kiranya layak untuk jadi pertimbangan Departemen Pertahana RI dalam membeli kapal selam pada 2011 mendatang.

Menurut penelusuran kepustakaan tim Global Future Institute, kapal selam Rusia jenis Kilo Class ini didisain oleh Kantor Pusat Perancang Angkatan Laut atau yang lebih dikenal sabagai Rubin Central Maritime Design Bureau di St. Petersburg.

Menurut penelusuran Tim Riset Global Future Instittue berdasarkan arahan dari Andriyanto, keampuhan kapal selam buatan Rusia ini memang sudah teruji baik untuk tujuan perang laut maupun tugas-tugas patroli. Artinya, kapal selam jenis Kilo Class ini selain berguna untuk tujuan perang menghadapi serangan militer dari luar negeri, juga cukup ampuh untuk menangkal berbagai kejahatan trans-nasional seperti perompakan, bajak laut dan jenis-jenis terror laut lainnya.

Menurut catatan Global Future Institute, selain jenis tersebut di atas, masih ada jenis lain seperti Project 877K dan Project 877M. Project 877 EKM sebagaimana dipresentasikan oleh Andriyanto dan Arif Budi Prayoga, merupakan kapal selam jenis export pertama yang ditawarkan oleh Rusia ke pasar.

Benar juga. Karena pada 1994, People’s Liberation Army (PLA), Angkatan Bersenjata Cina, memesan dua kapal selam jenis 877 EKM ini kepada Rusia. Dan Rusia mengirim kapal selam jenis ini ke Cina pada 1995. Maka sejak 1996, Cina merupakan konsumen pertama dari luar negeri yang menggunakan produk kapal selam jenis ini. Pada 1997 dan 1998, PLA membeli lagi dua kapal selam tambahan dari jenis tersebut di atas.

Keempat kapal selam jenis 877 EKM ini, telah digelar di beberapa wilayah strategis Cina seperti Provinsi Zhoushan dan Zhejiang, yang merupakan basis armada Angkatan laut Cina di laut Timur.  Bahkan yang lebih menarik lagi, basis kedua lokasi tersebut berdekatan dengan Selat Taiwan. Suatu sinyal bahwa Cina cukup siaga secara militer untuk sewaktu-waktu melakukan ofensif militer ke Taiwan.
Selain dari itu, ada catatan yang cukup menarik, dan kiranya bisa menjadi bahan pertimbangan cukup penting bagi Departemen Pertahanan untuk membeli kapal selam buatan Rusia ini.

Pada 2002 lalu, Angkatan Laut Cina menandatangani pembelian 8 kapal selam tambahan jenis 877 EKM ini. Pembelian kapal selam Rusia ini menurut informasi bernilai 1,5 miliar dolar Amerika. Penandatanganan dilakukan antara Angkatan Laut Cina dan Rosoboronoexport, yang merupakan perusahaan negara yang berwenangn dalam ekspor peralatan militer Rusia.

Singkat cerita, kapal selam jenis 877 EKM ini memang cukup ampuh. Buktinya, Cina yang sekarang ini termasuk jajaran negara adidaya baru di Asia Pasifik baik dari segi militer maupun ekonomi, ternyata membeli kapal selam produk Rusia tersebut untuk menghadapi dan menangkal ancaman militer yang datang dari Amerika Serikat, maupun dari Taiwan.

Berdasarkan presentasi Arif Budi Prayoga dan Andriyanto di dalam seminar terbatas Global Future Institute, maka Global Future Institute merekomendasikan Departemen Pertahanan untuk mempertimbangkan kapal selam jenis ini.

 
 

 


 
 

 

 



Artikel Terkait
» Jepang berhasil Luncurkan Roket Pembawa Satelit Mata-Mata
» TNI AL Beli 17 Tank Amphibi Buatan Rusia
» Markas Besar AS di Korsel Yang Baru Akan Berdiri Juni 2010
» Korea Selatan Serahkan 10 tank Amphibi kepada Indonesia
» Meneropong Kekuatan Angkatan Laut Bersenjata Cina
» Pakistan Pasok Bolivia Enam Pesawat Jet Buatan Cina
» Arab F-16s In Arizona



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »