» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Hankam
11-12-2009
Intelijebn Afrika Selatan
Mempkenalkan Badan Intelijen Afrika Selatan
Penulis : Tim Global Future Institute (GFI)

Di Indonesia, para pemerhati masalah internasional belum banyak yang tahu tentang The South African Secret Service (SASS), badan intelijen Afrika Selatan. Padahal, badan intelijen ini sebenarnya sama pentingnya untuk masuk dalam pengawasan Badan Intelijen Negara kita BIN, disamping dua badan intelijen Amerika dan Inggris CIA dan MI-6.


Karena menurut penelusuran Tim Global Future Institute dari berbagai bahan kepustakaan, badan intelijen Afrika Selatan ini ruang lingkup operasinya tidak saja di dalam negeri, melainkan juga mencakup berbagai operasi intelijen luar negeri dan kontra intelijen.

Dan lebih daripada itul, Afrika Selatan dari sejak masih menganut sistem diskriminasi rasial (Apartheid) hingga era pemerintahan Nelson Mandela, mempunyai hubungan tradisional dengan Inggris dan Amerika Serikat. 

Menariknya lagi, berbeda dengan Inggris dan Amerika, badan intelijen Afrika Selatan berada di bawah kendali satu kementerian, yaitu Departemen Urusan Intelijen (Ministry for Intelligence Service). Dari sini bisa disimpulkan, badan intelijen SASS ini memang istimewa sejak dari awal berdirinya.

SASS didirikan pada 1995, menyusul dikeluarkannya Undang-Undang Intelijen (Intelligence Service Act) pada 1994 dan Strategic Intelligence Act, juga pada tahun yang sama.

Selain SASS, ada dua badan intelijen lagi yang berdiri pada waktu yang hamper bersamaan: National Intelligence Agency (NIA) yang ruang lingkup wewenangnya di dalam negeri, dan National Defense Force Intelligence Division (NDFID) yang merupakan dinas intelijen militer.

Nah, SASS inilah yang harus menjadi target pengawasan negara-negara lain, termasuk Indonesia. Karena ruang lingkup operasinya yang berada di luar negeri dan sekaligus melakukan kontra intelijen, yaitu suatu operasi untuk membongkar berbagai operasi intelijen negara-negara lain.

SASS yang sekarang dipimpin oleh Mo Shaikh sebagai Direktur Jenderal, menggantikan Hilton Dennis. Sedangkan di awal berdirinya, SASS dipimpin oleh Mike Louw.

Sekadar informasi awal untuk menjadi rujukan awal dalam mendeteksi operasi intelijen SASS, ada baiknya kita kedepankan beberapa wilayah geografis yang menjadi prioritas operasi intelijen Afrika Selatan di luar negeri:

1.    Afrika Utara dan Timur Tengah.
2.    Afrika Barat dan Afrika Tengah.
3.    Amerika, Asia dan Eropa.
4.    Isu-Isu yang berkaitan dengan kerjasama multilateral di Afrika Timur.
5.    Tanduk Afrika dan beberaa kepulauan sekitarnya.


Visi dan Misi
 
Visi SASS dirumuskan secara lebih komprehensif pada 2002. Visinya adalah memberikan informasi yang sempurna, akurat, relevan, tepat waktu, bagi pemerintah dan lembaga-lembaga terkait.

Sedangkan misinya adalah mengumpulkan data-data rahasia, mengembangkan  kemitraan strategis di seluruh dunia dan organisasi-organisasi multilateral, serta menyediakan informasi kepada klien dalam bentuk data yang resmi.

Adapun struktur organisasi SASS bertumpu pada dua divisi penting yang diketuai oleh dua wakil direktur jenderal, yaitu divisi pengumpulan data dan informasi, serta divisi dalam penyediaan layanan informasi kepada korporasi.


Ekses dari Operasi SASSS

Seperti juga yang dialami berbagai badan intelijen di berbagai negara, SASS juga sempat diterpa skandal. Pada 1997, mantan direktur SASS Solly Simelane, kebongkar keterlibatannya dalam penyelundupan Mariyuana dari Amerika Utara ke Afrika Selatan.

Ini terjadi ketika Simelane bertugas di Kolumbia. Di situlah dia kedapatan menyalahgunakan dana operasi untuk biaya penyelundupan tersebut. SASS tentu saja membantah hal itu dan mengelak bahwa Simelane tidak pernah secara resmi ditugaskan ke Kolombia. Namun dalam operasi intelijen, sudah ada kesepakatan bahwa badan intelijen resmi akan membantah keterlibatan agennya dalam melakukan berbagai operasi ketika akhirnya terbongkar oleh negara yang menjadi target operasi SASS.

Karena itu, sebaiknya berbagai elemen intelijen di tanah air agar semakin waspada, apalagi dengan maraknya keterlibatan warga afrika dalam berbagai perdaganan narkoba yang berhasil diungkap oleh kepolisian kita.




Artikel Terkait
» Global Future Institute Merekomendasikan Pengadaan Kapal Selam Rusia Jenis Kilo Class (Project 636/877EKM)
» Jepang berhasil Luncurkan Roket Pembawa Satelit Mata-Mata
» TNI AL Beli 17 Tank Amphibi Buatan Rusia
» Markas Besar AS di Korsel Yang Baru Akan Berdiri Juni 2010
» TRIAD, Jaringan Pebisnis Cina Perantauan dan Jaringan Intelijen CHIS
» Korea Selatan Serahkan 10 tank Amphibi kepada Indonesia
» Global Future Institute Mendesak Menteri Pertahanan Baru Segera Membeli Beberapa Kapal Selam Berteknologi Tinggi, Berkemampuan Canggih dan Harga Relatif Murah
» Meneropong Kekuatan Angkatan Laut Bersenjata Cina



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »