» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Analisis
Indonesia
Mengawasi Asia Tenggara Lewat Indonesia

Gagal dalam usahanya sebagai pengendali tunggal terhadap Selat Malaka, Amerika sepertinya tidak kehilangan akal. Sekarang mencoba taktik baru, secara aktif mendorong Indonesia sebagai sekutu terdepan di Asia Tenggara. Itulah sebabnya negara Paman Sam ini berusaha menjalin kerjasama dalam bidang militer-strategis.


Tujuan akhir yang hendak dicapai, apalagi kalau bukan untuk memperoleh akses bebas terhadap sumberdaya alam Indonesia dengan membangun pangkalan militer di wilayah NKRI, guna mengontrol selat Malaka.
Selain itu, melalui taktik ini, Amerika berharap sekaligus bisa mengendalikan dua negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia dan Thailand. Dan kalau taktis ini berjalan lancar, praktis kedua negara ASEAN tersebut bisa diawasi oleh Amerika melalui wilayah Indonesia.
Sisi strategis Indonesia di mata Gedung Putih ada dua. Pertama, karena lokasi geostrategis Indonesia yang kaya akan sumberdaya alam. Tapi yang jauh lebih penting, karena kewibawaan dan pengaruhnya yang besar di kalangan negara-negara ASEAN.  Sehingga Amerika berusaha memanfaatkan kemampuan Indonesia di negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam(OKI), agar bisa memberikan dampak atas penyelesaian berbagai masalah krusial seperti situasi di Afghanistan, Irak, program nuklir Iran, dan situasi krisis di Timur Tengah pada umumnya.
Masuk akal jika Washington mendorong pemerintahan SBY agar meningkatkan intesiifikasi hubungan bilateral, melalui latihan militer bersama, termasuk di wilayah Selat Malaka. Bahkan lebih daripada itu, Amerika juga melakukan pelatihan para kader militer Indonesia di Amerika Serikat, selain pelatihan bagi para staf muda birokrasi dari berbagai kementerian dan media massa besar berskala nasional maupun daerah. Targetnya, tentu saja agar mereka menjadi orang-orang yang pro Amerika.
Hasilnya bahkan sudah mulai terlihat akhir-akhir ini. Kementerian Pertahanan baru-baru ini lebih aktif membeli berbagai peralatan militer dari Amerika. Bahkan pemerintah SBY sudah setuju Indonesia mengizinkan Amerika meletakkan radarnya di wilayah Indonesia. Lebih celaka lagi, ada banyak oknum-oknum angggota DPR yang pro kebijakan strategis Amerika di Indonesia.
Sekadar sebagai ilustrasi, beberapa produk perundang-undangan yang kemudian menjadi UU produk DPR, ternyata di belakangnya mendapat dukungan dari negara-negara asing. Menurut informasi dari seorang petinggi dalam bidang intelijen strategis, UU BUMN ternyata tidak lepas dari peran Price Water Copper. Sedangkan UU Migas merupakan hasil pengaruh dari World Bank. Dan UU kelistrikan karena pengaruh dari Asian Development Bank. Sampai tingkat tertentu, jika informasi ini otentik, pengaruh Amerika praktis cukup besar meskipun tidak secara langsung, dan dimainkan melalui forum multilateral.
Inilah sebuah gambaran nyata yang memperkuat kekhawatiran beberapa kalangan bahwa pada akhirnya hal ini bisa merugikan kedaulatan NKRI. Tiga contoh produk UU hasil pengaruh dari pemangku kepentingan(stakeholders) internasional tersebut, membuktikan betapa mudahnya Indonesia berada dalam  usaha kontrol kebijakan Amerika baik dalam bidang politik dalam negeri maupun luar negeri.
Kembali ke soal dipasangnya radar Amerika di wilayah Selat Malaka, Februari lalu 5 unit radar dalam proses pemasangan di wilayah Selat Malaka. Bahkan pada tahap berikutnya, 7 radar lagi siap dipasang di Selat Makasar.
Bahkan bantuan Amerika tidak sebatas dalam pengadaan peralatan. Di Riau baru-baru ini, personil teknis Amerika terlihat membantu TNI dalam memonitor radar. Kenyataan ini tentu saja harus di baca sebagai upaya Amerika menanam jasa kepada para elit politik Indonesia, sehingga Amerika secara persuasif melemahkan kendali TNI dan Polri terhadap kedaulatan wilayah NKRI.
Karena dengan pemasangan radar-radar Amerika di wilayah RI dan Selat Malaka khususnya, Amerika tidak saja bisa mengontrol Indonesia, melainkan juga seluruh wilayah Selat Malaka. Sehingga Amerika bisa memonitor Malaysia melalui Indonesia. 
Bantuan Amerika di bidang kemiliteran nampaknya semakin meningkat di era Presiden Bush. Baru-baru ini Indonesia menjajagi kemungkinan mendapatkan tank-tank ampibi dari Amerika. Amerika kabarnya sudah setuju, hanya saja Amerika meminta kejelasan apa imbalan dan keuntungan yang bisa diraih dari pengadaan bantuan perlatan militer tersebut.
Cengkeraman ekonomi Amerika di Indonesia, semakin nyata dengan penguasaan sektor energi dan minyak Indonesia oleh sebuah perusahaan Yahudi bernama Halliburton. Sementara sektor telekomunikasi berada dalam pengaruh perusahaan Yahudi lainnya, Telcos.



Artikel Terkait
» Perang Ekonomi AS: Ladang Pembantaian tanpa Hingar Bingar (Bagian II)
» Perang Ekonomi AS: Ladang Pembantaian tanpa Hingar Bingar (Bagian 1)
» Kesiapan Indonesia Menyongsong Kebangkitan Cina Sebagai Negara Adidaya Baru
» Barrack Obama dan Watak Dasar Politik Luar Negeri Amerika
» Buku Tim Weiner Pisau Bermata Dua Bagi Indonesia
» Jugun Ianfu dan Program Penguatan Indentitas Nasional Jepang
» Makna Strategis Kunjungan Presiden Putin Ke Indonesia
» Strategi Baru Bush Pertajam Eskalasi Konflik



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »