» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Pertambangan
19-08-2013
Freeport Langgar UU, Pemerintah Diminta Putus Kontrak

Pemerintah Indonesia diminta untuk tegas menindaklanjuti pernyataan dari PT Freeport Indonesia yang menolak melaksanakan UU Nomor 4 Tahun 2009 terkait pelarangan ekspor bahan mentah.


Jika terus melanggar, pemerintah Indonesia harus berani memutus kontrak dengan perusahaan asal Amerika Serikat itu.

Penegasan itu disampaikan oleh pengamat energi, Kurtubi, kepada Metrotvnews.com di Jakarta, Minggu (18/8).

Ia meminta agar pemerintah harus bisa menjalankan UU, terlebih masalah ini berkaitan dengan perusahaan asing yang sudah beraviliasi di Indonesia selama puluhan tahun.

"Pemerintah dipilih dan dibentuk untuk melaksanakan UU, presiden juga. Jadi pihak manapun yang melanggar UU itu harus ditindak, kalau memang masih tidak mau melaksanakan, putus saja kontraknya," tegas Kurtubi.

Sementara itu, jika memang antara pemerintah Indonesia dan Freeport tidak juga menemui jalan tengah untuk permasalahan ini, pemerintah harus berani meminta Freeport untuk memberikan divestasi sebesar 51% ke pemerintah Indonesia.

"Jalan tengahnya itu ya Freeport harus memberikan kompensasi berupa divestasi sebesar 51% ke pemerintah Indonesia. Kalau memang anda tetap tidak mau, putus saja kontraknya," jelas Kurtubi.

Seperti yang diketahui, Pemerintah tetap meminta Freeport Indonesia untuk mengolah seluruh hasil tambangnya dengan membangun smelter di dalam negeri selambat-lambatnya 2014. Hal tersebut menjadikan salah satu syarat mutlak dalam UU Nomor 4/2009 tentang mineral dan batu bara yang harus dipenuhi Freeport jika ingin terus beroperasi di Tanah Air.

Nantinya, dalam aturan tersebut, perusahaan tambang dilarang untuk mengekspor hasil bahan mentah, tanpa melalui proses pengolahan di dalam negeri. Namun tampaknya kewajiban itu mendapat penolakan dari Freeport karena dapat mengurangi keuntungan mereka yang sangat besar dari cadangan emas di Papua.


Sumber :www.metrotvnews.com
Artikel Terkait
» 70.000 Ton Uranium Indonesia Jadi Incaran Negara Penjajah
» Wajib Bangun Smelter, Menteri ESDM: Tambang Mineral Dilarang Ekspor di 2014
» Siaran Pers IRESS: Blok Mahakam: Lawan Rekayasa dan Tekanan Asing!
» Kepentingan USA Di Bumi Papua (Indonesia)
» Silau Emas Pegunungan Bintang



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »