» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Pertambangan
27-09-2013
Oleh : Otjih Sewandarijatun *)
Darurat Kondisi Pertambangan, Bukti Ketidakpedulian Energy Security

Pada 24 September 2013, The Jakarta Post memuat judul berita “Two Shale Gas Blocks Up For Auction” yang intinya memberitakan tentang rencana pemerintah menawarkan dua blok gas shale untuk dilelang akhir tahun ini sebagai bagian dari proyek jangka panjang pengembangan sumber daya hidrokarbon non konvensional di Indonesia. Direktur Gas Bumi pada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, Hendra Fadly mengatakan pihaknya sedang meninjau dua blok, di Kisaran, Sumatera Utara, dan Tanjung Barat, Kalimantan Selatan sebelum menawarkannya untuk dilelang yang akan berpotensi untuk mendatangkan investor–investor baru. Menurutnya, proses peninjauan ini akan memakan waktu kurang lebih tiga bulan sebelum melepas dua blok gas shale tersebut untuk dilelang.


Dari berita tersebut, jika dianalisis maka setiap kali kita berbicara tambang, maka yang tergambar hanyalah kekayaan bagi siapa yang mampu mengelolanya.Ada analisa yang menyimpulkan situasi kekayaan  pertambangan  sumber energi (gas, minyak, batubara dll) milik bangsa Indonesia dalam keadaan darurat. Dikatakan darurat karena depositnya semakin kecil, bahkan beberapa lokasi sudah habis. Juga dikatakan darurat adalah dari sudut kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia ternyata sama sekali tidak nampak.Ada kecenderungan semua jenis kekayaan alam telah “dikudeta” oleh komunitas WNI dan asing yang bekerja sama dengan seolah olah memberlakukan mythos hanya merekalah manusia-manusia yang mengerti, mampu dan bisa mengelola kekayaan alam terserbut. Satu deretan aturan mereka susun dengan dasar berbagai argumentasi teknologi dan hanya merekalah yang tahu melakukan peratutan-peraturan tersebut.  Komunitas ini pada dasarnya telah menjadi penguasa dari wilayah-wilayah  tambang negeri ini dengan alasan merekalah yang bisa melakukannya. Semaikin peliknya jenis tambang yang ada, semakin kuatlah dominasi sekelompok orang atas kawasan tambang yang bersangkutan.

Bung Karno pada awal kemerdekaan  berpendapat agar berbagai tambang yang dimiliki bangsa Indonesia tidak terlalu buru-buru dieksploitasi sampai bangsa Indonesia memiliki tenaga ahli yang cukup untuk merngelolanya  sendiri.Namun problemanya kini ternyata bukan hanya tenaga ahli, tetapi harus dicegah kawasan  tambang akhirnya tidak hanya menjadi monopoli  orang-orang yang ahli untuk mernikmatinya.Negara-negara kapitalis lebih unggul dari negara-negara komunis, dalam mengendalikan terjadinya penumpukan kekayaan oleh seseorang derngan pengenaan pajak yang tinggi.Hal inilah yang nampaknya harus kita pelajari dan kita laksanakan dinegara ini.

*) Penulis adalah alumnus Udayana, Bali.



Artikel Terkait
» Dana Pensiun Swedia Tarik Aset Mereka dari Freeport
» Kondisi Pertambangan Indonesia Dalam Keadaan Darurat
» Freeport Langgar UU, Pemerintah Diminta Putus Kontrak
» 70.000 Ton Uranium Indonesia Jadi Incaran Negara Penjajah
» Wajib Bangun Smelter, Menteri ESDM: Tambang Mineral Dilarang Ekspor di 2014



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »