» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Pertambangan
26-12-2013
Muhammad Yazid
Freeport dan Newmont belum memurnikan konsentrat

Dua perusahaan pemegang konsesi kontrak karya (KK), yaitu PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara sering kali menyatakan telah menghasilkan nilai tambah di dalam negeri hingga 95% hasil dari pengolahan bijih tembaga. Namun sejatinya, kewajiban untuk memurnikan hasil tambang tersebut seharusnya tidak mesti dilonggarkan karena sudah diamanatkan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.


Simon F Sembiring, Pengamat Pertambangan mengatakan, tujuan UU Minerba sejatinya bukan hanya meminta Freeport dan Newmont untuk menghasilkan nilai tambah bijih tembaga menjadi 100%. "Justru mineral ikutan yang ada dalam mineral mentah (ore) atau konsentrat yang nanti bisa kita peroleh di dalam negeri, misalnya sulfur, serta mineral jarang yang selama ini tidak dibayar pembeli dari luar negeri," kata dia ke KONTAN, awal pekan ini.

Sejatinya, klaim telah memperoleh nilai tambah 95% dari Freeport dan Newmont tidak sepenuhnya keliru. Pasalnya, kedua perusahaan tersebut sudah mampu menghasilkan produk tambang dari semula hanya bongkahan batu pegunungan yang tidak bernilai, menjadi konsentrat dengan kadar bijih tembaga sekitar 30% hingga 40%.

Sekadar ilustrasi, harga bijih tembaga berdasarkan harga patokan ekspor (HPE) sekitar US$ 2.165 per ton, sedangan logam tembaga berkadar 99,99% (cupper cathode) mencapai US$ 6.000 per ton. Andaikata pengusaha menjual konsentrat dengan jumlah 1.000 ton, maka pemasukan yang diperoleh mencapai US$ 2,16 juta.

Sementara, jika 1.000 ton konsentrat tersebut dimurnikan menjadi cupper cathode, maka hasil produksinya akan menyusut menjadi sekitar 400 ton logam tembaga. Dengan demikian, penjualan logam tembaga akan menghasilkan pemasukan sekitar US$ 2,4 juta.

Bila nilai tambah dari logam tembaga  sebesar 100%, tentu perolehan pertambahan nilai dari pengolahan bijih mineral menjadi konsentrat sudah lebih dari 90%, bahkan bisa mencapai 95%.

Namun persoalannya, perolehan nilai tambah tersebut dengan mengesampingkan produk sisa olahan dari konsentrat tembaga. Di mana, produk tersebut berupa anode slime yang merupakan bahan baku logam emas dan perak, slag yang dapat digunakan untuk bahan baku industri semen, serta sulfat untuk industri pupuk dan petrokimia.

Asal tahu saja, harga emas sekarang sekitar US$ 1.300 per ons troi (oz), sedangkan slag sekitar US$ 2 per ton, dan US$ 20 per ton. Karena sangat bernilainya produk samping olahan ini, konsentrat tembaga sudah seharusnya dimurnikan di dalam negeri.

Menurut Simon, kewajiban pemurnian inipun sudah sangat jelas diamanatkan dalam Pasal 170 UU Minerba, dengan batas waktu hingga 12 Januari depan. "Masih belum tegasnya pemerintah akan larangan ekspor, bisa jadi karena permintaan investor asing seperti Jepang, karena hampir semua ore dan konsentrat tembaga kita diekspor ke sana," ujar dia.

Tambah lapangan kerja

Selain memberikan manfaat nilai tambah, pembangunan pabrik pengoalahan dan pemurnian (smelter) tembaga di dalam negeri tentunya juga akan memberikan multiplier effect khususnya bagai wilayah setempat. Bahkan, daya serap tenaga kerja dari sektor ini jauh lebih tinggi dibandingkan jika hanya mengandalkan sektor pertambangan.

Herman Seran, Direktur PT Batutua Tembaga Raya mengatakan, sekarang ini pihaknya dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 215 orang, yang terdiri dari 39 orang sebagai karyawan di areal tambang, dan 176 yang bekerja di pabrik copper cathode dengan kapasitas 3.000 ton per tahun. "Per September kemarin, ada 215 orang karyawan di projek Tembaga Wetar, jumlaj ini belum termasuk karyawan dari kontraktor," kata dia.

Bahkan, dengan adanya rencana peningkatan kapasitas pabrik menjadi 28.000 ton per tahun, kebutuhan anakan tenaga kerja otomastis meningkat, yakni menjadi sekitar 500 orang. Bahkan, menurut Herman, selama konstruksi perluasan pabrik berlangsung, pihaknya berencana akan memperkerjakan sebanyak 900 orang yang sebagian besar berasal dari masyarakat lokal.


Sumber :kontan.co.id

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »