» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Teknologi Nuklir
08-02-2014
Senjata Nuklir AS
Program Modernisasi Senjata Nuklir AS

Amerika Serikat diam-diam sukses menguji coba rudal nuklir B-61 versi terbaru, yang jelas-jelas bertentangan dengan semangat Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), di mana menyerukan perlucutan senjata pemusnah massal.


Departemen Keamanan Nasional Nuklir AS mengatakan bahwa uji coba itu dilakukan pada Selasa lalu oleh laboratorium nasional Los Alamos dan Sandia. Tes itu dimaksudkan untuk memverifikasi bagaimana model baru bom B-61 akan bekerja di bawah kondisi normal atau skenario kecelakaan dan akurasi rudal tersebut.

Para pejabat Washington mengatakan bahwa langkah-langkah teknis telah dilakukan selama dua tahun lebih guna mempersiapkan penggunaan potensial bom B-61 dalam situasi yang mengancam keamanan Amerika.

Meskipun ada upaya internasional untuk mengurangi arsenal nuklir dan melaksanakan NPT yang bertujuan untuk menghancurkan senjata terlarang itu, namun AS tetap berkomitmen memodernisasi persenjataan nuklirnya dan bertekad mempertahankan arsenal nuklirnya untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Sejalan dengan itu, AS akan mengeluarkan dana 355 miliar dolar selama 10 tahun ke depan untuk program modernisasi bom atom, memperbaiki sistem peluncuran, dan meningkatkan kualitas laboratorium militer.

Angka itu hampir 150 miliar dolar lebih besar dari perkiraan anggaran belanja militer yang diserahkan oleh pemerintahan Barack Obama kepada Kongres tahun lalu.

Presiden Obama telah mengajukan anggaran 23.1 miliar dolar untuk kekuatan nuklir AS pada tahun fiskal 2014, termasuk 18 miliar dolar untuk mempertahankan senjata dan laboratorium pendukung serta kapal selam, pesawat pembom, dan rudal.

Meski adanya kesepakatan START II dengan Rusia untuk mengurangi persenjataan nuklir strategis, tapi AS antusias untuk meningkatkan kemampuan senjata nuklirnya. Sebuah laporan mencatat bahwa AS juga menghabiskan dana besar untuk kegiatan yang berhubungan dengan nuklir lainnya, termasuk biaya perawatan senjata dan sistem pertahanan rudal.

Saat ini, 200 bom nuklir B-61 yang ditempatkan di Eropa akan dipasang sirip ekor baru yang memakan biaya sekitar 11 miliar dolar. Bom-bom tersebut disimpan di Belgia, Belanda, Jerman, Italia, dan Turki. Langkah itu bertujuan untuk memberikan misi baru dan kemampuan baru kepada bom nuklir B-61.

Menurut Pusat Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi, AS diyakini menyebarkan sekitar 1.950 hulu ledak nuklir strategis, termasuk sekitar 200 bom B-61 yang ditempatkan di lima negara anggota NATO. Padahal pada 2010 lalu, pemerintah AS berjanji untuk mengurangi arsenal nuklirnya dengan tidak mengembangkan hulu ledak nuklir baru.

Keberadaan senjata nuklir AS di Eropa sampai sekarang masih menjadi perdebatan hangat, terutama di negara-negara yang menjadi basis rudal nuklir Washington.

Kebanyakan warga Eropa mengira bahwa AS akan mengeluarkan persenjataan nuklirnya dari benua itu setelah berakhirnya Perang Dingin, tapi dalam prakteknya, Washington selain mempertahankan arsenal nuklir taktisnya di Eropa, juga mengeluarkan biaya besar untuk peremajaan mereka.

AS beralasan bahwa kebijakan itu ditujukan untuk menjaga keamanan Eropa. Namun pada dasarnya, AS ingin mengontrol dan bahkan mengancam keamanan Rusia serta rival-rivalnya yang lain. (TGR/IRIB Indonesia)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »