» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Teknologi Nuklir
26-02-2014
Konvensi Internasional Penanggulangan Tindakan Terorisme Nuklir
RI Sahkan Konvensi Internasional Penanggulangan Tindakan Terorisme Nuklir

Pemerintah RI dan DPR RI, Selasa (25/02) menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pengesahan International Convention for the Suppression of Acts of Nuclear Terrorism (Konvensi Internasional Penanggulangan Tindakan Terorisme Nuklir) dalam Sidang Paripurna DPR RI.


Konvensi yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi MU PBB No. 29/290 tanggal 13 April 2005 dan mulai berlaku pada tanggal 7 Juli 2007 ini mengatur secara komprehensif mengenai tindak pidana terorisme nuklir.

Melalui pengesahan ini, Indonesia menjadi negara pihak ke-92 dan negara ASEAN pertama yang menjadi pihak pada Konvensi ini serta merupakan konvensi kedelapan dari enam belas konvensi internasional terkait penanggulangan terorisme yang telah diratifikasi Indonesia.

Dalam Pendapat Akhir Presiden yang dibacakan oleh Menlu RI, disampaikan bahwa "pengesahan Konvensi merupakan bentuk nyata komitmen Indonesia dalam mewujudkan keamanan dunia serta bagian dari upaya Indonesia untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan bahan-bahan dan teknologi nuklir serta zat radioaktif oleh pihak yang tidak bertanggungjawab".

Dengan meratifikasi Konvensi ini, lanjut Menlu Marty, Indonesia diharapkan dapat memperkuat sistem keamanan nuklir secara menyeluruh mengingat manfaat ekonomi yang terkandung dalam bahan nuklir dan zat radioaktif bagi sektor industri, penelitian, dan kesehatan.

Selain itu, peningkatan perizinan kepemilikan bahan nuklir dan zat radioaktif serta limbah zat radioaktif yang semakin bertambah mendorong Pemerintah untuk memperkuat pengaturan terhadap keamanan nuklir agar tidak disalahgunakan.

Dengan adanya pengaturan dan pengawasan yang ketat terhadap kepemilikan bahan nuklir dan zat radioaktif akan memperkecil kemungkinan penyalahgunaan bahan-bahan tersebut untuk pembuatan senjata nuklir.

Dalam laporan yang disampaikan pimpinan Komisi I, Agus Gumiwang Kartasasmita kepada pimpinan Rapat Paripurna, digarisbawahi bahwa "pengesahan konvensi ini akan memperkuat fondasi hukum di Indonesia, utamanya terkait penanggulangan terorisme".

Konvensi ini memiliki pengaturan yang komprehensif dimana tindakan terorisme nuklir diidentifikasi ke dalam beberapa kategori, tambah Agus.

Sebagai negara kepulauan, tantangan yang dihadapi Indonesia semakin besar dengan meningkatnya lalu lintas pergerakan bahan nuklir dan zat radioaktif yang dapat membuka peluang dimanfaatkannya bahan-bahan tersebut untuk tujuan terorisme.

Untuk itu, pengesahan Konvensi ini juga membuka akses bagi aparat penegak hukum di Indonesia untuk melakukan kriminalisasi tindakan terorisme nuklir dan memperkuat pengawasan terhadap lalu lintas penggunaan bahan nuklir dan radioaktif di wilayah Indonesia.

Pengesahan Konvensi juga memperkuat dan melengkapi berbagai peraturan perundangan yang ada, seperti UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, UU No. 15 Tahun 2003 tentang Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme, Keputusan Presiden No. 49 Tahun 1986 tentang Ratifikasi Convention on the Physical Protection of Nuclear Material, dan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2009 tentang Pengesahan Amendment of the Convention on the Physical Protection of Nuclear Material. (Kemlu RI)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Imigrasi Bekasi Deportasi 9 WNA China

Jasa Presiden Soekarno buat bangsa Indonesia

RESENSI: Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »