» Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II) » Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi » Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I) » Melacak Jejak Para Taipan Indonesia Investasi di Daratan Cina » Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua


Hankam
17-03-2014
MH 370 Diisukan Didaratkan di Pulau yang Dikuasai CIA

Setelah Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengumumkan Malaysia Airlines MH 370 dipastikan terbang ke Samudera Hindia, muncul spekulasi baru pesawat tersebut menuju ke salah satu pulau terpencil di tengah Samudera Hindia, Pulau Diego Garcia.


Dalam konferensi pers Sabtu (15/3/2014) kemarin, Najib Razak menyebut ada dua koridor yang mungkin menjadi lokasi pendaratan MH 370 yang hilang. Koridor utara antara Turkmenistan dan Kazakhtan dan Koridor selatan di Samudera Hindia yang berbatasan dengan Indonesia.

Dari berbagai diskusi yang hangat diperbincangkan di dunia maya, sebagian menyebut pesawat itu ada kemungkinan terbang ke koridor selatan, yaitu ke pulau Diego Garcia. Lantas, seperti apa pulau Diego Garcia?

Terletak di koordinat 7°18′48″ LS dan 72°24′40″ BT, pulau ini dinamakan sesuai penemunya, yaitu pelaut asal Spanyol Diego García de Moguer. Dia menemukan kepulauan yang tak berpenghuni ini pada tahun 1500an.

Pulau ini berada di sebelah barat Indonesia dan selatan India. Benar-benar di tengah Samudera Hindia. Penduduk mulai hadir sejak 1793, yaitu para pekerja perkebunan kelapa yang didatangkan dari Afrika hingga China.

Mulai 1814, pulau ini menjadi milik Inggris, tepatnya saat perang Napoleon yang dikendalikan melalui Mauritius. Kemudian pada tahun 1965, Inggris mengendalikan sepenuhnya Diego Garcia dan kepulauan di sekitarnya dari London dan wilayah itu diberi nama British Indian Ocean Territory (BIOT).

Pengendalian secara penuh atas pulau ini bukannya tanpa alasan. Saat itu Inggris sedang mempersiapkan kerjasama keamanan dengan Amerika Serikat. Penduduk yang mendiami pulau ini sekitar 200 tahun mulai diminta keluar pada 1971.

Hanya anggota militer Inggris dan AS yang kemudian berhak mendiami kawasan ini. Praktis, pulau ini menjadi tertutup dan terkesan "misterius". Pada perang Irak (2003-2006) dan perang Afganistan (2001-2006), para tentara sekutu, yaitu dari Australia, Jepang, Korea Selatan dan Filipina tinggal di Diego Garcia, dan menyiapkan keperluan perang dari pulau ini.

Sebagai daerah militer, Pulau Diego Garcia tentu memiliki landasan pacu. Mengutip Wikipedia, landasan pacu di pulau ini berjenis ETOPS (Extended Range Twin Engine Operations), yaitu landasan darurat untuk penerbangan komersial yang melintasi rute Samudera Hindia.

Hanya pesawat komersial yang bermesin ganda, yang bisa mendarat di lokasi ini. Sementara, jenis pesawat berbadan lebar yang bisa mendarat di Pulau Diego Garcia adalah Airbus A330, Boeing 767 ataupun Boeing 777.

Isu intelijen

Dari berbagai literatur menyebutkan Diego Garcia menjadi salah satu lokasi kegiatan intelijen AS, yaitu CIA. Hal ini ditegaskan oleh laporan Dewan Keamanan Eropa 2007, yang menyatakan pulau ini telah digunakan oleh AS untuk program yang kontroversial yaitu mengangkut para narapidana kelas berat.

Hal ini kemudian dipertegas oleh laporan Pemerintah Inggris pada 2008 yang menyebutkan AS pernah melakukan pengisian bahan bakar pesawat di Diego Garcia pada 2002, di mana pesawat itu digunakan untuk mengangkut narapidana yang "bernilai tinggi" (terorisme).

Disebut-sebut, salah satu narapidana AS yang pernah singgah di pulau ini adalah Khalid Sheikh Mohammed.

Isu seputar intelijen juga pernah dibocorkan oleh Wikileaks. Dalam kabel diplomatik yang dibocorkan Edward Snowden itu disebutkan pulau Diego Garcia dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai cagar alam laut. Ini dimaksudkan untuk mempersulit para penduduk yang pernah tinggal di pulau tersebut, mengklaim kembali.

Berikut kutipan dari kabel diplomatik AS yang dibocorkan WIkileaks:

"....seorang pejabat senior luar negeri dan persemakmuran Inggris telah menginformasikan bahwa isu menetapkan cagar alam taman laut terbesar di dunia, termasuk di pulau Diego Garcia tidak akan melanggar kepentingan militer. Dia (pejabat senior Inggris) setuju bahwa Inggris dan AS harus bernegosiasi secara berhati-hati untuk memastikan bahwa kepentingan militer AS tetap terlindungi...."

Dalam konferensi pers Sabtu kemarin, PM Najib Razak juga mengonfirmasi bahwa MH 370 masih mengirimkan sinyal ke satelit pada pukul 08.11 waktu Kuala Lumpur, atau lebih dari 6 jam setelah pesawat itu dinyatakan hilang. Artinya, pesawat tersebut masih mengudara ke tujuan tertentu.

Ada unsur kesengajaan dari salah satu pilot yang terbang untuk mematikan transponder komunikasi. Selain itu, otoritas penerbangan Malaysia juga menyebut bahwa aksi "penghilangan" MH 370 itu dilakukan oleh seseorang yang sangat ahli dalam penerbangan.

Lantas, apakah MH 370 memang menuju ke Pulau Diego Garcia dengan motif tertentu? Mari kita tunggu perkembangannya......."


Sumber :www.tribunnews.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi
Soal penguasaan lahan tanah dan properti, jangan dianggap enteng. Karena dalam skema ekonomi para Taipan dan pelaku bisnis asing, hal itu merupakan tahapan awal untuk menanam ...

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua

Anthrax, Proyek Militer AS Berkedok Proyek Riset Kesehatan (Bag I)

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Menyambut Baik Babak Baru Kerjasama Energi Nuklir Indonesia-Rusia

Lihat lainya »
   Arsip
Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi

Ini Alasan MUI keluarkan Fatwa Haram terhadap program BPJS

Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

ASEAN-Tiongkok komitmen jaga stabilitas Laut China Selatan

Obama Minta Ethiopia Lebih Terbuka

BIN dan Tolikara

Korban Tewas 4000 Lebih, HRW Nyatakan Saudi Berpotensi Lakukan Kejahatan Perang

Dewan Keamanan Perpanjang Mandat Misi PBB di Somalia

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »