» Gagasan Mengisolasi Rusia dari G20, Lumpuhkan Skema Kerjasama Ekonomi ala BRICS bagi Negara-Negara Berkembang » Ironi Geopolitik (3) » Geopolitik Antara Dua Karang (2) » Membaca Perilaku Geopolitik (1) » Manuver AS-Uni Eropa Singkirkan Rusia dari G-20 Berakibat Buruk Bagi Perekonomian Eropa dan Negara-Negara Berkembang


Hankam
17-03-2014
MH 370 Diisukan Didaratkan di Pulau yang Dikuasai CIA

Setelah Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengumumkan Malaysia Airlines MH 370 dipastikan terbang ke Samudera Hindia, muncul spekulasi baru pesawat tersebut menuju ke salah satu pulau terpencil di tengah Samudera Hindia, Pulau Diego Garcia.


Dalam konferensi pers Sabtu (15/3/2014) kemarin, Najib Razak menyebut ada dua koridor yang mungkin menjadi lokasi pendaratan MH 370 yang hilang. Koridor utara antara Turkmenistan dan Kazakhtan dan Koridor selatan di Samudera Hindia yang berbatasan dengan Indonesia.

Dari berbagai diskusi yang hangat diperbincangkan di dunia maya, sebagian menyebut pesawat itu ada kemungkinan terbang ke koridor selatan, yaitu ke pulau Diego Garcia. Lantas, seperti apa pulau Diego Garcia?

Terletak di koordinat 7°18′48″ LS dan 72°24′40″ BT, pulau ini dinamakan sesuai penemunya, yaitu pelaut asal Spanyol Diego García de Moguer. Dia menemukan kepulauan yang tak berpenghuni ini pada tahun 1500an.

Pulau ini berada di sebelah barat Indonesia dan selatan India. Benar-benar di tengah Samudera Hindia. Penduduk mulai hadir sejak 1793, yaitu para pekerja perkebunan kelapa yang didatangkan dari Afrika hingga China.

Mulai 1814, pulau ini menjadi milik Inggris, tepatnya saat perang Napoleon yang dikendalikan melalui Mauritius. Kemudian pada tahun 1965, Inggris mengendalikan sepenuhnya Diego Garcia dan kepulauan di sekitarnya dari London dan wilayah itu diberi nama British Indian Ocean Territory (BIOT).

Pengendalian secara penuh atas pulau ini bukannya tanpa alasan. Saat itu Inggris sedang mempersiapkan kerjasama keamanan dengan Amerika Serikat. Penduduk yang mendiami pulau ini sekitar 200 tahun mulai diminta keluar pada 1971.

Hanya anggota militer Inggris dan AS yang kemudian berhak mendiami kawasan ini. Praktis, pulau ini menjadi tertutup dan terkesan "misterius". Pada perang Irak (2003-2006) dan perang Afganistan (2001-2006), para tentara sekutu, yaitu dari Australia, Jepang, Korea Selatan dan Filipina tinggal di Diego Garcia, dan menyiapkan keperluan perang dari pulau ini.

Sebagai daerah militer, Pulau Diego Garcia tentu memiliki landasan pacu. Mengutip Wikipedia, landasan pacu di pulau ini berjenis ETOPS (Extended Range Twin Engine Operations), yaitu landasan darurat untuk penerbangan komersial yang melintasi rute Samudera Hindia.

Hanya pesawat komersial yang bermesin ganda, yang bisa mendarat di lokasi ini. Sementara, jenis pesawat berbadan lebar yang bisa mendarat di Pulau Diego Garcia adalah Airbus A330, Boeing 767 ataupun Boeing 777.

Isu intelijen

Dari berbagai literatur menyebutkan Diego Garcia menjadi salah satu lokasi kegiatan intelijen AS, yaitu CIA. Hal ini ditegaskan oleh laporan Dewan Keamanan Eropa 2007, yang menyatakan pulau ini telah digunakan oleh AS untuk program yang kontroversial yaitu mengangkut para narapidana kelas berat.

Hal ini kemudian dipertegas oleh laporan Pemerintah Inggris pada 2008 yang menyebutkan AS pernah melakukan pengisian bahan bakar pesawat di Diego Garcia pada 2002, di mana pesawat itu digunakan untuk mengangkut narapidana yang "bernilai tinggi" (terorisme).

Disebut-sebut, salah satu narapidana AS yang pernah singgah di pulau ini adalah Khalid Sheikh Mohammed.

Isu seputar intelijen juga pernah dibocorkan oleh Wikileaks. Dalam kabel diplomatik yang dibocorkan Edward Snowden itu disebutkan pulau Diego Garcia dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai cagar alam laut. Ini dimaksudkan untuk mempersulit para penduduk yang pernah tinggal di pulau tersebut, mengklaim kembali.

Berikut kutipan dari kabel diplomatik AS yang dibocorkan WIkileaks:

"....seorang pejabat senior luar negeri dan persemakmuran Inggris telah menginformasikan bahwa isu menetapkan cagar alam taman laut terbesar di dunia, termasuk di pulau Diego Garcia tidak akan melanggar kepentingan militer. Dia (pejabat senior Inggris) setuju bahwa Inggris dan AS harus bernegosiasi secara berhati-hati untuk memastikan bahwa kepentingan militer AS tetap terlindungi...."

Dalam konferensi pers Sabtu kemarin, PM Najib Razak juga mengonfirmasi bahwa MH 370 masih mengirimkan sinyal ke satelit pada pukul 08.11 waktu Kuala Lumpur, atau lebih dari 6 jam setelah pesawat itu dinyatakan hilang. Artinya, pesawat tersebut masih mengudara ke tujuan tertentu.

Ada unsur kesengajaan dari salah satu pilot yang terbang untuk mematikan transponder komunikasi. Selain itu, otoritas penerbangan Malaysia juga menyebut bahwa aksi "penghilangan" MH 370 itu dilakukan oleh seseorang yang sangat ahli dalam penerbangan.

Lantas, apakah MH 370 memang menuju ke Pulau Diego Garcia dengan motif tertentu? Mari kita tunggu perkembangannya......."


Sumber :www.tribunnews.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Drone, Pelanggaran Hukum Kemanusiaan Internasional?
Selain membahas secara umum terkait perlunya memberi makna baru tentang konsepsi Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Global Future Institute (GFI) secara khusus menyorot pesawat ...

Meluruskan Konsepsi Ketahanan Nasional NKRI

Pembelian 3 Unit Pesawat Drone Tidak Sesuai Dengan Anatomi dan Kebutuhan Nyata Pertahanan Nasional RI

Presiden Terpilih Jokowi Harus Jelaskan Apa Pentingnya Penggunaan Drone Bagi Pertahanan Nasional RI

Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh

Lihat lainya »
   Arsip
Dilma Rousseff Sang Petarung

Ketua BPK: Saya Ini Doktor Amerika!

Ironi Geopolitik (3)

Usai Jajak Pendapat Presiden Ukraina Bentuk Koalisi

Ini Profil Singkat 34 Orang Menteri "Kabinet Kerja"

“Move on” dan Pembungkaman Hak Berekspresi

Survei: Partai Pendukung Negara Barat Akan Dominasi Parlemen Ukraina

Susunan "Kabinet Kerja" Pemerintahan Jokowi-JK

500 Naskah Kuno Indonesia Masih di London

Hong Kong Akan Melakukan Jajak Pendapat

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »