» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Analisis
01-04-2014
Krisis Politik di Ukraina
Beberapa Alasan Strategis Kesiapsiagaan Perang Rusia Untuk Mempertahankan Crimea dan Beberapa Wilayah Perbatasan Ukraina
Penulis : Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute

17 Maret lalu, reunifikasi Crimea dengan Rusia telah menjadi kenyataan menyusul adanya referendum dimana 96,8 persen rakyat Crimea mendukung penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia. 21 Maret lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dokumen resmi menjadi sebuah undang-undang, sehingga sejak saat itu Crimea resmi menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Rusia.


Menurut analisis militer Michael Snyder, Rusia tidak akan pernah menyerahkan Crimea tanpa melakukan perlawanan. Basis utama armada Laut Hitam di Sevastopol terlalu penting dan sangat strategis bagi Rusia. Apalagi 60 persen penduduk Crimea merupakan etnis Rusia, sehingga masuk akal jika sebagian besar penduduknya bersikap pro Rusia.

“Sebenarnya Rusia sangat siap berperang demi Crimea mengingat fakta bahwa jalur pipa yang berada di wilayah ini amat penting bagi Rusia untuk menyalurkan gas alam Rusia ke seluruh eropa melewati Ukraina. Karena itu tak mungkin Rusia akan menyerahkan begitu saja lingkup pengaruhnya di Ukraina kepada Amerika Serikat dan Uni Eropa,” begitu tutur Snyder.

Menurut prediksi Snyder, jika Amerika dan Uni Eropa terlalu masuk ke wilayah Ukraina, maka perang regional berskala besar besar kemungkinan akan meletus. Harus disadari bahwa Rusia dan Ukraina memiliki ikatan sejarah yang sangat mendalam. Sehingga Ukraina di mata Rusia punya nilai yang cukup strategis.

Mencermati perkembangan tersebut, Global Future Institute berpandangan bahwa  bergabungnya kembali Crimea kepada Rusia, akan menciptakan keseimbangan kekuatan antara Washington dan Moskow. Sekaligus akan kembali memperluas lingkup pengaruh Moskow di Ukraina. Seraya pada saat yang sama, berpisahnya Crimea dari Ukraina, akan membatasi ekspansi Amerika dan NATO ke “wilayah halaman belakang” Rusia.

Maka tidak heran jika beberapa media melansir berita bahwa saat ini 100 ribu pasukan Rusia telah berada di daerah perbatasan Ukraina, dan siap menunggu perintah Presiden Putin untuk melancarkan serangan ke wilayah Ukraina. Sehingga kehadiran militer Rusia tidak akan berhenti sampai di Crimea saja. Melainkan akan merangsek masuk, ke wilayah Ukraina.

Ihwal kehadiran 100 ribu pasukan Rusia di wilayah perbatasan Ukraina tersebut telah diperkuat oleh pernyataan Ketua Dewan Keamanan Nasional  Ukraina Andriy Parubly kepada Voice of America 28 Maret 2014. Menurut keterangan Parubly, Rusia telah menempatkan 100 ribu tentaranya di perbatasan Ukraina di Utara, Selatan dan Timur.

Bahkan Presiden Obama pun mengakui bahwa berdasarkan informasi Departemen Pertahanan, Rusia memang terus memperkuat pasukannya di tiga wilayah perbatasan tersebut, meskipun belum jelas maksud dari penempatan pasukannya di tiga wilayah perbatasan tersebut.

Begitupun, Rusia nampaknya memang tidak main-main. Seperti berita yang dilansir Interfax  28 Maret lalu, Rusia telah menyiagakan Rudal Strategisnya yang dikenal dengan SMF. Selain itu, pemegang otoritas pertahanan di Moskow telah memerintahkan Kapal Selam Dolgoruki yang membawa Rudal Nuklir Bulava, untuk meninggalkan pangkalannya di Severodvinsk di Utara Rusia.

Adanya perintah untuk menggerakkan Kapal Selam Dolgoruki dan Rudal Nuklir Bulava nampaknya harus dibaca sebagai bentuk kesiapan perlawanan Rusia terhadap manuver militer AS dan NATO, menyusul sikap permusuhan terang-terangan Amerika dan Uni Eropa menyusul perkembangan yang cukup menguntungkan Rusia di Crimea. Ketika 98,6 persen rakyat Crimea menyatakan setuju penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia.

Betapa tidak. Kapal Selam Dolgoruki, selain membawa Rudal Bulava yang merupakan jenis senjata nuklir terkuat di dunia yang dimiliki Rusia saat ini, kapal selam Yuri Dolgoruki ini merupakan kapal selam yang paling ditakuti Amerika dan NATO karena pergerakannya yang sulit dideteksi radar.

Bahkan NATO menjuluki kapal selam Yuri Dolgoruki sebagai “The Silent Killer” karena kecanggihannya untuk menghilang dari pantauan radar militer pihak musuh. Dan mampu meluncurkan Rudal Bulava berdaya jangkau 10 ribu kilometer dari perairan manapun di dunia. Bulava mampu membawa 6 hingga 10 hulu ledak nuklir masing-masing berkekuatan 100 hingga 150 kiloton.

Beberapa indikasi lain yang mempertunjukkan kesiapsiagaan pasukan Rusia untuk tidak hanya  berhenti sampai Crimea saja, melainkan akan menyerbu Ukraina, bisa dilihat melalui beberapa pertanda:

  1. Banyak kendaraan militer Rusia yang bergerak ke Crimea.
  2. Kendaraan militer Rusia tertangkap kamera sudah berada di alun-alun utama Sevastopol.
  3. Jet Tempur Rusia terbang dekat perbatasan Ukraina dalam kondisi siaga perang.
  4. Rusia telah memerintahkan latihan militer dadakan di sepanjang perbatasan Ukraina.
  5. Sehubungan dengan latihan tersebut, dilaporkan bahwa Rusia telah mengerahkan 150 ribu tentara di perbatasan Ukraina.
  6. Rusia telah menempatkan sekitar 26 ribu prajuritnya di pangkalan angkatan lautnya di Sevastopol.
  7. Kapal Rusia yang membawa pasukan tambahan sudah terlihat di lepas pantai Crimea. Kapal pendaratan besar Rusia, Nikolai Filchenko, sudah berlabuh di dekat pangkalan Armada Laut Hita Rusia di Sevastopol, yang disewa Rusia dari Ukraina sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991.
  8. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu membuat pernyataan di hadapan wartawan Rabu 26 Februari lalu, bahwa Rusia akan mengambil langkah-langkah untuk menjamin apa yang dia istilahkan “keamanan fasilitas kami.”
  9. Seorang pejabat Rusia yang tak mau disebut namanya berkata pada Financial Times bahwa Rusia hendak menggunakan kekuatan militernya untuk melindungi Crimea. Sebelumnya Moskow mengungkapkan bahwa mereka siap untuk berperang demi wilayah Crimea guna melindungi penduduk yang jumlahnya besar dan instalasi militer. Pejabat Rusia tersebut berkata pada Financial Times:” Jika Ukraina tercabik, itu akan memicu perang. Mereka pertama-tama akan kehilangan Crimea karena kami akan masuk dan melindungi itu, seperti yang kami lakukan di Georgia.”
  10. Para Pejabat Di Sevastopol telah menempatkan warga negara Rusia sebagai walikota.
  11. Sekitar 120 orang bersenjata pro Rusia telah mengambil-alih gedung parlemen Crimea dan mengibarkan bendera Rusia.
  12. Tersiar rumor bahwa pemerintah Rusia telah menawarkan perlindungan pada Presiden Ukraina terguling, Viktor Yanukovich.

Kantor berita Rusia bahkan melaporkan bahwa Yanukovich berada di Rusia, namun para pejabat belum memberikan konfirmasinya.

Nampaknya, betapapun kerasnya upaya AS dan Uni Eropa untuk mempertahankan lingkup pengaruhnya di Ukraina, Rusia akan tetap mempertahankan Crimea yang punya akses langsung untuk menguasai Ukraina. Sebagaimana Rusia juga gigih dalam mempertahankan Osetia Selatan dan Abkhazia di Georgia beberapa tahun yang lalu.



Artikel Terkait
» Ukraina Dalam Perspektif Geopolitik Zbigniew Brzezinski
» Gagalnya Skenario Revolusi Warna dan Titik-Balik Amerika di Ukraina
» Nasib Muslim Tatar: Isu Jihad Baru di Ukraina?
» Membaca Skenario Besar di Balik Penggulingan Presiden Yanukovich
» L’Ukraine Est Une Autre Syrie
» LAPORAN UTAMA: Georgia, Basis Operasi Militer-Intelijen AS dan Israel Destabilisasi Rusia
» LAPORAN UTAMA: Tangan-Tangan Amerika dalam Aksi Teror di Volgograd



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »