» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Tick News
03-04-2014
Penembakan di Pangkalan Militer AS, Satu orang Tewas

Seorang tersangka penembak di pangkalan militer AS di Fort Hood, Texas, tewas dan sejumlah orang lainnya cedera.


Sejumlah pejabat AS mengatakan situasi di tempat kejadian masih dianggap berbahaya. Demikian dikatakan sejumlah pejabat kepada CNN pada Rabu (2/4/2014) malam waktu setempat atau Kamis pagi waktu Indonesia.

Dalam sebuah pernyataan, instalasi Angkatan Darat AS itu mengatakan pihaknya memiliki laporan awal bahwa si penembak telah tewas, "tapi hal itu belum dapat dikonfirmasi". "Personil yang terluka diangkut ke Carl R Darnall Medical Center dan sejumlah rumah sakit lokal lainnya. Sejumlah lembaga penegak hukum membantu dan berada di tempat kejadian. Jumlah korban cedera tidak dapat dikonfirmasi pada saat ini," kata pernyataan itu.

Namun laporan kantor berita AFP menyebutkan, jumlah korban cedera sebanyak 14 orang.

Laporan awal menyatakan insiden itu bermula sebagai serangan antara dua orang tentara, kata sejumlah sumber penegak hukum kepada CNN. Penilaian awal menyebutkan insiden itu tidak berkaitan dengan teror, kata sumber-sumber itu.

Presiden Barack Obama telah diberi penjelasan dan ia pun telah berbicara tentang insiden itu pada Rabu malam. "Situasinya sedang berkembang saat ini... Saya hanya ingin meyakinkan kita semua bahwa kami akan sampai ke inti persoalan tentang apa yang terjadi," kata Obama. "Kami sedih hal seperti ini terjadi lagi."

Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, juga memantau situasi itu. Dia berbicara kepada para wartawan di Honolulu. Dia menggambarkan apa yang terjadi sebagai "tragedi mengerikan. Kami tahu ada korban, ada yang tewas dan terluka. Kami belum punya semua faktanya." katanya.

Penembakan tersebut terjadi di gedung Brigade Medis Fort Hood, tidak jauh dari instalasi luas Darnall Army Medical Center, kata seorang tentara di Fort Hood yang tinggal di dekat lokasi itu. Tentara itu melihat sejumlah mobil ambulans, sejumlah mobil polisi dan empat helikopter yang mendarat dan lepas landas dari rumah sakit tersebut.

Pada 5 November 2009, Mayor Angkatan Darat Nidal Malik Hasan mengumbar tembakan di Fort Hood dan menewaskan 13 orang dan melukai 32 orang lainnya. Dia menembak sesama tentara di pusat pemulihan. Para jaksa menyatakan bahwa pria Muslim kelahiran Amerika itu mengalami radikalisasi progresif yang menyebabkan pembantaian di pangkalan Angkatan Darat itu.

Mantan psikiater Angkatan Darat itu dihukum karena pembunuhan berencana, dan juri militer merekomendasikan Hasan dihukum mati.

Menurut situs web Fort Hood, pangkalan itu merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Ada 45.414 tentara yang ditempatkan di situ dan 8.900 karyawan sipil. Instalasi tersebut, yang berada di lahan 214.000 hektar, merupakan markas bagi dua divisi, yaitu Kalvareli Pertama Angkatan Darat dan Infanteri ke-4 (Mekanik). Selain itu ada 12 unit lainnya tergabung atau berbasis di sana. (TGR/IRIB Indonesia)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »