» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Kejahatan Transnasional
11-08-2014
Perangi Penyelundupan dan Perdagangan Manusia
RI dan Australia Pimpin Pertemuan AHG SOM ke-8

Indonesia dan Australia bersama-sama pimpin Pertemuan ke-8 Ad Hoc Group Senior Officials Meeting (AHG SOM ke-8), di Canberra pada 06 Agustus 2014. Pertemuan ini sebagai tindak lanjut kerja sama regional Bali Process untuk memerangi penyelundupan dan perdagangan manusia.


Diketuai bersama oleh Indonesia dan Australia (Co-Chairs), Bali Process yang terbentuk sejak tahun 2002 merupakan mekanisme konsultatif di tingkat menteri untuk mengatasi persoalan irregular migration, penyelundupan manusia dan perdagangan manusia (trafficking in persons), dan melibatkan partisipasi negara asal, negara transit dan negara tujuan daripada irregular migration dan penyelundupan manusia tersebut. Saat ini Bali Process memiliki lebih dari 45 anggota yang mayoritas negara di Asia dan Pasifik, termasuk badan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), International Organization for Migration (IOM) dan United Nations Office of Drugs and Crime (UNODC), dan sejumlah negara peninjau (observer).
 
AHG SOM ke-8 dihadiri oleh peserta dari Afghanistan, Australia, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Maldives, Myanmar, Selandia Baru, Filipina, Srilanka, Thailand, AS, Vietnam, wakil dari UNHCR, IOM, UNODC dan Co-Managers dari Regional Support Office (RSO), serta Kanada sebagai negara peninjau. Bertindak selaku Co-Chairs AHG SOM ke-8 adalah Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri, Hasan Kleib, dari pihak Indonesia, dan Duta Besar Australia untuk Urusan Penyelundupan Manusia, Craig Cittick, dari pihak Australia. Pertemuan mencatat dan mengapresiasi berbagai upaya bersama di tingkat regional sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam mengatasi persoalan terkait irregular migration.

Ad Hoc Group Senior Officials Meeting (AHG SOM) merupakan salah satu mekanisme dalam Bali Process yang mengembangkan outcome praktis di tingkat operasional untuk membantu negara anggota dalam memitigasi masalah irregular migration, dan mengembangkan pengaturan pertukaran informasi di antara negara-negara yang paling terkena dampak irregular migration serta memberikan laporan terkait langkah kerja sama di masa depan.
 
Sebagai Ketua Bersama Bali Process, Indonesia dan Australia menunjukkan komitmen tinggi untuk bersama-sama, bahu-membahu memastikan penanganan masalah perdagangan dan penyelundupan manusia sebagai dampak irregular migration, di kawasan. (sumber: KBRI Canberra)



Artikel Terkait
» Rajut Hubungan Baik RI-Timor Leste Melalui Penanganan Trans National Crime
» RI-Timor Leste Tegaskan Komitmen Perangi Kejahatan Trans Nasional
» Australia Akhiri Kebuntuan Pencari Suaka dengan Indonesia
» Bali Process Plus, Inisiasi Indonesia atas Penyelundupan Manusia
» Kerja Sama dalam Penanganan Kejahatan Transnasional Perkuat Hubungan Bilateral RI-Kanada
» Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Sekelumit tentang Sertifikasi Ulama

DK PBB Kutuk Serangan di Pasar Mogadishu

Unair Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa bagi Peraih Nobel

Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »