» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Kesehatan
17-09-2014
Obama: Ebola Ancaman Keamanan Global

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama mengatakan penyebaran virus mematikan ebola menjadi ancaman terhadap keamanan global.


Oleh sebab itu, dalam pidato khusus yang disampaikan pada Selasa kemarin, AS, ujar Obama, akan mengirimkan 3.000 pasukan untuk membangun sebuah klinik, mendistribusikan peralatan medis dan melatih pekerja kesehatan.

Diberitakan BBC, Selasa 16 September 2014, juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest menyebut 3.000 pasukan itu tidak akan memberikan perawatan langsung kepada pasien ebola. Mereka, akan ditugaskan di markas di Senegal. Sementara, pasukan lainnya akan memberikan logistik, pelatihan dan dukungan teknik di Liberia.

Selain personel, AS juga akan menganggarkan lebih dari US$500 juta atau Rp5,9 triliun untuk melawan Ebola.

"Rumah sakit, klinik dan beberapa pusat perawatan yang saat ini tersedia, sudah kewalahan," ungkap Obama ketika berpidato di Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Atlanta.

Dia pun mengaku terkejut dengan fenomena ebola. Bahkan, orang bisa tergeletak meninggal di jalan-jalan dan dibiarkan. "Ini menjadi sesuatu yang di luar kendali," kata Obama.

Sejauh ini, data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip stasiun berita NBC News menyebut sudah ada 5.000 orang yang terinfeksi ebola. Separuh di antara mereka meninggal.

"Jika penyebaran ini tidak dihentikan saat ini, maka akan ada ratusan ribu orang lainnya yang terinfeksi," imbuh Obama.

Dia pun mengaku siap untuk memikul tanggung jawab melawan ebola.
"Ini sebuah epidemik yang tidak saja menjadi sebuah ancaman keamanan regional, tetapi juga sebuah potensi terhadap keamanan global, jika negara-negara, perekonomiannya hancur. Jika orang-orang menjadi panik," kata Obama.

Selain mengirimkan pasukan, Obama merinci strateginya melawan ebola, antara lain membangun 17 fasilitas pusat kesehatan. Masing-masing fasilitas itu memiliki 100 tempat tidur dan ruang isolasi.

Kedua, pelatihan 500 pekerja kesejatan setiap minggu. Ketiga, membangun sebuah jembatan agar dapat mendistribusikan logistik ke negara-negara yang terjangkit ebola. Terakhir, menyediakan peralatan kesehatan ke ribuan rumah tangga, termasuk 50 ribu keluarga yang dibantu Badan Pembangunan Internasional (USAID) ke Liberia pekan ini.

Respons lambat

Sementara, organisasi amal Dokter Tanpa Batas (MSF) mengatakan respon dunia internasional masih lambat dan tertinggal jauh dengan perkembangan penyakit itu. Dalam sebuah pertemuan mengenai ebola, Presiden MSF Joanne Liu mengatakan diperlukan koordinasi di bawah komando yang jelas.

"Jendela kesempatan untuk menghentikan penyebaran penyakit ini sudah tertutup. Kami membutuhkan lebih banyak negara untuk berdiri, pengerahan personil yang lebih banyak. Dan kami membutuhkannya saat ini," kata Liu.

Selain AS, pada Selasa kemarin, China berjanji akan mengirimkan tim laboratorium ke Sierra Leone. Di dalam tim itu terdapat ahli kulit, klinik dan perawat.


Sumber :viva.co.id

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »