» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Teknologi Nuklir
30-09-2014
Pemanfaatan Iptek Nuklir
BATAN Terima Penghargaan IAEA/FAO untuk Keberhasilan Pemanfaatan Iptek Nuklir di Bidang Pertanian dan Pangan

Pusat Aplikasi Isotopes dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mendapat penghargaan tertinggi (Outstanding Achievement Award) IAEA/FAO atas keberhasilan riset dan pemanfaatan iptek nuklir untuk pemuliaan tanaman pangan. Penghargaan diberikan dalam acara peringatan 50 tahun didirikannya Joint FAO/IAEA Division of Nuclear Technique in Food and Agriculture (NAFA) (24/09/2014).


Yukiya Amano, Direktur Jenderal IAEA dalam penyerahan penghargaan kepada Duta Besar RI Rachmat Budiman menyampaikan, bahwa iptek nuklir telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung penyediaan dan ketahanan pangan, khususnya di negara-negara berkembang.

Pemanfaatan iptek nuklir untuk pemuliaan tanaman telah memungkinkan petani memperoleh benih tanaman pangan, seperti padi, kedelai, dan gandum unggul yang lebih tahan hama, berproduktivitas tinggi dengan umur panen yang lebih pendek serta dapat beradaptasi dengan baik terhadap  dampak perubahan iklim.

Lebih lanjut Dirjen IAEA mengatakan, hasil-hasil iptek nuklir ini mendapat penerimaan sangat baik dari petani di berbagai negara.  Keberhasilan ini merupakan salah satu contoh sukses difusi teknologi modern terhadap masyarakat agraris tanpa mengganggu kearifan lokal dan budaya pertanian yang sudah berjalan puluhan tahun di berbagai negara.

Ditambahkan bahwa para petani menginginkan teknologi yang ramah terhadap  alam dan lingkungan sehingga berbagai tanaman pangan yang telah dimuliakan dengan tekonologi nuklir telah diterima dan dimanfaatkan petani secara luas di berbagai negara.

Sedangkan Duta Besar Rachmat Budiman menyatakan, sejak tahun 2012, melalui Program Kerjasama Teknik IAEA, Indonesia telah membantu sejumlah negara sahabat dalam pengembangan kapasitas di bidang aplikasi teknologi nuklir di bidang pangan dan pertanian, kesehatan, dan industri.

Ditegaskan Budiman, hal ini merupakan wujud dukungan Indonesia terhadap program internasional Peaceful Uses Inititiative (pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai) sekaligus mendukung Program Kerjasama Selatan - Selatan (Technical Cooperation among Developing Countries - TCDC).

Melalui program ini Indonesia memberikan bantuan tenaga ahli serta menerima trainee dari sejumlah negara, seperti Yordania, Myanmar, Laos dan Kamboja, untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di fasilitas riset BATAN dan beberapa lembaga riset lainnya.

Sementara itu, Djarot Wisnubroto, Kepala BATAN, menambahkan bahwa BATAN telah melakukan penelitian dan pemanfaatan iptek nuklir untuk pemuliaan tanaman sejak 1970-an. Hingga kini telah memuliakan sejumlah tanaman pangan, seperti padi, kedelai, sorghum dan gandum.  Untuk tanaman padi, BATAN telah menghasilkan lebih dari 20 varietas unggul, dengan potensi panen di atas 7 ton/ha.

Benih padi BATAN tersebut telah dimanfaatkan petani di hampir seluruh propinsi di Indonesia dan berkontribusi sekitar 10% terhadap cadangan benih nasional. Di samping itu, BATAN juga mendukung dan memberikan bantuan teknis terhadap sejumlah usaha kecil dan menengah untuk menjadi sentra-sentra produksi benih padi unggul, yang bibit induknya diberikan oleh BATAN. Melalui program ini, BATAN mendukung program pemerintah dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan.

Pada 2012, IAEA mengundang BATAN untuk memaparkan success story Indonesia tersebut dalam IAEA Scientific Food tentang aplikasi iptek nuklir di bidang pangan dan pertanian.

Dan pada 2013 di Roma Italia, BATAN dan lembaga PBB di bidang pangan dan pertanian (Food and Agriculture Organization - FAO) menandatangani penjanjian kerjasama dalam pemanfaatan hasil-hasil litbang BATAN dan kepakaran terkait dalam mendukung program-program FAO, dalam payung kegiatan Joint IAEA/FAO Division of Nuclear Technique in Food and Agriculture. (TGR/Kemlu)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »