» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Amerika Latin
19-12-2014
Pemulihan Hubungan Amerika Serikat-Kuba
Pemulihan Hubungan AS-Kuba, Veteran Anti Fidel Castro Kecewa

Para veteran anti-Fidel Castro kecewa karena Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang ingin  memulihkan hubungan-hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Kuba selama 50 tahun era Perang Dingin.


Seperti diketahui, ketika Amerika Serikat gagal menggulingkan Fidel Castro dalam invasi di Teluk Babi tahun 1961, para petempur Kuba yang didukung CIA itu mengatakan mereka sangat kecewa.

"Ketika Teluk Babi ditinggalkan, kami sakit hati. Dan kini kami merasa ditinggalkan lagi, dikhianati oleh presiden itu," kata Felix Rodriguez, ketua Asosiasi Veteran Teluk Babi, mengacu pada keputusan Obama untuk memulihkan hubungan dengan Kuba.

Sebagai bagian dari rencana CIA -- dan gagal-- invasi Teluk Babi, satu pasukan dipengasingan dilatih oleh AS di pangkalan-pangkalan rahasia di Nikaragua dan Guatemala kemudian dikirim ke Playa Larga dan Playa Giron, 250km dari Havana , April 161, untuk misi menggulingkan  Castro.

Invasi itu adalah satu bencana bagi AS-- setelah 72 jam pertempuran berdarah, 100 tentara anti-Castro tewas dan 1.000 lainnya ditahan.

Pasukan itu dikenal sebagai "Brigade 2506," juga nama panggilan kelompok veteran yang berpusat di Miami dipimpin oleh Rodriguez Mendigutia di permukiman Havana Little Miamis, tempat tinggal paling banyak penduduk perantau Kuba.

Rodriguez Mendigutia mengatakan, kekalahan mereka dalam tahun 1961 adalah satu pukulan berat, dan AS kembali membuat keputusan yang salah Rabu dengan memulihkan hubungan dengan Kuba.

"Kami sangat kecewa," kata Rodriguez Mendigutia, yang kini berusia 73 tahun yang merupakan salah seorang termuda dari 800 veteran Brigade 2506.

Ia mengecam Washington karena "berkawan dengan satu negara yang Departemen Luar Negeri AS anggap sebagai satu ancaman teroris."

"Itu benar-benar sesuatu yang berdampak pada kita semua," katanya.

Sedangkan Veteran Esteban Bovo, 76 tahun, mengatakan ia kecewa, tetapi tidak terkejut atas tindakan AS itu.

"Orang-orang Amerika gemar mengkhianati kawan-kawan dan kemudian membiarkan mereka jatuh...Kami semua telah menghadapinya, kami digunakannya sampai sekarang," kata Bovo, seorang pilot yang ikut dalam tiga missi Brigade 2506.

Reaksi-reaksi marah meletus di Miami setelah Obama mengumumkan "satu lembaran baru" dalam hubungan-hubungan AS-Kuba, dengan belasan orang berkumpul di Little Havana untuk memprotes pendekatan itu.

Para veteran itu mendukung protes-protes itu, mengenang kembali pertumpahan darah dalam invasi Teluk Babi tahun 1961.

"Kami semua memiliki kawan-kawan yang gugur, para anggota yang tewas, dipenjarakan, disiksa. Sekarang kami merasa kecewa," kata Eugenio Roland Martinez, 93 tahun yang memliki nama panggilan "Musculito."

Ia mengatakan ia "terkejut " mendengar pengumuman itu.

"Dunia telah berubah seluruhnya," kata Martinez, yang dipuji oleh rekan-rekannya sebagai salah seorang dari para petempur yang paling anti-Castro pada zamannya.

Para veteran anti-Kuba, kendatipun kecewa dengan keputusan Obama itu, mereka mengharapkan Kongres AS-- yang akan dikuasai partai Republik Januari mendatang -- akan mendesak janji Obama untuk mencabut embargo dan membuka kedutaan besar di Havana.

Kedubes AS di Havana ditutup tahun 1961, kendatipun sebagian besar seksi yang mengurus kepentingan AS masih beroperasi.

Sementara itu, Rodrigeuz Mendigutia mengharapkan dapat melihat satu musium veteran yang telah direncana akan dibuka di Taman Hialeaj di Miami, sebagai satu jalan penting untuk memelihara warisan veteran Teluk Babi. (TGR/ANT)

 



Artikel Terkait
» Rakyat Kuba Peringati Kepergian Chavez
» Fidel Castro Hidup dan Baik-Baik Saja



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »