» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Asean
27-12-2014
Perkembangan Politik Myanmar
Suu Kyi Desak Konstitusi Myanmar Terkait Perlarangan Dirinya Diubah

Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi menganggap demokrasi baru berjalan di Myanmar apabila konstitusi yang melarang dirinya menjadi presiden diubah.


Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama, dalam kunjungannya ke Myanmar, mengatakan undang-undang yang melarang Suu Kyi menjadi presiden 'tidak masuk akal'.

Seperti diketahui Suu Kyi tidak bisa mencalonkan diri sebagai presiden karena suaminya, yang sudah meninggal, adalah warga negara asing.

Suu Kyi melontarkan kritik kepada dunia internasional dengan mengatakan harus ada langkah-langkah lebih lanjut untuk mempercepat reformasi politik di negara itu.

Dalam wawancara dengan BBC, dia mengatakan dunia bersalah karena terlalu berharap bahwa yang disebutnya sebagai situasi akhir yang membahagiakan akan terwujud di Myanmar.

Suu Kyi mengakui bahwa dunia internasional tetap memiliki ketertarikan kepada Myanmar atau Burma.

"Namun mereka pikir mereka akan mendapatkan akhir yang membahagiakan hanya dengan menegaskan bahwa akhirnya membahagiakan, padahal bukan begitu cara mewujudkannya," tambahnya.

Bagaimanapun dia menyarankan agar tidak ditempuh pemberian sanksi seperti yang dilakukan ketika rezim militer memerintah negara itu hingga tahun 2013 lalu, namun dengan membantu untuk mendorong ditempuhnya dialog nasional. (TGR/BBC)

 



Artikel Terkait
» Myanmar Bentuk Tim Pencari Fakta Selidiki Insiden Maungdaw
» Myanmar Tak Pantas Jadi Ketua ASEAN



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »