» Kondisi Peralatan Angkatan Bersenjata RI Dalam Bahaya » Ukraina Berpotensi Bangkitkan Kembali Statusnya Sebagai Negara Nuklir » Membaca Darurat Energi dari Perspektif Geopolitik » Kerjasama RI-Rusia Punya Nilai Strategis Bagi Kedua Negara (Ulasan Singkat Pertemuan Jokowi-Putin di Beijing 10 Oktober 2014) » Presiden Jokowi Dalam Telikungan Neoliberalisme di APEC, G20 dan KTT ASEAN


Hankam
04-05-2009
Australia
Australia Siap Hadapi Cina di Asia Pasifik
Penulis : Tim GFI

Nampaknya apa yang diprediksi pakar politik Amerika Samuel Huntington semakin mendekati kenyataan. Ketika momentum perang terbukan Amerika versus Cina meletus di Asia Pasifik, Australia akan tampil sebagai kekuatan keseimbangan baru di kawasan ini.


Tanda-tanda ke arah itu semakin nyata ketika  Sabtu lalu (2/5) Departemen Pertahanan Australia merilis buku putih pertahanan Australia bertajuk Defending Australia in the Asia-Pasific Century Force 2030.

Menelisik buku putih pertahanan itu,  memang cukup mengejutkan. Karena negara kangoro tersebut siap mengalokasikan anggaran untuk modernisasi dan pengembangan angkatan bersenjatanya sebesar Rp 720 triliun atau US$ 72 miliar. Suatu jumlah yang cukup fantastis. Dan ironismya terjadi ketika Australia di bawah pemerintahan partai buruh yang biasanya tidak terlalu mengedepankan aspke Hankam dalam prioritas kebijakan-kebijakan strategis maupun program-programnya.

Namun itulah yang justru terjadi. Dengan alokasi anggara sebesar itu, Australia siap membeli sistem persenjataan baru seperti:

1.    100 pesawat tempur F-35, yang dilengkapi dengan radar canggih, senjata dan sistem rudal yang tersembunyi. Serta dilengkapi persenjataan dua bom GBU-31, dua rudal udara AIM-12 dan senjata cannon 27 mm.
2.    12 Kapal Selam.
3.    8 Kapal Perang.
4.    24 hekikopter.
5.    Pengembangan pasukan profesional.

Tak pelak lagi di balik bahwa kebangkitan Cina sebagai kekuatan ekonomi dan militer di kawasan Asia yang menjadi faktor pendorong peningkatan anggaran militer Australia kali ini.

Dengan kata lain, Australia bermaksud menandingi kedigdayaan Cina. Kalau kita telusur beberapa kejadian sebelumnya, memang spekulasi tersebut culkup logis.

Maret lalu, Cina mengumumkan kenaikan anggaran militernya sebesar 14.9 persen pada 2009 sehingga menjadi US$ 70,2 miliar atau Rp 853 triliun. Berarti, selama kurun waktu 4 tahun ini Cina telah menaikkan anggaran militernya di atas 10 persen.

Wajar saja kalau Australia sebagai negara berpenduduk mayoritas warga Eropa (baca: Inggris) semakin dilanda ketakutan.

Alhasil, dikeluarkannya buku putih pertahanan Australia mengisyaratkan bahwa kelompok garis keras di Departemen Pertahanan dan Angkatan Bersenjata Australia mampu memberikan tekanan yang cukup efektif kepada Perdana Menteri Kevin Rudd yang sebenarnya sangat dekat dengan Cina. Dan bahkan bisa berbahasa Mandarin.

Namun, kekhawatiran bakal semakin menguatnya kekuatan militer Cina di Asia Pasifik, nampaknya lebih kuat merasuk di kalangan para pengambil kebijajakan strategis pertahanan Australia.

Mari kita simak pernyataan Perdana Menteri Rudd berkenaan dengan dirilisnya buku putih pertahanan Australia. “Adalahj penting bagi kita untuk memiliki kemampuan sendiri agar departemen pertahanan selalu siaga menghadapi keadaan darurat yang  mungkin muncul akibat pengembangan sektor pertahanan yang sedang terjadi di kawasan kita.”

Meski tidak menyebut Cina, namun Rudd menegaskan bahwa saat ini sejumlah negara kuat di dunia sedang berlomba meraih supremasi di Samudera India karena perannya yang semakin penting sebagai jalur pengapalan bahan bakar dari Timur  Tengah ke Asia.

Secara tersirat Rudd mengatakan bahwa ada satu negara besar di kawasan ini yang bertujuan membela kepentingan negara tersebut melalui kesiapan berperang di lautan lepas, meskipun secara geografis negara tersebut jauh dari Australia.

Nampaknya inilah yang melatarbelakangi mengapa Australia merasa perlu memberi prioritas pembelian 12 kapal selam dalam buku putih pertahanannya.


Kekuatan Angkatan Laut dan Darat Cina Saat Ini

Saat ini Angkatan Laut Cina ada sekitar 290 ribu personil. Kapal Selam yang dimiliki sekitar 62. Kapal Penghancur 29. Frigat 46. Kapal Amphipi 234. Pesawat tempur 742. Helikopter 78. Sedangkan kekuatan Marinir Cina berjumlah 10 ribu personil.
Angkatan Udara Cina pun tak kalah digdaya. Cina punya 250 ribu personil. Pesawat pembom 82, pesawat tempur/serang1730, pesawat pengangkut 296, pesawat latih 522, helikopter pertahanan SAM 1578. ICBM 56, IRBM 35, SREM 725,  meriam udara 16.000.

Belakangan, Angkatan Laut Cina telah menambah jumlah kapal selam non-nuklir dari Rusia. Angkatan Laut Cina yang berbasis di sekitar Pulau Hainan, bagian selatan Cina, diberitakan juga telah membeli kapalk Varyag,sebuah kapal induk dari Rusia.

Selain itu, Cina juga memiliki tank tempur 766º, lapis baja 5500, artileri 17.700 dan helikopter 375. Sedangkan Angkata Darat Cina itu sendiri dikabarkan sudah memiliki personil aktif sebesar 2.105.000.

Pantas saja kalau Australia dilanda kekhawatiran yang cukup besar.

Ancaman dari Asia Timur?
 
Terlepas dari isyarat Australia untuk menandingi kekuatan militer Cina di Asia Pasifik, beberapa kalangan pakar strategis dan intelijen di Indonesia pun memang mengganggap Asia Timur sejak 2008 dianggap sebagai ancaman potensial yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di Asia Tenggara, yang berarti juga di Indonesia. Dan itu artinya Cina berada dalam peringkat pertama yang harus diwaspadai. Setelah itu Jepang, yang sementara ini masih berada dalam orbit pengaruh politik dan keamanan Amerika Serikat. Namun ke depan, Jepang sebagai kekuatan ekonomi Asia berpotensi untuk menjadi kekuatan destabilisasi di kawasan Asia Tenggara.

Masih dalam kaitannya dengan Cina, kepemilikan sepihak Cina  atas kepulauan Sprartley dan Paracel bisa dianggap sebagai provokasi Cina kepada dunia internasional. Dan di kawasan Asia Tenggara khususnya ASEAN, manuver Cina mencaplok secara sepihak Spartley dan Paracel yang masih dalam sengketa, pada perkembangannya bisa menggoyang stabilitas ASEAN.

Betapa tidak. Ketika Cina mengkalim secara sepihak kepemilikan Spartlye dan Paracel, maka akan memicu protes dari Vietnam. Kepulauan tersebut memang menjadi ajan sengketa karena terdapat kandungan sumber gas dan minyak bumi.

Sehingga pada akhirnya tidak saja Vietnam, tapi juga akan melibatkan Filipina, Malaysia dan Brunei dalam persengketaan dua kepulauan tersebut.

Tren global inilah yang nampaknya dimaksud oleh Perdana Menteri Rudd sebagai adanya pengembangan sektor pertahanan yang sedang terjadi di kawasan ini. Sehingga ketika Departemen Pertahanan Australia membaca tren ini sepertinya semakin menguat, maka Australia sebagai sekutu strategis Amerika dan Inggris di Asia Pasifik, tidak bisa lain kecuali menyiagakan kekuatan militernya pada skala besar-besaran.

Tim Global Future Institute (GFI)







Artikel Terkait
» Menakar Kekuatan Angkatan Bersenjata Australia
» Mengenal Profil Intelijen dan Pasukan Khusus Australia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kerjasama RI-Rusia Punya Nilai Strategis Bagi Kedua Negara (Ulasan Singkat Pertemuan Jokowi-Putin di Beijing 10 Oktober 2014)
Pertemuan Presiden Jokowi-Putin di  Beijing 10 November 2014, sepertinya jauh lebih strategis dan menjanjikan bagi Indonesia untuk dipertimbangkan, jika kerjasama dengan negara  beruang merah tersebut didasarkan ...

Indonesia Negara Maritim, Bukan Sekadar Negara Kelautan (Menanggapi Visi Maritim Presiden Jokowi)

Drone, Pelanggaran Hukum Kemanusiaan Internasional?

Meluruskan Konsepsi Ketahanan Nasional NKRI

Pembelian 3 Unit Pesawat Drone Tidak Sesuai Dengan Anatomi dan Kebutuhan Nyata Pertahanan Nasional RI

Presiden Terpilih Jokowi Harus Jelaskan Apa Pentingnya Penggunaan Drone Bagi Pertahanan Nasional RI

Lihat lainya »
   Arsip
Kondisi Peralatan Angkatan Bersenjata RI Dalam Bahaya

Menanti Kehadiran Komisi Ideologi Pancasila

Menhan Cina-Rusia Bertemu Bahas Pengaruh AS di Asia-Pasifik

Rekam Jejak Amien Sunaryadi, Kepala SKK Migas Jokowi

Putin dan Kekhawatirannya atas Krisis di Ukraina

Diskusi BBM dan KEMANDIRIAN ENERGI NASIONAL

Urgensi Kartu Jitu Ala Jokowi

Reformasi Sistem Birokrasi di Era Jokowi

Akselerasi Pelayanan Birokrasi Pemerintahan Jokowi

Kemlu RI Himbau WNI Tidak Mengikuti Wajib Militer di Luar Negeri

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »