» Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif » Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini » Gagasan Pembentukan ASEAN Maritime Community dan Perkuatan ASEAN dalam Manuver Politik Luar Negeri Indonesia » Timbul Kesan Indonesia Belum Berani Keluar dari “Western Hemisphere » Kebijakan Luar Negeri RI Bebas dan Aktif Masih Tetap Relevan dan Akan Terus Berlanjut


Hankam
04-05-2009
Australia
Australia Siap Hadapi Cina di Asia Pasifik
Penulis : Tim GFI

Nampaknya apa yang diprediksi pakar politik Amerika Samuel Huntington semakin mendekati kenyataan. Ketika momentum perang terbukan Amerika versus Cina meletus di Asia Pasifik, Australia akan tampil sebagai kekuatan keseimbangan baru di kawasan ini.


Tanda-tanda ke arah itu semakin nyata ketika  Sabtu lalu (2/5) Departemen Pertahanan Australia merilis buku putih pertahanan Australia bertajuk Defending Australia in the Asia-Pasific Century Force 2030.

Menelisik buku putih pertahanan itu,  memang cukup mengejutkan. Karena negara kangoro tersebut siap mengalokasikan anggaran untuk modernisasi dan pengembangan angkatan bersenjatanya sebesar Rp 720 triliun atau US$ 72 miliar. Suatu jumlah yang cukup fantastis. Dan ironismya terjadi ketika Australia di bawah pemerintahan partai buruh yang biasanya tidak terlalu mengedepankan aspke Hankam dalam prioritas kebijakan-kebijakan strategis maupun program-programnya.

Namun itulah yang justru terjadi. Dengan alokasi anggara sebesar itu, Australia siap membeli sistem persenjataan baru seperti:

1.    100 pesawat tempur F-35, yang dilengkapi dengan radar canggih, senjata dan sistem rudal yang tersembunyi. Serta dilengkapi persenjataan dua bom GBU-31, dua rudal udara AIM-12 dan senjata cannon 27 mm.
2.    12 Kapal Selam.
3.    8 Kapal Perang.
4.    24 hekikopter.
5.    Pengembangan pasukan profesional.

Tak pelak lagi di balik bahwa kebangkitan Cina sebagai kekuatan ekonomi dan militer di kawasan Asia yang menjadi faktor pendorong peningkatan anggaran militer Australia kali ini.

Dengan kata lain, Australia bermaksud menandingi kedigdayaan Cina. Kalau kita telusur beberapa kejadian sebelumnya, memang spekulasi tersebut culkup logis.

Maret lalu, Cina mengumumkan kenaikan anggaran militernya sebesar 14.9 persen pada 2009 sehingga menjadi US$ 70,2 miliar atau Rp 853 triliun. Berarti, selama kurun waktu 4 tahun ini Cina telah menaikkan anggaran militernya di atas 10 persen.

Wajar saja kalau Australia sebagai negara berpenduduk mayoritas warga Eropa (baca: Inggris) semakin dilanda ketakutan.

Alhasil, dikeluarkannya buku putih pertahanan Australia mengisyaratkan bahwa kelompok garis keras di Departemen Pertahanan dan Angkatan Bersenjata Australia mampu memberikan tekanan yang cukup efektif kepada Perdana Menteri Kevin Rudd yang sebenarnya sangat dekat dengan Cina. Dan bahkan bisa berbahasa Mandarin.

Namun, kekhawatiran bakal semakin menguatnya kekuatan militer Cina di Asia Pasifik, nampaknya lebih kuat merasuk di kalangan para pengambil kebijajakan strategis pertahanan Australia.

Mari kita simak pernyataan Perdana Menteri Rudd berkenaan dengan dirilisnya buku putih pertahanan Australia. “Adalahj penting bagi kita untuk memiliki kemampuan sendiri agar departemen pertahanan selalu siaga menghadapi keadaan darurat yang  mungkin muncul akibat pengembangan sektor pertahanan yang sedang terjadi di kawasan kita.”

Meski tidak menyebut Cina, namun Rudd menegaskan bahwa saat ini sejumlah negara kuat di dunia sedang berlomba meraih supremasi di Samudera India karena perannya yang semakin penting sebagai jalur pengapalan bahan bakar dari Timur  Tengah ke Asia.

Secara tersirat Rudd mengatakan bahwa ada satu negara besar di kawasan ini yang bertujuan membela kepentingan negara tersebut melalui kesiapan berperang di lautan lepas, meskipun secara geografis negara tersebut jauh dari Australia.

Nampaknya inilah yang melatarbelakangi mengapa Australia merasa perlu memberi prioritas pembelian 12 kapal selam dalam buku putih pertahanannya.


Kekuatan Angkatan Laut dan Darat Cina Saat Ini

Saat ini Angkatan Laut Cina ada sekitar 290 ribu personil. Kapal Selam yang dimiliki sekitar 62. Kapal Penghancur 29. Frigat 46. Kapal Amphipi 234. Pesawat tempur 742. Helikopter 78. Sedangkan kekuatan Marinir Cina berjumlah 10 ribu personil.
Angkatan Udara Cina pun tak kalah digdaya. Cina punya 250 ribu personil. Pesawat pembom 82, pesawat tempur/serang1730, pesawat pengangkut 296, pesawat latih 522, helikopter pertahanan SAM 1578. ICBM 56, IRBM 35, SREM 725,  meriam udara 16.000.

Belakangan, Angkatan Laut Cina telah menambah jumlah kapal selam non-nuklir dari Rusia. Angkatan Laut Cina yang berbasis di sekitar Pulau Hainan, bagian selatan Cina, diberitakan juga telah membeli kapalk Varyag,sebuah kapal induk dari Rusia.

Selain itu, Cina juga memiliki tank tempur 766º, lapis baja 5500, artileri 17.700 dan helikopter 375. Sedangkan Angkata Darat Cina itu sendiri dikabarkan sudah memiliki personil aktif sebesar 2.105.000.

Pantas saja kalau Australia dilanda kekhawatiran yang cukup besar.

Ancaman dari Asia Timur?
 
Terlepas dari isyarat Australia untuk menandingi kekuatan militer Cina di Asia Pasifik, beberapa kalangan pakar strategis dan intelijen di Indonesia pun memang mengganggap Asia Timur sejak 2008 dianggap sebagai ancaman potensial yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di Asia Tenggara, yang berarti juga di Indonesia. Dan itu artinya Cina berada dalam peringkat pertama yang harus diwaspadai. Setelah itu Jepang, yang sementara ini masih berada dalam orbit pengaruh politik dan keamanan Amerika Serikat. Namun ke depan, Jepang sebagai kekuatan ekonomi Asia berpotensi untuk menjadi kekuatan destabilisasi di kawasan Asia Tenggara.

Masih dalam kaitannya dengan Cina, kepemilikan sepihak Cina  atas kepulauan Sprartley dan Paracel bisa dianggap sebagai provokasi Cina kepada dunia internasional. Dan di kawasan Asia Tenggara khususnya ASEAN, manuver Cina mencaplok secara sepihak Spartley dan Paracel yang masih dalam sengketa, pada perkembangannya bisa menggoyang stabilitas ASEAN.

Betapa tidak. Ketika Cina mengkalim secara sepihak kepemilikan Spartlye dan Paracel, maka akan memicu protes dari Vietnam. Kepulauan tersebut memang menjadi ajan sengketa karena terdapat kandungan sumber gas dan minyak bumi.

Sehingga pada akhirnya tidak saja Vietnam, tapi juga akan melibatkan Filipina, Malaysia dan Brunei dalam persengketaan dua kepulauan tersebut.

Tren global inilah yang nampaknya dimaksud oleh Perdana Menteri Rudd sebagai adanya pengembangan sektor pertahanan yang sedang terjadi di kawasan ini. Sehingga ketika Departemen Pertahanan Australia membaca tren ini sepertinya semakin menguat, maka Australia sebagai sekutu strategis Amerika dan Inggris di Asia Pasifik, tidak bisa lain kecuali menyiagakan kekuatan militernya pada skala besar-besaran.

Tim Global Future Institute (GFI)







Artikel Terkait
» Menakar Kekuatan Angkatan Bersenjata Australia
» Mengenal Profil Intelijen dan Pasukan Khusus Australia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Timbul Kesan Indonesia Belum Berani Keluar dari “Western Hemisphere
Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN KEMBALI POLITIK LUAR NEGERI RI YANG BEBAS DAN AKTIF", yang diselenggarakan ...

MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN KEMBALI POLITIK LUAR NEGERI RI YANG BEBAS DAN AKTIF

MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN KEMBALI POLITIK LUAR NEGERI RI YANG BEBAS DAN AKTIF

Manuver Militer Amerika Serikat di Semenanjung Korea Harus Ditangkal Sedini Mungkin Oleh Kementerian Luar Negeri dan “Pemangku Kepentingan” Politik-Keamanan RI

Rencana AS Kembangkan ICBM di Korea Selatan Berpotensi Merusak Rencana Global Maritime Fulcrum (Poros Maritim Dunia) Presiden Jokowi

Mempertanyakan Kelayakan Kerjasama Pertahanan RI-Ukraina

Lihat lainya »
   Arsip
Gempa Pidie, Gubernur Aceh Tetapkan 14 Hari Tanggap Darurat Bencana

BNPB: Korban Gempa Pidie Terus Bertambah

Pahami Esensi dan Pergerakan Praktek Geopolitik dan Proxywar

Kebijakan Luar Negeri RI Bebas dan Aktif Masih Tetap Relevan dan Akan Terus Berlanjut

Tim Badan Geologi Tinjau Lokasi Gempa Aceh

China Sebut Donald Trump Presiden Twitter

Saudi Hukum Mati 15 Orang yang Dituduh Jadi Mata-mata Iran

Panglima TNI: Bangsa Indonesia Tidak Akan Membiarkan ISIS Berkembang

Gempa Pidie, Korban Tewas 52 Orang

ABRI Penegak Demokrasi UU 45

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
ISLAM SANGAT MENGHARGAI PLURALISME

------------------------------------------------------------

Judul Buku : Pluralitas Dalam Masyarakat Islam

Judul Asli : At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamiy

Penulis : Gamal Al Banna

Pengantar : Prof. DR. Azyumardi Azra, MA

Tebal Buku : 93 halaman termasuk biodata tentang penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun

------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »