» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Intelijen
08-03-2015
Antara BIN dan CIA
Penulis : Amin Mudzakkir

Pagi tadi saya iseng melihat dan membandingkan website BIN dan CIA. Duh jauh banget ya? Sementara webiste BIN dibikin seperti website lembaga pemerintah Indonesia lainnya (maksudnya minimalis dan tidak menarik), webiste CIA sangat kaya dengan informasi--memperlihatkan AS memang sangat serius mengurusi isu keintelejenan.


Bagian yang menarik perhatian saya adalah kesempatan mendapat beasiswa. Website CIA memuat dengan jelas program itu. Mereka siap membiayai siapa saja warga negara AS dari mulai S1-S3 untuk semua bidang keilmuan asalkan sesuai dengan misi lembaga mereka. Seorang teman AS bercerita kepada saya bahwa dia pernah mencoba melamar beasiswa riset tentang bahasa lokal di Indonesia dari lembaga intelejen negaranya itu. Dari hal ini saja kita sudah bisa membayangkan betapa kayanya sumber informasi mereka tentang hampir semua hal di muka bumi ini.
 
Hal serupa tidak kita temukan dalam website BIN. Pada tahun 2013 kemarin mereka merekrut pegawai bergelar S-3, tetapi informasinya hanya itu saja. Tidak ada keterangan seperti pemberian beasiswa seperti terpampang dalam webiste CIA.
 
Tentu saja membandingkan BIN dan CIA rasanya tidak 'apple to apple'. Tetapi dari kegaduhan politik Indonesia akhir-akhir ini, saya melihat kualitas informasi dan pengetahuan intelejen kita buruk. Analisisnya tidak terlalu pas. Apakah begitu



Artikel Terkait
» Mega Tidak Perlu Takut Dengan Badan Intelijen Negara (BIN)
» CIA di Balik Kudeta Iran
» Puluhan Negara Membantu Operasi Rahasia CIA



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Iran Tingkatkan Pembelian Minyak Sawit Indonesia

Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »