» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Pendidikan
23-04-2015
Dies Natalis dan Wisuda ke-54 UPDM (B) Diwarnai Dengan Seminar Sehari

Seminar sehari dalam rangka Dies Natalis dan Wisuda ke-54 UPDM (B) mengusung Tema “Ancaman GEO Strategis dan GEO Ekonomi Politik Kekuatan Baru Asia Pasifik Abad 21 Dalam Konsepsi Maritim”. Acara dibuka Warek I Dr. Sumarhadi, MM dan dimoderatori Wadek I Fakultas Ekonomi Usmar Ismail, SE, MM, dan sebagai pembicara Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto (Guru Besar Ekonomi Kelautan IPB) dan Hendrajit (Direktur Eksekutif Global Future Institute). Menurut Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto dalam Geo Ekonomi Politik di Asia Pasifik Indonesia memiliki Potensi Ekonomi yang cukup besar di Bidang Kelautan, antara lain :


  1.     Perikanan US$ 32 Milyar /thn(IPB, 1997)
  2.     Wilayah Pesisir US$ 56 Milyar/thn (ADB, 1997)
  3.     Bioteknologi US $ 40 milyar/thn (PKSPL, 1997)
  4.     Wisata Bahari US$ 2 milyar/thn (Depbudpar, 2000)
  5.     Minyak bumi US$ 21 milyar/thn (ESDM, 1999)
  6.     Transportasi Laut US$ 20 milyar/thn (DMI, Bappenas, DepHub, 2003)

Jadi Total Potensi Ekonomi Kelautan Indonesia US$ 171 milyar/thn (DEKIN, 2012)

Untuk meningkatkan kemampuan Potensi Maritim ini Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto menambahkan Indonesia harus membangun dan memperkuat poros maritime berupa; Membangun kembali budaya maritim Indonesia, menjaga sumber daya laut, Menciptakan kedaulatan pangan laut dengan menempatkan nelayan pada pilar utama, Memberikan prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, Menerapkan diplomasi maritim melalui peningkatan kerja sama maritim, Membangun kekuatan maritim.

 


Dalam presentasinya Hendrajit mengatakan, bahwa Kepentingan Nasional Harus Jadi Panduan Politik Luar Negeri RI, pada tataran ini, meski “perang dingin” tak terkait langsung soal kerjasama ekonomi Indonesia-Cina, namun aspek ini sebaiknya dicermati betul oleh pemerintahan Jokowi-JK. Sebab kalau tidak, Indonesia bisa masuk perangkap Cina lewat skenario kerjasama ekonomi. Mengutip doktrin Alfred Mahan, Hendrajit mengatakan bahwa “ Barang Siapa Menguasai Lautan Hindia, maka akan menjadi kunci dalam percaturan dunia”. Hendrajit juga menekankan, agaknya, Doktrin Sea Power ini dihayati betul maknanya oleh para perancang kebijakan strategis pertahanan nasional Cina, terbukti melihat perkembangan terkini, Cina semakin meningkatkan kapasitas angkatan lautnya, dibandingkan matra-matra laut lainnya. Ditambahkan juga, Poros Maritim Dunia (Tol Laut) sejatinya merupakan implementasi sea power dalam lingkup terbatas, ia akan menjadi program super dahsyat di kawasan Asia Pasifik bila bangsa ini telah meraih dan menggenggam dulu TRISAKTI-nya Bung Karno (berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat dalam berkebudayaan), atau paling minimal bila ‘mendesak’ di bangun Tol Laut terlebih dulu Indonesia harus memiliki pola pengamanan (dan pengawasan) yang handal, profesional, sinergis, dan canggih terhadap titik-titik strategis di wilayah perairan.


Sumber :moestopo.ac.id
Artikel Terkait
» Program Bela Negara, Yonif 400/Raider Gelar Jambore Pramuka
» Sekolah Ala Tan Malaka
» Jelang UN CBT, Sejumlah Sekolah Khawatirkan Pasokan Listrik
» Indonesia Peringkat ke 28 di Dunia dalam Kemampuan Berbahasa Inggris
» Aster Panglima TNI Bekali 52 Pengajar Muda Indonesia
» Membangun Potensi Pendidikan
» Isran Noor Raih Gelar Doktor Ilmu Pemerintahan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »