» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Media
14-08-2015
Kita, Turki dan Israel, Salah Info, Bisa Fatal

Pebruari 1993, saya bersama tiga wartawan Indonesia lainnya Taufik Darusman (Indonesia Business Weelky), Wahyu Indrasto (Majalah Eksekutif) dan Nasir Tamara (Harian Republika), mencatat sejarah. Menjadi wartawan Indonesia pertama yang mewawancarai pemimpin Israel di tanah Israel.


Pemimpin Israel itu adalah Yitzhak Rabin (Perdana Menteri) dan Shimon Peres (Menteri Luar Negeri). Wawancara dengan Yitzhak Rabin khususnya, menjadi sebuah peristiwa penting saat itu, karena di bulan Oktober 1992, atau sekitar 4 bulan sebelumnya, ia menemui Presiden Soeharto di Jl. Cendana, Jakarta Pusat.

Apa hasil pertemuan empat mata Soeharto - Rabin, tak pernah diberitakan. Wartawan Indonesia, khususnya yang meliput Istana Kepresidenan pada waktu itu hanya diberi penjelasan Mensesneg Moerdiono, setelah Rabin take off dari Halim Perdana Kusumah kembali ke negeranya. Bahwa telah berlansgung pertemuan Presiden Soeharto dengan PM Yitzhak Rabin.

Hasil wawancara kami dengan kedua petinggi Israel itu sendiri tak lagi begitu menarik untuk ditulis kembali.
Tetapi kejadian kecil di sekitar itu yang selama ini saya tutupi, itulah sebetulnya yang lebih penting.

Sebab catatan itu bisa membuka mata siapa saja setiap orang yang ingin berreaksi kepada publik, harus paham betul apa yang dilakukannya. Di era pers bebas ini siapa saja bisa berbicara. Berita dan info yang beredar dalam sehari tak terbatas. Namun kita harus cerdik atau bijaksana dalam memilih dan memilah-milah.Termasuk bagaimana menghindari resiko.

Tetapi resiko apapun yang akan terjadi, tak harus kita khawatir - sepanjang kita tidak melakukan kebohongan atau memperdaya publik, masyarakat dan mungkin sahabat anda sendiri.

Sejarah keberadaan kami di Israel itu menjadi heboh dan saya nyaris menjadi korban kesalah-pahaman. Sebuah informasi yang dipotong dan direkayasa, nyaris menjadikan saya korban.

Terjadi kesalah pahaman bahwa orang yang beragama Kristen seperti saya itu, pasti dekat dengan Israel dan suka membela bangsa Yahudi.

Kemarahan terhadap saya baru berhenti, setelah saya minta bantuan Menteri Luar Negeri Ali Alatas (almarhum). Saat diterimanya di Departemen Luar Negeri, Pejambon, Jakarta, saya minta bantuan menetralisir situasi.

Merasa terpojok, saya keluarkan jurus kalimat bernada ancaman - kalau pak Menlu tidak membantu saya, maka saya akan bongkar perjalanan diam-diam seorang "pejabat pemerintah" ke Israel, jauh sebelum kami berkunjung ke sana.

Gertakan atau ancaman sekaligus permrintaan bantuan saya dipenuhi Menlu Ali Alatas. Seusai pertemuan Pak Alex, demikian dia kami sapa secara akrab, kemudian membuat pernyataan resmi yang intinya "membela" saya dan kawan-kawan.

Perjalanan itu menghebohkan, pasalnya antara lain - dari kami berempat hanya saya yang secara rutin dan teratur - selama hampir dua minggu itu, terus melaporkan apa yang saya lihat atau apa yang punya nilai berita. Misalnya pertemuan dengan sejumlah isteri pejabat Indonesia yang menetap di Yerusalem atau Tel Aviv. Suami-suami mereka yang bekerja untuk lembaga internasional, bertugas di negara tetangga Israel.

Hal ini tidak penting, tapi dari sisi human ineterest saya anggap punyai nilai berita. Sebab ternyata ada juga warga Indonesia yang menetap di Israel sekalipun kedua negara tidak punya hubungan diplomatik.

Pelaporan rutin ini saya lakukan, karena itulah pesan utama Surya Paloh selaku pemilik dan penerbit "Media Indonesia".

"Pokoknya paspormu harus dicap. Supaya ada bukti kau memang masuk Israel. Jadi buatlah laporan rutin", ujar Surya Paloh

Selain dengan "Media Indonesia" di Jakarta saya juga ditugaskannya ikut mempromosikan harian tersebut di Radio Trijaya104,7 FM.

Itu sebabnya selama berada di Israel, setiap pukul 08.00 pagi WIB atau pukul 03.00 dinihari waktu di Yerusalem, saya dihubungi oleh produser radio swasta itu.

Setiba di Yerusalem, laporan pertama saya untuk "Media Indonesia" menyebutkan, bahwa kami disambut seperti tamu VVIP (Very Very Important Person), sambutan yang setara dengan Perdana Menteri, Presiden, Raja dari negara sahabat Israel.

Pernyataan soal perlakuan istimewa oleh pemerintah Israel terhadap kami, saya kutip dari Avie Shoket, Direktur Asia dari Kementerian Luar Negeri Israel yang menjemput kami di airport, Ben Gurion, Tel Aviv.

Kami mendarat lewat tengah malam, setelah terbang dari Kairo dengan pesawat El Al. Sementara dari Jakarta ke Kairo, kami menggunakan Emirate Airlines.

Avie Shoket menunjukkan ruang VVIP dan membandingkan ruang lain yang ada di bandara itu. Hanya untuk mempertegas bahwa kami benar-benar diperlakukan secara istimewa dibanding penumpang yang mendarat malam itu.

Kami tidak berhubungan dengan petugas Imigrasi dan Bea Cukai. Setiba di hotel Moria yang jendelanya menghadap Mesjid Al Aqsa, Tembok Ratapan dan Bukit Golgota, baru kami menerima dokumen paspor. Sementara tas dan bagasi sudah langsung dikirim oleh concierge ke kamar kami masing-masing.

Laporan saya itu dua hari kemudian di-"counter" atau dibantah harian "Republika". Wartawannya, Nasir Tamara, yang di harian itu menjabat Wakil Pemimpin Redaksi, menulis bahwa tidak benar wartawan Indonesia diperlakukan seperti VVIP.

"Bagasi saya dibongkar, saya ditanya dengan berbagai pertanyaan. Saya digeledah. Pokoknya saya dianggap orang biasa", begitu kurang lebih laporan Nasir Tamara di suratkabar yang disponsori oleh ICMI tersebut.

Nasir terpaksa membantah, karena pimpinannya di Jakarta entah Parni Hadi, eks Kepala Kantor Berita "Antara" yang jadi Pemred harian itu, saya duga menegor Nasir Tamara. Nasir dianggap kecolongan.

Bantahan Nasir Tamara terletak pada substansi : bahwa sebagai wartawan saya telah membuat berita bohong dan memberi kesan baik kepada Israel.

Gara-gara "counter" Nasir Tamara, di Jakarta, khususnya kelompok yang tidak senang atas kunjungan kami tersebut, melakukan protes. Bahkan ada yang berdemonstrasi dengan mendatangi kantor harian "Media Indonesia" - yang ketika itu masih di. Jl. Gondangdia Lama 46 Jakarta Pusat (kini kantor Nasdem).

Saya tahu berita protes itu dari pejabat Israel yang menyertai kami selama di sana, Avie Shoket.

Dia memberikan foto copy "clipping" harian "The Straits Times" Singapura yang memberitakan peristiwa itu di harian-harian Jakarta atau Indonesia. Clipping itu di-fax ke Yerusalem oleh Kedubes Israel di Singapura.

Nasir dalam hal perlakuan tidak istimewa oleh pejabat bandara Israel, memang benar. Tetapi yang tidak benar adalah Nasir Tamara sebetulnya baru tiba satu hari kemudian, sesudah kami. Dia keluar dari jadwal yang kami sepakati bersama. Dalam hal ini dia tidak jujur.

Sebelum berangkat, kami sepakat membeli tiket sendiri dari Emirates Airlines. Tapi Nasir Tamara menolak bergabung. Dia terbang dulu ke Paris, Prancis karena isterinya berkewarganegaraan Prancis menetap di sana. Setelah Paris, ia terbang, menyusul kami ke Israel.

Fakta ini tidak dibuka oleh Nasir. Sehingga di Israel, kami berdua sempat terlibat perdebatan panas. Karena saya anggap dia "mencelakakan" saya. Saya menolak stigma dan tudingan bahwa saya memiliki kedekatan dengan Israel.
Kisah 22 tahun lalu ini saya angkat bukan untuk mendiskreditkan sahabatku Nasir Tamara.

Melainkan mencoba memberikan sebuah peringatan sekaligus pesan moral bahwa banyak masalah dunia yang tidak kita pahami, tetapi kita menganggap dan merasa paham sekali. Sebab bukan hanya pembaca harian "Republika" yang berreaksi keras dan keliru menafsirkan. Sekelompok warga di kota kelahiran saya Manado, juga berreaksi. Bedanya yang di Manado bereforia.

Sejumlah gereja dan jemaat menggelar kebaktian khusus memanjaatkan doa syukur kepada Tuhan YME, karena putera asal Manado (maksudnya saya) sudah berhasil masuk ke Isreal.

"Derek torang pe sodara terpilih ke Israel. Dia sudah menjadi orang pilihan Tuhan, sama dengan orang Israel yang merupakan umat pilihan Tuhan. Jadi torang orang Kristen sama deng Derek juga bisa jadi sama dengan orang Israel menjadi umat pilihan Tuhan...".

Sejumlah sahabat yang merasa setuju dengan eforia warga Kristen itu, menghubungi saya di Israel. dan mengabarkan ceritera sebagai kabar positif. Sementara saya hanya bisa geleng-geleng kepala, tertawa kecut dan tersenyum sinis. Saya menganggap pihak pendeta yang memimpon doa umat Kristen di Manado itu, termasuk ahli agama yang memiliki pengetahuan terbatas.

Awal pekan ini, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Indonesia dan antara lain bertemu Presiden Jokowi.

Ada tanggapan yang saya anggap tidak proporsional terutama yang sifatnya bereforia. Dan kesan saya, penanggap hanya melihat Turki dan Endrogan dari sisi Islam. Mungkin tidak banyak yang tahu, tentang keislaman Endrogan dan Turki dan rekam jejaknya sebagai politisi.

Sebelum menjadi Presiden tahun lalu, Erdogan sudah menjabat 11 tahun sebagai Perdana Menteri. Sehingga membandingkan dia dengan Presiden RI, Jokowi, tidak tepat. Ibarat membandingkan apel dan jeruk. Turki termasuk salah satu negara Islam di wilayah Eropa yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel

Dalam konteks tertentu Turki merupakan agen Amerika Serikat terutama bila dilihat status keanggotaannya dalam NATO. Ini berarti visinya tentang Islam dan dunia internasional bisa berbeda dengan kita di Indonesia. Kalaiu sudah begitu, pantaskah Erdogan dipinjam menjadi Presiden RI selama setahun?

Sekalipun negara Islam, Turki memelihara semua situs-situs Kristen. Bahkan beberapa kota di negara itu menggunakan nama-nama yang ada di Al-Kitab. Yang tidak paham pasti akan bertanya mengapa di negara Islam terdapat sejumlah kota yang namanya diambil dari Alkitab?

Umat Kristen banyak yang berwisata ke Turki antara lain karena Tongkat Musa yang digunakan untuk membela laut, diyakini di simpan di salah satu museum di sana.

Saat ini Erdogan sedang mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Antara lain karena ia menghukum rakyat yang menghina Presiden. Timbul pertanyaan demokratkah dianya ?

Dia juga disorot karena baru menempati rumah dinas yang memiliki kamar sebanyak 1.000 buah. Istana yang terletak di ibukota Ankara itu, disebut-sebut jauh lebih mewah dan besar serta luas tanahnya yang melampauai Istana Versailles, Prancis. Pengeritik atas rumah dinasnya itu dia tantang. "Ayo coba ke sini dan coba kalau anda bisa robohkan...."

Dia juga punya jet pribadi mewah yang harganya lebih dari 340 juta Poundsterling..
Gito lho...! *****

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »