» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Afrika
19-08-2015
Pangkalan Militer AS di Djibouti Diambil Alih Cina

Djibouti, adalah sebuah negara yang terletak di ‘Tanduk Afrika’. Berada di tempat yang strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Merah dan merupakan negara pelabuhan yang paling penting di kawasan.


Pantai Djibouti mempunyai wilayah sempit di selat Bab al-Mandeb, saluran yang memisahkan Afrika dari Saudi dan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, yang mengarah ke Laut Merah dan utara ke Mediterania.

Djibouti saat ini menjadi tuan rumah bagi kantor pusat militer Amerika Serikat untuk kawasan Tanduk Afrika. Dari bangunan itu, selama ini menjadi basis bagi 4.000 pasukan dan armada pesawat-pesawat drone pembunuh yang menjalankan misi-misinya seperti koordinasi untuk gerakan anti-teror, mata-mata, dan operasi militer lain dilakukan Washington untuk negara sekitar, seperti, Yaman dan Somalia. AS rela mengeluarkan koceknya sebesar $63 juta per-tahun sebagai sewa untuk sebuah pangkalan militernya itu.

Namun pasca Djibouti dan Beijing menandatangani perjanjian militer yang memungkinkan angkatan laut Cina untuk menggunakan port Djibouti pada bulan Februari 2014, Cina bertujuan untuk menginstal sebuah pangkalan militer permanen di Obock, kota pelabuhan utara Djibouti.

Pada beberapa tahun terakhir, Presiden Djibouti Ismail Omar Guelleh memang terus berpaling ke Tiongkok sebagai rekan ekonomi yang penting. Tahun lalu, dia memberikan kontrak operasi sebuah pelabuhan ke tangan perusahaan Tiongkok dari operator asal Dubai.

"Kehadiran Perancis sudah lama, dan orang Amerika menemukan bahwa posisi Djibouti bisa membantu dalam memerangi terorisme di wilayah itu," kata Guelleh.

"Jepang ingin melindungi diri dari pembajakan - dan sekarang Cina juga ingin melindungi kepentingan mereka, dan mereka dipersilahkan," katanya.

Dan semenjak setelah kunjungan Menlu AS  John Kerry ke Djibouti bulan Mei lalu, negara kecil Djibouti dikabarkan telah memerintahkan AS untuk meninggalkan pangkalan militernya di Obock untuk digantikan dengan militer Cina. Diperkirakan jumlah personil militer di pangkalan ini akan mencapai 10.000 pasukan. Terutama karena hal ini terkait dengan investasi ekonomi besar-besaran Cina yang telah dikatakan secara terbuka oleh Presiden Ismaïl Omar Guelleh,” tulis majalah CounterPunch, Senin (17/8).

Namun AS masih memiliki satu pangkalan militer lagi di Camp Lemonnier.

Menurut majalah CounterPunch, Senin (17/8), dikabarkan China sudah mengeluarkan pembiayaan untuk beberapa proyek infrastruktur besar yang diperkirakan mencapai total lebih dari $ 9 miliar (8 miliar euro), termasuk pengembangan pelabuhan, bandara dan jalur kereta api ke daratan Ethiopia. Dan Cina juga menginvestasikan $400 juta bagi modernisasi pelabuhan Djibouti.

Menurut laporan itu, hal ini kemungkinan akan mendorong pemerintah AS untuk melancarkan kampanye pergantian regim dengan dalih demokrasi di Djibouti.

Sementara itu media Inggris Daily Telegraph pada bulan Mei lalu juga menyoroti investasi besar-besaran Cina di negara ini. Hal ini akan memaksa AS untuk memindahkan fasilitas inteligen yang sensitif ke lokasi baru yang aman dari pengamatan Cina. (LiputanIslam/Antara/Al-Arabiya/TGR)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »