» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Pendidikan
05-10-2015
Museum Indonesia
Museum KAA Kembali Mendapat Penghargaan sebagai Museum Terbaik

Museum Konferensi Asia Afrikan (Museum KAA) kembali mendapatkan penghargaan sebagai museum terbaik kementerian/lembaga/TNI/Polri/Universitas/BUMN.Penghargaan diberikan dalam acara penganugerahan Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Jumat (2/10/2015) di Taman Sunken, Museum Nasional.


Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman ini merupakan wujud apresiasi yang diberikan pemerintah kepada perorangan hingga institusi swasta maupun institusi pemerintah yang telah berkontribusi dan bekerja keras dalam melindungi serta melestarikan cagar budaya dan permuseuman di Indonesia.

Penghargaan diberikan oleh satuan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kacung Marijan, yang mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Sedangkan Direktur Pelestari Cagar Budaya dan Museum, Widianto, pada Kamis malam (1/10/2105) mengatakan, satu diantara kriteria yang dinilai untuk penghargaan museum terbaik ini adalah kondisi museum yang tidak kuno, baik itu fisik maupun non-fisik.

Menurutnya, hal ini agar mendorong citra positif museum di masyarakat yang tidak hanya dipandang sebagai tempat untuk melestarikan serta memamerkan benda koleksi atau kuno tetapi juga sebagai sarana edukasi, rekreasi, dan studi.
 
Di era museum pasca-modern saat ini, selama lebih dari 4 tahun, melalui program participatory public dan community development yang dimiliki, Museum KAA senantiasa berupaya melibatkan peran serta masyarakat dalam proses interpretasi koleksi. Dengan berbagai kegiatan serta inovasi yang diwadahi dalam sebuah portal yang disebut Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA), beragam perspektif akan Nilai-nilai KAA muncul dalam wujud aneka karya, seperti puisi, buku, foto, ilustrasi gambar, serta bermacam kegiatan edukatif dan kreatif. Hal ini tentunya sangat mendorong peran museum sebagai sarana pembelajaran aktif bagi kalangan lintas segmen.
 
Interpretasi koleksi Museum KAA yang bersifat intangible melalui SMKAA juga terbukti efektif mendorong peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda di Kota Bandung akan sejarah perjuangan diplomasi Indonesia. Peningkatan tersebut berdampak positif pada peran Museum KAA sebagai instrumen diplomasi publik dalam membangun citra dan menanamkan opini publik untuk meraih dan menggalang dukungan baik dari dalam dan luar negeri.
 
Selain Museum KAA, terdapat 3 museum lainnya yang juga mendapatkan penghargaan untuk bidang anugerah permuseuman pada malam penganugerahan tersebut. Ketiganya adalah Museum Provinsi Sumatera Utara untuk kategori Museum Negeri Provinsi Terbaik, Museum 10 November Surabaya sebagai Museum Kabupaten/Kota Terbaik, dan Agung Rai Museum of Art (ARMA) sebagai Museum Swasta Terbaik.

Sementara itu, pada bidang anugerah permuseuman ini diberikan pula penghargaan kepada Pemerintah yang dinilai paling peduli terhadap Museum di tanah air. Adapun untuk kategori Pemerintah Peduli Museum ini penghargaan diberikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
 
Seperti diketahui, penghargaan yang diterima Museum KAA merupakan penghargaan kedua sepanjang 2015. sebelumnya Komunitas Jelajah memberikan penghargaan kepada Museum KAA untuk kategori Fun Museum. Bahkan pada 2014, Komunitas Jelajah juga memberikan penghargaan kepada Museum KAA untuk kategori Friendly Museum.

Pemberian penghargaan kategori Fun Museum karena aspek penilaian ditekankan pada atmosfer museum yang dianggap mampu memberikan fantasi, imajinasi, serta kesesuaian kontekstual masa kini antara benda atau koleksi dengan media yang disajikan kepada para pengunjung maupun partisipan museum. Sedangkan untuk penghargaan Friendly Museum, penilaian diberikan terhadap aspek afeksi dan sosial Museum KAA, khususnya dalam hal membuat dan menjalankan program yang melibatkan masyarakat baik itu dalam lingkup eksternal maupun internal. (TGR/KLN)

Caption Foto: Museum KAA (istimewa)



Artikel Terkait
» Museum Awards 2014, Museum KAA Sabet Kategori “Museum Bersahabat
» Museum KAA Gelar “203 Tahun Kota Bandung: Bandung Berbenah”
» 100 Foto Perjuangan Diplomasi Bung Karno Dipamerkan di Museum KAA



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »