» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Geopolitik
16-10-2015
Perlu Pendidikan Geopolitik Sejak Dini (Menanggapi Gagasan Menteri Pertahanan Tentang Bela Negara)
Penulis : Kusairi Muhammad, Konsultan Media di PT Indocita
Mengapa Pilihan Bela Negara tidak dalam Bentuk Pendidikan Geopolitik Pak Menteri?
 
Esensi gagasan dari Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu soal bela negara sesungguhnya bagus. Intinya bagaimana mengajak keterlibatan semua komponen masyarakat (bangsa) dalam usaha mempertahankan kedaulatan NKRI.

Namun satu hal yang perlu dicatat, tantangan gangguan kedaulatan ke depan bagi republik ini sesungguhnya tak sekadar "serangan-serangan" yang bersifat simetris (fisik dan militer) tetapi asimetris (non militer, cyber, maupun isu-isu terkait Demokrasi-Hak Asasi Manusia dan Lingkungan Hidup), dan sebagainya.
 
Sehingga apabila gagasan bela negara yang bersifat fisik ditransformasi ke arah pendidikan geopolitik yang akan diberikan sejak dini, tingkat taman kanak-kanak misalnya, pasti gagasan itu akan membuat bangsa-bangsa di dunia, setiidaknya di kawasan Asia Pasifik, akan merasa gentar dan cemas. 
 
Karena bagi mereka, bela negara yang bersifat fisik sudah lebih dulu dilakukan. Sehingga bila itu baru sekarang kita lakukan apakah tidak disebut meniru? Dan tidak menjadi sesuatu yang 'cetar membahana' (meminjam istilah Syahrini...he...he...he).
 
Justru sebaliknya, bila gagasan yang kita usung adalah Pendidikan Geopolitik Sejak Dini. Mungkin mereka akan terkesiap. Dan tak mengira bahwa Indonesia memiliki gagasan yang lebih mencerdaskan ketimbang apa yang selama ini mereka lakukan. 
 
Karena pemahaman terhadap geopolitik bangsa yang mendalam akan menjadikan pembelaan negara sebagai sebuah panggilan. Sementara pendidikan bela negara yang bersifat fisik, apalagi yang dikhawatirkan bersifat militeristik, tanpa memperhatikan batasan pemahaman sebagai bangsa, justru akan melahirkan keterpaksaan bahkan "pembangkangan". Mudah-mudahan tidak begitu.


Artikel Terkait
» Geopolitik Lumajang
» Hak Kekayaan Intelektual: Instrumen Hukum Untuk Layani Kepentingan Uni Polar AS dan Uni Eropa?
» Menakar Kepedulian Presiden RI Terhadap Papua
» Membayangkan Masa Depan Sulut dalam Kiprah Global
» Aceh dan Papua, Satu Skema Penguasaan Asing?
» Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »