» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Kesehatan
28-10-2015
Bioterorisme, Ebola dan Kepentingan Amerika Serikat (1)
Penyebaran virus Ebola di Afrika pada setiap periode, menimbulkan krisis serius di Benua Hitam itu. Pada kasus terbaru, penyebaran virus dimulai pada tahun 2013, dan dalam beberapa bulan terakhir mulai berkurang dan bahkan berdasarkan sejumlah laporan, telah berhasil dibendung. Virus Ebola untuk pertama kalinya ditemukan pada 1976 dan untuk ke-26 kali epideminya, dimulai pada bulan Desember 2013 di Guinea Bissau dan dengan cepat menyebar ke berbagai negara regional termasuk Sierra Leone dan Liberia. Virus Ebola pada putaran terbaru telah merenggut 25 ribu nyawa di tiga negara itu di mana 11 ribu di antaranya tewas dalam 18 bulan pertama. Meski media massa Barat melakukan manuver luas soal berakhirnya epidemi Ebola, akan tetapi bukti-bukti yang ada mengindikasikan aktivitas baru virus Ebola di Afrika. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyinggung peningkatan kasus Ebola dan menyatakan bahwa virus tersebut belum benar-benar tertanggulangi, dan masih banyak tantangan yang dihadapi.

Sebagian pengamat menilai Ebola sebagai sebuah virus belaka yang menyebar di Afrika karena kondisi lingkungan hidup di sana. Amerika Serikat serta sejumlah negara Barat lain sedang memberantas virus tersebut. Akan tetapi sebaliknya, ada sekelompok orang yang berpendapat bahwa virus tersebut merupakan hasil dari rekayasa genetika yang dilakukan Amerika Serikat dan disebarkan di Afrika. AS mengacu banyak kepentingan melalui cara ini. Dengan demikian Ebola dapat dikategorikan sebagai senjata perang baru.
 
Kamus online Cambrige, mendefinisikan bioterorisme, adalah aksi kekerasan dengan menggunakan makhluk hidup seperti bakteri, untuk melukai atau membunuh orang lain. Serangan bioterorisme dengan menyebarkan virus, bakteri atau mikroba untuk menciptakan penyakit atau menimbulkan kematian orang lain, hewan atau tumbuh-tumbuhan.” Unsur-unsur tersebut dapat ditemukan di alam, akan tetapi mungkin dapat diubah untuk meningkatkan kemampuannya menjadi penyakit.
 
Unsur-unsur bioterorisme dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan mekanisme penyebarannya, tingkat epidemi dan volume kematiannya. Kelompok pertama mencakup organisme dan zat-zat racun sangat berbahaya bagi keamanan publik dan nasional.  Kelompok kedua adalah yang tingkat penyebaran dan volume kematiannya pada level menengah dan lebih rendah dibanding kelompok pertama. Dan kelompok ketiga adalah pathogen yang muncul dan direkaya untuk potensi epidemi di masa mendatang.
 
Definisi lain dari bioterorisme adalah penyebaran virus, organisme atau bakteri secara sengaja yang menimbulkan kematian manusia, tumbuh-tumbuhan atau hewan. Bioterorisme berbeda dengan serangan kimia, atom atau radioasi. Serangan-serangan tersebut dibarengi dengan kebakaran, ledakan dan kerusakan. Sementara bioterorisme tidak memiliki dampak atau tanda-tanda tersebut. Sehingga perlu waktu sampai akhirnya jaringan kesehatan mendeteksi penyebaran sejenis penyakit baru.
 
Unsur atau bahan-bahan yang digunakan dalam bioterorisme biasanya dapat ditemukan di alam dan lingkungan sekitar, hanya saja kemampuan infeksinya ditingkatkan sehingga sangat mematikan dan kebal terhadap obat-obatan. Elemen biologis tersebut dapat menyebar melalui udara, air dan makanan.
 
Terdapat definisi lain dari bioterorisme yang lebih mengesankan aspek konflik dan permusuhan yaitu; bioterorisme adalah menciptakan kekhawatiran dan ketakutan dengan menggunakan elemen-elemen biologis. Adapun peralatan perang biologis antara lain adalah sarana yang digunakan secara sengaja untuk menyebarkan organisme penyebab penyakit atau sejenisnya melalui air, makanan dan serangga. Pandangan baru terhadap fenomena bioterorisme sudah keluar dari lingkup aksi teror dan militer dan segala bentuk aksi terencana yang secara langsung maupun tidak langsung mengancam kesehatan individu dan publik sebuah masyarakat dalam jangka pendek atau panjang, melalui ancaman keselamatan fisik, makanan dan lingkungan, juga termasuk bioterorisme. 
 
Dengan pandangan baru terhadap bioterorime tersebut, bukan hanya bakteri atau virus saja yang menjadi faktor serangan bioterorisme. Melainkan berbagai produk kosmetik yang tercemari dan murah, hingga obat-obatan murah yang tidak kenal dan disebarluaskan di negara-negara dunia ketiga, makanan hasil rekayasa genetika yang belum terbukti keamanannya dan diujicoba di masyarakat dunia ketiga, obat-obat baru oleh perusahaan-perusahaan farmasiyang diberikan secara cuma-cuma kepada negara-negara miskin, suplemen makanan yang mengandung bahan berbahaya untuk kesehatan, serta pencemaran sektor pertanian dan peternakan, semuanya termasuk dalam kategori bioterorisme.
 
Mungkin contoh paling nyata bioterorisme baru adalah Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan farmasi Amerika Serikat menjadikan masyarakat negara-negara miskin dunia sebagai kelinci percobaan mereka untuk mengujicoba kinerja obat-obat mereka guna mendapat ijin dari lembaga pangan dan obat-obatan negara itu. Bujet yang telah ditetapkan sesuai UU di Amerika Serikat, dibelanjakan di negara-negara miskin, guna mempercepat proses pengembangan obat baru untuk anak-anak dan ujicobanya. Negara-negara yang diacu adalah yang tingkat layanan kesehatannya rendah dan langkah perusahaan-perusahaan farmasi Amerika Serikat di sana terkesan seperti langkah kemanusiaan. Padahal yang terjadi adalah gelombang bioterorisme terselubung dan meluas terhadap masyarakat miskin dan anak-anak tidak berdosa di negara-negara itu.
 
Meski senjata biologi tampil sebagai ancaman abad 21, akan tetapi jauh di sejarah masa lampau, sarana-sarana teror seperti itu telah digunakan. Sebagai contoh di masa lalu, pasukan penyerang meracuni sumber-sumber air kota dengan berbagai macam tumbuhan dan jamur beracun yang akan menimbulkan mencret dan berhalusinasi.
 
Napoleon berusaha menjangkiti warga salah satu kota Italia dengan penyakit malaria. Pasukan Inggris dalam perang melawan Perancis dan India, melancarkan serangan biologis dengan menggunakan virus cacar terhadap warga India. Pada Perang Dunia Kedua, Jepang menyebar kue tercemar virus ke puluhan kota Cina. Pada Perang Dunia Kedua, para mata-mata Jerman membangun sebuah pabrik Anthrax bawah tanah di Washington dan mengujicoba bom-bom Anthrax di sebuah pulau di pesisir barat laut Skotlandia. Pulau tersebut hingga 50 tahun tidak dapat dihuni. Menurut para pengamat, puluhan negara masih mengupayakan produksi senjata biologis.
 
Pada abad 21, tercatat berbagai kasus kematian akibat epidemi virus-virus berbahaya yang oleh para ahli, semuanya harus dikategorikan dalam pembahasan bioterorisme. Termasuk di antara virus tersebut adalah flu babi. Virus berbahaya H1N1 yang menyebar di India, Cina, Pakistan, Tibet pada tahun 2009 itu semakin meningkat pada tahun 2014. Ribuan orang meninggal akibat virus tersebut.
 
Flu burung, adalah penyakit lain yang menjangkiti banyak masyarakat di berbagai negara dunia khususnya di Asia. Selain korban jiwa, virus ini juga menimbulkan kerugian ekonomi untuk banyak negara. Akibat virus tersebut pasar Korea Selatan menyaksikan penurunan indeks 1,6 persen  sementara Australia bahkan mengalami penurunan indeks hingga minus 0,4 persen. Virus flu burung juga merugikan sektor penerbangan dan harga saham perusahaan-perusahaan penerbangan pun anjlok.
 
SARS, adalah satu lagi virus berbahaya yang penyebarannya tercatat mulai tahun 2002. SARS menyebar di Cina dan kemudian dengan cepat ke berbagai negara Asia Timur seperti Hongkong, Vietnam dan Singapura, kemudian di negara-negara Amerika Utara seperti Kanada dan Amerika Serikat.
 
Kemudian ada pula MERS, sebuah virus yang menyerang saluran pernafasan. MERS  menyebar pertama kali di Arab Saudi dan kemudian ke lima negara regional, antara lain Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Yaman dan Kuwait. Beberapa kasus MERS juga ditemukan di Inggris, Korea Selatan, Thailand, Perancis, Tunisia, Italia, Malaysia dan Amerika Serikat. Hingga kini belum ada vaksin atau penawar untuk virus tersebut.

Sumber :indonesian.irib.ir

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »