» Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Migas
25-11-2015
KTT Forum Negara-Negara Pengekspor Gas di Tehran
KTT ke-3 Forum Negara-Negara Pengekspor Gas (GECF) dibuka di Tehran, Senin (23/11/2015) dengan dihadiri oleh sembilan pemimpin dunia. Agenda internasional ini membuat Iran kembali menjadi pusat perhatian dunia ekonomi dan politik.

Setelah mencapai perjanjian nuklir, penyelenggaraan KTT GECF di Tehran dapat dianggap sebagai sebuah peristiwa yang memiliki pesan politik dan ekonomi.
 
GECF dibentuk pada tahun 2001 dengan tujuan pertukaran informasi, perdagangan, dan pandangan yang berhubungan dengan pasar energi, khususnya gas alam guna menetapkan kebijakan di bidang energi negara-negara anggota.
 
Forum itu berusaha menciptakan iklim kondusif untuk bekerjasama antara para produsen dan konsumen gas alam serta menciptakan stabilitas dan keamanan penawaran dan permintaan gas di pasar global.
 
Dalam pandangan sejumlah analis pasar energi, KTT GECF Tehran merupakan sebuah peluang sehingga para anggota forum itu dapat bertukar pandangan pada level tertinggi, terutama tentang transformasi global pasar gas dan memperluas kerja sama. Hal ini juga pernah mereka lakukan dalam dua KTT sebelumnya di Qatar pada 2011 dan Rusia pada 2013.
 
KTT GECF Tehran juga bertujuan untuk memperkuat kerja sama di antara anggota, mendorong pemakaian gas di dunia, dan meningkatkan interaksi antara para produsen dan konsumen gas alam. Tujuan ini terbilang strategis, karena dalam pertemuan Tehran akan dibahas dan disahkan panduan ekspor gas berdasarkan model yang disebut Model Pasar Gas Global.
 
Konferensi itu juga memperhatikan masalah lingkungan di tengah meningkatnya kekhawatiran sejumlah negara tentang polusi udara akibat penggunaan bahan bakar yang tidak ramah lingkungan. Para peserta ingin mengkampanyekan penggunaan gas alam karena emisi gas buangnya yang ramah lingkungan. KTT Tehran juga mengusung slogan yang mendukung pendekatan tersebut yaitu, “Gas Alam, Bahan Bakar Pilihan untuk Pembangunan Berkelanjutan.”
 
Dari segi politik, GECF memiliki posisi penting di dunia internasional. Hal ini ditandai dengan penambahan jumlah anggota forum itu dan juga interaksi lebih besar mereka dengan organisasi-organisasi internasional yang bergerak di bidang energi.
 
Para analis percaya bahwa peran para raksasa gas seperti, Rusia, Iran, Qatar, Turkmenistan, dan Republik Azerbaijan di samping organisasi-organisasi seperti, OPEC dan Organisasi Energi Dunia (IEA), dapat semakin memperkuat posisi GECF di pasar energi dunia.
 
Iran sebagai tuan rumah konferensi dan juga pemilik cadangan terbesar gas di dunia, dapat memperkuat peran Republik Islam sebagai pemain utama di pasar energi dunia, khususnya gas alam. Posisi luar biasa geopolitik Iran akan membuat negara itu menjadi pusat perdagangan dan distribusi energi di kawasan dan dunia.
 
Terpilihnya kembali perwakilan Iran sebagai Sekjen GECF adalah indikasi kepercayaan terhadap peran efektif Republik Islam di tengah negara-negara pengekspor gas. Konferensi Tehran juga memperlihatkan bahwa Iran telah memasuki atmosfir baru setelah perjanjian nuklir. Jelas bahwa diplomasi Iran di bidang energi semakin membuat negara itu berpengaruh di dunia internasional. 

Sumber :indonesian.irib.ir

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Pemerintah Pastikan Blokir Telegram

Dilihat Dari Gelagatnya, NATO Memang Ingin Agresi Militer ke Rusia

KPK Dalami Proses Penentuan Opini Kasus Kemendes-BPK

Anggaran Polri Naik di Masa Presiden Jokowi

Ketua OPEC Optimistis Stok Minyak Global Turun

Mengunjingkan Epistemologi Keraton

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »