» Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia » AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang » Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia


Afrika
02-12-2015
Pertempuran Baru di Somalia Paksa 40.000 Orang Mengungsi
Kantor PBB bagi Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan, pertempuran baru antara angkatan bersenjata Puntland dan Galmudug di Somalia pada hari Sabtu (28/11), telah memaksa sebanyak 40.000 orang meninggalkan rumah mereka.

OCHA mengeluarkan pernyataan tersebut berdasarkan informasi yang diberikan oleh organisasi non-pemerintah (NGO) di Gaalkacyo, Wilayah Mudug di Somalia, tempat bentrokan terjadi, kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam satu taklimat yang diadakan di Markas Besar PBB, New York, Senin (30/11).
 
“Lebih dari 30 orang diperkirakan telah tewas,” kata Dujarric sebagaimana dikutip Xinhua dan dilansir Antara.
 
“NGO lokal memberikan pelayanan kesehatan bergerak, air dan layanan kebersihan,” tambahnya.
 
Bentrokan baru antara satu milisi yang berafiliasi kepada Galmudug dan pasukan Puntland dilaporkan telah terjadi di Galkayo pada Sabtu pagi, kata beberapa laporan media. Ditambahkannya, pertempuran meletus setelah anggota milisi menyerang pangkalan pasukan Puntland di beberapa bagian Galkayo Utara.
 
Pertikaian tersebut, yang meletus satu pekan lalu, telah membuat banyak warga sipil menyelamatkan diri dari daerah yang menjadi ajang bentrokan di kota itu. Mereka khawatir terjebak di dalam baku-tembak, kata beberapa laporan.
 
“Berbagai badan PBB dan NGO internasional untuk sementara telah direlokasi akibat pertempuran,” kata Dujarric. “Ini telah meninggalkan jurang pemisah dalam penyediaan layanan dasar buat masyarakat yang rentan di Wilayah Mudug, Galgaduud dan Hiraan,” katanya lagi.
 
OCHA terus memperingatkan bahwa kebutuhan atas bantuan kemanusiaan di Somalia tetap sangat besar; sebanyak 4,9 juta orang memerlukan bantuan dan 1,1 juta orang kehilangan tempat tinggal mereka di seluruh negeri itu, ujarnya.

Sumber :liputanislam.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak
Kalau benar manuver diplomatik AS melalui DK-PBB tersebut dimaksudkan untuk mengajak seluruh dunia mengisolasi dan mengembargo Korea Utara, lantas bagaimana sikap Indonesia? ...

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara

Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia

AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Turki Dukung RI Jadi Anggota DK PBB

Dibalik Sukses Pengendalian Harga-harga Pangan pada Idul Fitri 2017

Freeport: Memperpanjang Pelecehan dan "Freedom of Looting"

Arab Saudi dan Sekutu Beri Tambahan Waktu Dua Hari kepada Qatar

TNI Belum Berencana Kirim Pasukan ke Marawi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »