» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Intelijen
08-12-2015
Benang Merah dari Permasalahan Freeport adalah Neokolonialisme
Penulis : Cut Meutia Adrina

Baik Timur maupun Barat, keduanya sama-sama ingin menjadikan kita sebagai kacung. Dan alih-alih bekerjasama melawan para majikan, kita masih saja sibuk berperang sesama kacung.


Kalau kita membaca kembali tulisan-tulisan para pendiri Republik, problem yang mereka hadapi sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang kita hadapi hari ini. Prasangka terhadap Komunisme, Ahmadiyah, Syiah, serta berbagai aliran keagamaan, pemikiran dan ideologi, juga sudah hadir pada zaman mereka. Bedanya, mereka sanggup berpikir cerdik dan bijak, bahwa masalah utama yang harus dihadapi oleh kaum Bumiputera bukanlah semua itu tadi, melainkan kolonialisme, yang kalau di era sekarang disebut neokolonialisme, sebuah moda neoliberalisme. Selain neokolonialisme, globalisasi adalah moda neoliberalisme lainnya. Sedang neoliberalisme itu sendiri merupakan anak kandung kapitalisme. Saat ini, Tuhan dari lingkaran setan itu adalah Timur (Tiongkok) dan Barat (AS).

Seperti halnya kolonialisme di masa Hindia-Belanda dulu, praktek neokolonialisme hari ini hanya bisa dienyahkan jika si Tradisionalis, si Modernis, si Santri, si Komunis, si Syiah, si Ahmadiyah, atau si Katolik Bumiputera menyadari posisinya dan saling bekerjasama untuk menggusur neokolonialisme. Jadi, apa yang kini seharusnya kita lawan dan waspadai?

Neokolonialisme. Bentuk penjajahan gaya baru yang bersembunyi di balik serangan non-militer atau Perang Asimetri (assymetric warfare), yang dimaknai secara sempit oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dengan mengusung konsep "Bela Negara" yang sudah out of date dengan tantangan zaman.

Yang dibela itu negaranya siapa, sementara 175 juta ha dari 191 juta ha luas daratan NKRI sudah dikuasai oleh Asing dan Aseng. Kondisi ini diperparah oleh sikap Presiden kita yang menggabungkan negara kita masuk ke dalam Trans Pacific Partnership (TPP). Bukankah wadah dagang 12 negara itu adalah bentuk lain neokolonialisme, Saudara-Saudara?



Artikel Terkait
» BIN dan Tolikara



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Sekelumit tentang Sertifikasi Ulama

DK PBB Kutuk Serangan di Pasar Mogadishu

Unair Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa bagi Peraih Nobel

Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »