» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Intelijen
08-12-2015
Benang Merah dari Permasalahan Freeport adalah Neokolonialisme
Penulis : Cut Meutia Adrina

Baik Timur maupun Barat, keduanya sama-sama ingin menjadikan kita sebagai kacung. Dan alih-alih bekerjasama melawan para majikan, kita masih saja sibuk berperang sesama kacung.


Kalau kita membaca kembali tulisan-tulisan para pendiri Republik, problem yang mereka hadapi sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang kita hadapi hari ini. Prasangka terhadap Komunisme, Ahmadiyah, Syiah, serta berbagai aliran keagamaan, pemikiran dan ideologi, juga sudah hadir pada zaman mereka. Bedanya, mereka sanggup berpikir cerdik dan bijak, bahwa masalah utama yang harus dihadapi oleh kaum Bumiputera bukanlah semua itu tadi, melainkan kolonialisme, yang kalau di era sekarang disebut neokolonialisme, sebuah moda neoliberalisme. Selain neokolonialisme, globalisasi adalah moda neoliberalisme lainnya. Sedang neoliberalisme itu sendiri merupakan anak kandung kapitalisme. Saat ini, Tuhan dari lingkaran setan itu adalah Timur (Tiongkok) dan Barat (AS).

Seperti halnya kolonialisme di masa Hindia-Belanda dulu, praktek neokolonialisme hari ini hanya bisa dienyahkan jika si Tradisionalis, si Modernis, si Santri, si Komunis, si Syiah, si Ahmadiyah, atau si Katolik Bumiputera menyadari posisinya dan saling bekerjasama untuk menggusur neokolonialisme. Jadi, apa yang kini seharusnya kita lawan dan waspadai?

Neokolonialisme. Bentuk penjajahan gaya baru yang bersembunyi di balik serangan non-militer atau Perang Asimetri (assymetric warfare), yang dimaknai secara sempit oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dengan mengusung konsep "Bela Negara" yang sudah out of date dengan tantangan zaman.

Yang dibela itu negaranya siapa, sementara 175 juta ha dari 191 juta ha luas daratan NKRI sudah dikuasai oleh Asing dan Aseng. Kondisi ini diperparah oleh sikap Presiden kita yang menggabungkan negara kita masuk ke dalam Trans Pacific Partnership (TPP). Bukankah wadah dagang 12 negara itu adalah bentuk lain neokolonialisme, Saudara-Saudara?



Artikel Terkait
» BIN dan Tolikara



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Imigrasi Bekasi Deportasi 9 WNA China

Jasa Presiden Soekarno buat bangsa Indonesia

RESENSI: Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »