» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Afrika
11-01-2016
Krisis Libya
Operasi Militer di Libya Siap Digelar AS dan Perancis
Tinjauan secara parsial geografis, Mesir itu titik mula menuju Afrika terutama bila ke Afrika Utara sampai ke ujung kawasan yaitu Maroko. Tak boleh dielak, bahwa kelompok negara di jalur tersebut rata-rata kaya minyak, gas bumi serta berbagai limpahan mineral lain kendati mereka cuma penggalan daripada Route Silk atau Jalur Sutera.

Oleh karena, sangatlah menarik mencermati perilaku geopolitik kaum adidaya di Jalur Sutera. Dan inilah kiranya yang sedang berproses. Amerika terus berupaya menancapkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Seperti yang dilansir situs koran ad-Diyar Lebanon, Ahad (10/1/2016) melaporkan, AS dan Perancis telah memberitahu pemerintah Aljazair bahwa operasi militer dengan melibatkan negara-negara Barat akan dilakukan di Libya untuk memerangi kelompok ISIS. 
 
Washington dan Paris juga sudah meminta Aljir untuk melakukan kerjasama intelijen sehingga jumlah korban sipil dapat dikurangi. 
 
Setelah serangan teror di Paris pada November 2015, Presiden AS dan Perancis menugaskan dinas-dinas intelijen mereka untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas ISIS di Libya sebagai persiapan serangan. 
 
Keputusan untuk melakukan serangan militer di Libya dibuat selama pertemuan Barack Obama dan Francois Hollande. 
 
Sementara itu, para pengamat politik di Libya mengatakan bahwa intervensi militer Barat di negara itu akan memperburuk krisis Libya dan operasi lebih lanjut akan menghancurkan negara tersebut. 
 
M. Arief Pranoto menyatakan bahwa isue ISIS kelak ---seperti isue-isue sebelumnya--- akan dijadikan alat dan pintu masuk ke negara target. Target siapa? Target dari koalisi militer pimpinan Amerika (AS). ISIS hanyalah false flag operation, sebagaimana dulu Paman Sam membidani serta memelihara al Qaeda dan Taliban, kemudian setelah besar dijadikan “tumbal hegemoni”-nya, justru diperangi sendiri oleh AS dan sekutunya dengan berbagai dalih.
 
Bahwa kawasan sebagai keadaan atau kondisi statis merupakan kepingan puzzle agar kajian tidak meluas kemana-mana, selain perilaku geopolitik (para adidaya) kerapkali memetakan (mapping) kawasan sebagai obyek atau sasaran kolonialisme. Dan kawasan itu sendiri, dalam perspektif hegemoni adidaya juga sering ditempatkan sebagai pijakan bagi geostrategi dalam rangka menguasai kawasan-kawasan lain (geoekonomi). Inilah kemasan kolonialisme di muka bumi. (indonesian.irib.ir/TGR)


Artikel Terkait
» Pertempuran Baru di Somalia Paksa 40.000 Orang Mengungsi
» Dua Ledakan Hantam Ibukota Nigeria
» 10 Orang Tewas di Burkina Faso Paska Kudeta Pasukan Pengawal Presiden
» Pangkalan Militer AS di Djibouti Diambil Alih Cina
» Dukungan AS untuk Boko Haram di Afrika
» Terancam Penangkapan, Presiden Sudan Tinggalkan Afrika Selatan
» Hampir 40.000 Warga Burundi Mengungsi
» Kudeta di Burundi Gagal, Presiden Pierre Nkurunziza Kembali ke Negaranya
» Nigeria Gelar Pemilu Presiden



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »