» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Afrika
11-01-2016
Krisis Libya
Operasi Militer di Libya Siap Digelar AS dan Perancis
Tinjauan secara parsial geografis, Mesir itu titik mula menuju Afrika terutama bila ke Afrika Utara sampai ke ujung kawasan yaitu Maroko. Tak boleh dielak, bahwa kelompok negara di jalur tersebut rata-rata kaya minyak, gas bumi serta berbagai limpahan mineral lain kendati mereka cuma penggalan daripada Route Silk atau Jalur Sutera.

Oleh karena, sangatlah menarik mencermati perilaku geopolitik kaum adidaya di Jalur Sutera. Dan inilah kiranya yang sedang berproses. Amerika terus berupaya menancapkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Seperti yang dilansir situs koran ad-Diyar Lebanon, Ahad (10/1/2016) melaporkan, AS dan Perancis telah memberitahu pemerintah Aljazair bahwa operasi militer dengan melibatkan negara-negara Barat akan dilakukan di Libya untuk memerangi kelompok ISIS. 
 
Washington dan Paris juga sudah meminta Aljir untuk melakukan kerjasama intelijen sehingga jumlah korban sipil dapat dikurangi. 
 
Setelah serangan teror di Paris pada November 2015, Presiden AS dan Perancis menugaskan dinas-dinas intelijen mereka untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas ISIS di Libya sebagai persiapan serangan. 
 
Keputusan untuk melakukan serangan militer di Libya dibuat selama pertemuan Barack Obama dan Francois Hollande. 
 
Sementara itu, para pengamat politik di Libya mengatakan bahwa intervensi militer Barat di negara itu akan memperburuk krisis Libya dan operasi lebih lanjut akan menghancurkan negara tersebut. 
 
M. Arief Pranoto menyatakan bahwa isue ISIS kelak ---seperti isue-isue sebelumnya--- akan dijadikan alat dan pintu masuk ke negara target. Target siapa? Target dari koalisi militer pimpinan Amerika (AS). ISIS hanyalah false flag operation, sebagaimana dulu Paman Sam membidani serta memelihara al Qaeda dan Taliban, kemudian setelah besar dijadikan “tumbal hegemoni”-nya, justru diperangi sendiri oleh AS dan sekutunya dengan berbagai dalih.
 
Bahwa kawasan sebagai keadaan atau kondisi statis merupakan kepingan puzzle agar kajian tidak meluas kemana-mana, selain perilaku geopolitik (para adidaya) kerapkali memetakan (mapping) kawasan sebagai obyek atau sasaran kolonialisme. Dan kawasan itu sendiri, dalam perspektif hegemoni adidaya juga sering ditempatkan sebagai pijakan bagi geostrategi dalam rangka menguasai kawasan-kawasan lain (geoekonomi). Inilah kemasan kolonialisme di muka bumi. (indonesian.irib.ir/TGR)


Artikel Terkait
» Pertempuran Baru di Somalia Paksa 40.000 Orang Mengungsi
» Dua Ledakan Hantam Ibukota Nigeria
» 10 Orang Tewas di Burkina Faso Paska Kudeta Pasukan Pengawal Presiden
» Pangkalan Militer AS di Djibouti Diambil Alih Cina
» Dukungan AS untuk Boko Haram di Afrika
» Terancam Penangkapan, Presiden Sudan Tinggalkan Afrika Selatan
» Hampir 40.000 Warga Burundi Mengungsi
» Kudeta di Burundi Gagal, Presiden Pierre Nkurunziza Kembali ke Negaranya
» Nigeria Gelar Pemilu Presiden



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »