» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Afrika
25-01-2016
Ramai-ramai Kirim Pasukan ke Libya
Sumber-sumber media mengabarkan masuknya pasukan Amerika Serikat, Inggris dan Rusia ke Libya dengan dalih mendukung pemerintahan baru negara itu. Situs surat kabar Al Sharq Al Awsat (23/1) melaporkan, pasukan Amerika, Inggris dan Rusia, dengan dalih untuk mendukung pemerintah baru negara itu, Sabtu (23/1) tiba di pangkalan militer Gamal Abdul El Nasser di Selatan Tobruk dan ada kemungkinan pasukan Perancis segera menyusul.

Kota pesisir pantai Tobruk di Timur Libya adalah markas parlemen konstitusional negara itu dan sejumlah pertemuan digelar di sana. Di sisi lain, sekelompok tentara Amerika ditempatkan di Barat Tripoli, ibukota Libya, lokasi yang menjadi pusat pemerintahan rival parlemen. Saksi mata mengatakan, sejumlah tentara yang masuk ke Libya dalam tiga pekan terakhir, mencapai 500 orang.
 
Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika, Jumat (22/1) mengumumkan, untuk menghentikan perluasan dan semakin kuatnya ISIS di Libya, dibutuhkan sebuah langkah militer cepat.
 
Kehadiran pasukan asing di Libya tepat ketika Deputi perdana menteri negara ini, Ahmed Maiteeq menyatakan, pemerintah nasional bersatu menyambut segala bentuk bantuan logistik, namun tidak akan pernah mengijinkan kehadiran pasukan asing di wilayahnya, meski jika mereka hanya berniat melatih militer Libya.
 
Ahmed Maiteeq menandaskan, “Mengingat seluruh rakyat Libya bersatu memerangi kelompok teroris Takfiri ISIS, maka mereka akan mampu mengalahkan fenomena buruk ini tanpa bantuan asing.”
 
Australia, Italia, Jerman, Inggris, Belanda dan Amerika Serikat adalah enam negara yang sejak lama membentuk aliansi militer anti ISIS.
 
Tensi politik dan bentrokan antar kubu politik di Libya dari satu sisi dan kekalahan anasir ISIS di berbagai kota Suriah dan Irak dari sisi lain membuat anasir ini menjadikan Libya sebagai salah satu basis utama mereka.
 
Menurut para pengamat, mengingat kekayaan Libya dan posisi geografi serta kemudahan aksesnya, kini ISIS menjadi ancaman serius karena berusaha memanfaatkan negara Afrika utara untuk menyebarkan pengaruhnya di benua ini serta berbagai negara lain.
 
Meski seiring dengan semakin seriusnya ancaman pada akhirnya pemerintahan nasional bersatu terbentuk di Libya, namun kini parlemen masih belum memberi mosi percaya pada pemerintahan baru tersebut dan upaya untuk memulai kinerja pemerintah baru masih terus berlanjut.
 
Selama beberapa hari lalu, ISIS di Libya melalui pesan video selain mengaku bertanggung jawab atas serangan ke kilang minyak di Ra's Lanuf menyatakan, dalam beberapa hari mendatang akan melancarkan serangan ke seluruh pelabuhan minyak di negara ini.
 
Di pesan tersebut salah satu anggota ISIS bernama Abu Abdul Rahmat al-Liybi mengklaim, “Setelah serangan terbaru ke pelabuhan al-Sidra dan Ra’s Lanuf, pelabuhan al-Buraiqa dan Tobruk, al-Sarir, Jalu dan al-Kufra akan jatuh ke tangan kami.”
 
Sejumlah pengamat meyakini ISIS tengah berusaha merebut zona minyak al-Hilal dan akan menguasai Afrika utara melalui persekutuan dengan Boko Haram.
 
Isu ini kian memudahkan intervensi militer asing yang sejak lama berupaya menebar pengaruh dan intervensi di urusan internal negara ini. Kini negara-negara Barat dengan dalih memerangi ISIS dan ancaman terorisme terhadap pasukan mereka, mulai memasuki Libya dan selama beberapa hari mendatang kita akan menyaksikan operasi militer mereka di negara kaya minyak Afrika utara ini.
 
Dengan kehadiran pasukan asing dan berlanjutnya tensi politik internal serta berlanjutnya bentrokan etnis dan sektarian, Libya berada di kondisi yang telah diprediksikan sebelumnya. Selain itu, Libya semakin dekat dengan ancaman disintegrasi.
 
Kondisi ini tentu saja menjadi tanda bahaya serius bagi pejabat Libya supaya mereka secepatnya mencapai persatuan melalui kesepakatan politik dan tidak membiarkan pengaruh kelompok teroris serta intervensi militer asing dengan mengontrol kondisi dalam negeri.

Sumber :indonesian.irib.ir

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Sekelumit tentang Sertifikasi Ulama

DK PBB Kutuk Serangan di Pasar Mogadishu

Unair Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa bagi Peraih Nobel

Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »