» “Kegenitan Geopolitik” » Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara


Sejarah Nusantara
15-02-2016
Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 3)
Penulis : Imam Qalyubi, Staf pengajar linguistik pada prodi. Bahasa Inggris dan MK metode penelitian multikultural di Pasca Sarjana IAIN Palangka Raya Kalimantan Tengah.
4. Persebaran Budaya Nusantara di Afrika, Benua, Australia, Amerika, Arab, Vietnam dan Cina
 
Dalam cacatan Reid (2008), Oppenheimer (2010) yang diulas dari sumber data yang berlimpah sepakat menyebutkan bagaimana kapal-kapal bercadik orang-orang Nusantara dengan ilmu navigasi12 yang canggih dan didukung oleh tubuh yang kuat dengan perawakan langsing berisi dengan tatapan mata tajam, mereka orang-orang Nusantara tegar melawan badai dan ombak besar berlayar mengarungi ribuan mil samudera sehingga sampai menyentuh dan menjadi pemberi pengaruh primer dalam kebudayaan afrika yang dapat dilihat pada masa kini. Reid menyebutkan bahwa persebaran budaya tangible Nusantara terlihat dari penggunaan bahasa bantu yang  telah mencapai wilayah afrika Timur, Tengah, dan Selatan seperti di Kamerun, Mozambik, Uganda, Sudan Selatan, Somalia, Burundi, Kongo, Angola, Tanzania, Oman, Republik Afrika Tengah dan Afrika Selatan. Walaupun antara Reid dan Oppenheimer tidak bersintesis dalam penelitiannya terkait dengan bahasa Bantu tersebut namun keduanya menyepakati bahwa  bahasa bantu memiliki tipe bahasa aglutinatif sebagaimana bahasa-bahasa Nusantara, dimana bahasa tersebut berdiaspora secara masif sejak ribuan tahun yang lalu di Horn of Afrika

Pengaruh bahasa oleh Oppenheimer kemudian ditegaskan kembali dengan adanya pengelompokan dan penentuan status bahasa-bahasa yang tersebar di wilayah Pulau Paskah, Taiwan, Hawai, dan Selandia Baru merupakan rumpun keluarga dengan bahasa-bahasa di Asia Tenggara. Para penutur bahasa Austronesia itu menyebar dengan menyeberangi pasifik, Samudera Hindia sebelum agama Budha dan Hindu dilahirkan.     
 
Selain budaya-budaya Nusantara yang bersifat tangible masuk dalam relung-relung kebudayaan inti dalam masyarakat Afrika di wilayah tersebut juga dikuatkan dengan temuan budaya intangible  berupa temuan-temuan bersifat materi seperti phallus atau lingga yaitu alat bentuk kemaluan manusia yang merupakan simbol asal-asul manusia. Phallus di kalangan bangsa Nusantara adalah barang keramat yang dimuliakan karena merupakan representasi dari tuhan. Kebudayaan Phallus di Afrika dan sebagian di wilayah Arab tersebar bersamaan dengan persebaran bangsa Nusantara di Madagaskar. Beberapa phallus ditemukan di beberapa daerah di Afrika seperti di Madagaskar sendiri, Kenya, Zimbabwe dan Ethiopia. 
 
Masih dalam cacatan Reid (2008) dikatakan bahwa jejak peradaban bangsa Nusantara di Afrika tidak hanya jejak bahasa, dan jejak budaya materi akan tetapi jejak seni berupa alat musik juga dapat ditemui sampai saat ini di benua hitam tersebut. Adalah musik  Xilofon yang banyak ditemui dan  tersebar hampir merata di wilayah Afrika seperti di Mozambik, Uganda, Kongo, Gambia dan Afrika selatan sehingga Jaap Kunst seorang etnomusikolog sekaligus kurator Museum Nasional di Jakarta pada tahun 1935 menyatakan “ alat musik xilofon itu berasal dari Jawa, lalu masuk ke benua Afrika” sebagaimana yang dikutip Reid (2008). Semua fakta-fakta tentang alat musik Xilofon ini terpampang pada  dinding candi Borobudur. Pernyataan alat Xilofon sebagai alat musik asli Jawa kuno juga didukung oleh Ferninandus (2003) yang khusus membahasa alat musik Jawa kuno walaupun dalam uraiannya tersebut kurang mendalam dan hanya bersifat deskriptif .     
 
Sebagaimana yang telah uraikan sebelumnya bahwa Jawa memiliki peran penting dalam mewarnai budaya-budaya yang terdapat di wilayah Indochina. Dalam cacatan Lombard dikatakan bahwa pada abad ke-8 terdapat sejumlah kesamaan dibidang ikonografi, seni, arca, dan gaya bangunan di Vietnam sebagai pengaruh dari Jawa. Seperti model pemujaan anumerta seorang raja, dan beberapa unsur gaya Preah ko yang meniru gaya Jawa, demikian halnya bangunan-bangunan baru di ibukota Indrapura yang dibangun oleh Raja Indrawarman II (875) juga memiliki aroma Jawa (Lombard 1981: 287). 
 
Dalam perspektif linguistik orang Melayu Nusantara jauh sebelum masehi telah eksis sebagai sebuah bangsa. Beberapa catatan penting eksistensi bangsa Melayu Nusantara di Asia Tenggara dan dunia dapat dilihat pada aspek filologis linguistis yaitu adanya unsur bahasa Melayu pada naskah Al-Qur’an yang ada sejak abad ke- 6 M tersebut. Terdapat penyebutan kata kaafuura dalam Al-Qur’an surah Al-Insan ayat 5 “innal abrara yasrabuna min ka’sin kaana mizajuha kaafuura” (sesungguhnya orang-orang baik akan minum dari bejana/piala yang campurannya adalah kapur/kamfer) (Hamka, 1971). Fakta linguistik ini jelas memberikan gambaran pada kita bahwa kata kaafuura yang disebutkan dalam Al-Qur’an tersebut merupakan kata serapan dari bahasa Melayu. Indikasi ini jelas karena kapur Barus dalam sejarahnya memang hanya di temukan di wilayah Nusantara Indonesia tepatnya Barus, Wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara. Pada masa lalu merupakan sebuah imperium besar yang telah dikenal sejak abad 1 sampai 17. Nama lain dari Barus adalah Fanshur sebuah sebutan yang digunakan oleh para pedagang Parsi dan Arab sehingga Hamzah yang berasal dari Barus menamakan dirinya sebagai Hamzah Al-Fanshuri yang artinya Hamzah berasal dari Barus/Fanshuri. 
 
Pengelana Arab dan Parsi secara jelas juga menyebutkan bahwa pada masa sebelum Majapahit perdagangan antara Nusantara dengan dunia luar telah berlangsung lama. Para pengelana seperti Ibn Al Wardi (1340), Ibn Batutah (1345), Ibn Khurdadhbih (846), Ibn Rusteh (903), dan Al Biruni (1030) secara gamblang menyebutkan wilayah-wilayah Nusantara yang pernah mereka singgahi seperti: Kalah (Kedah), Zabag (Jawa), Fansur (Barus). Penyebutan Jawa atau zabag dalam hal ini adalah merupakan wilayah yang memiliki bandar-bandar besar seperti Tuban, Sedayu, dan Gresik yang merupakan bandar dalam kuasa Majapahit (Kroom,1931 dan Graaf. 1949).
 
Bukti eksistensi Nusantara yang lain yang lebih muda usianya berupa temuan leksikon-leksikon Melayu yang dikumpulkan oleh Yang Lin sebagaimana yang terlihat pada daftar kata berikut: 
 
Kosakata Melayu dalam Inventarisir Yang Lin Era Dinasti Ming
Bahasa Cina     Bahasa Melayu Nusantara Modern
chia pu erh                      kapur 
ta ma erh                         damar
yin tan                             intan 
cheng tan                         jintan 
 
Melihat beberapa fakta linguistik di atas jelas bahwa terdapat kontak intensif budaya dan bahasa antara bangsa Melayu dengan Cina yang nampak pada pengaruh bahasa Melayu pada bahasa Cina. Anggapan umum bahwa masyarakat Nusantara dalam berbagai aspek banyak dipengaruhi oleh budaya Cina jelas tidak benar karena orang Nusantarapun juga banyak memberikan pengaruh yang besar bagi orang-orang Cina. Dengan demikian tanggalkan anggapan bahwa Nusantara pada masa lalu dalam subordinasi Cina.
 
 
Bersambung (Bagian 3 dari 4 tulisan)
 
 
Catatan Kaki:
 
  1. Keahlian navigasi bangsa Asia Tenggara canggih karena hal itu menjadi modal dasar untuk menjadi raja samudera ketika bermigrasi ke pulau-pulau. Konsep kerajaan, sihir, agama, dan astronomi adalah ciri khas yang dimiliki oleh orang-orang Austronesia yang dikenal umum sebagai bangsa maritim.
 


Artikel Terkait
» Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 4/Selesai)
» Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 2)
» Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 1)



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Trump Dikte Anaknya Berbohong, Gedung Putih Cari Pembenaran

Pabrik Farmasi asal Jerman Siap Beroperasi

HMI Cabang Padang: Keluarkan Israel dari Keanggotaan PBB

Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »