» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Geopolitik
15-02-2016
Skema Geopolitik Maritim Jepang-India Dalam Kawasan Asia Pasifik
Penulis : Rohman Wibowo, Junior Research Associate GFI
Perbedaan kapabilitas setiap negara dalam sistem internasional telah mengundang kerangka konsep kerja sama, baik secara bilateral maupun multilateral. Dalam hal ini, kawasan Asia Pasifik menjadi sentral keberadaanya bagi pemetaan kerja sama interasional, yang mana berujung kepada pemetaan politik luar negeri dan juga kebijakan luar negeri. Karenanya, setiap negara pun sadar bahwa kawasan Asia Pasifik memiliki karakteristik wilayah yang berbasis kelautan. Tentu karakteristik wilayah kawasan Asia Pasifik tersebut mengundang negara-negara semisal Jepang dan juga India untuk melakukan Mapping.  

Meminjam istilah geopolitik, kesadaran akan ruang hidup Jepang-India terhadap kawasan Asia Pasifik telah menempatkan kedua negara tersebut dalam skema kerja sama bernama Japan-India Maritime Exercise (JIMEX). Di lansir dari thediplomat.com, kerja sama berbasis kemaritiman ini merupakan upaya dalam mengamankan apa yang disebut Sea lines of Communication (SLOC). Narendra Modi dan juga Shinzo Abe menyadari bahwa dengan mengamankan SLOC tersebut akan berdampak pada jalur pelayaran kapal internal dan eksternal negara, yang mana kedua perdana menteri tersebut sungguh mengutamakan matra laut sebagai basis National Security.  Ini menyebabkan, kepentingan nasional kedua negara tersebut  menarik kawasan Asia Tenggara sebagai ruang hidup yang mutlak diperhatikan. 
 
Jikalau dalam perspektif Mackinder, kawasan Asia tenggara ini bukanlah kawasan pinggiran (rim scope), akan tetapi sebagai centra of gravity dalam percaturan politik internasioal (baca Geografi Politik). Maka dari itu, JIMEX membangun relasi dengan ASEAN, namun secara geopolitik, hanyalah Singapura dan Indonesia yang menjadi ruang hidup bagi Jepang dan juga India dalam pencapaian kepentingan nasional.
 
Di mulai dari negara Singapura. Negara yang dijuluki kota singa ini betul-betul paham akan konsekuensi geopolitiknya. Dalam hal ini, pelabuhan-pelabuhan ber-skala internasional yang disediakan merupakan ruang hidup bagi kapal-kapal dagang internasional, karenanya negara ini layak disebut sebagai Port State. Di samping itu, Singapura adalah SLOC dan juga SLOT dalam kawasan, yang mana merupakan tujuan dari kerja sama tersebut dibentuk.
 
Sedangkan Indonesia, negara yang bercirikan negara kepulauan sejatinya mempunyai 4 Chocke Point (Selat Sunda, Selat Makasar, Selat Lombok, dan Selat Malaka), yang mana dijadikan ruang hidup bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Takdir geopolitik Indonesia tersebut pun dijadikan tujuan dari kerja sama JIMEX ini. 
 
Pada akhirnya, kerja sama yang diusung dari bagian kekuatan dunia ini akan menuntun Singapura dan juga Indonesia dalam skema geopolitik maritim kawasan Asia Pasifik. Sehingga kerja sama yang dibentuk akan dapat menciptakan depedensi, yang mana akan menjadi keuntungan bagi Jepang dan India serta menjadi tergantung bagi ASEAN, khususnya Indonesia dan Singapura. Selain itu interdepensi kompleks, yang mana menuntun setiap negara yang tergabung dalam kerja sama pada posisi berimbang dan juga saling ketergantungan.



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »