» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Media
16-02-2016
Bahayanya Sindrom "Efek Lemming" Dalam Masyarakat Kita
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Buat para pembaca surat kabar, pemirsa tv, maupun pendengar radio, sebaiknya mewaspadai kemungkinan jadi korban dari pengaruh psikologis yang dikenal sebagai "Efek Lemming."

Lemming, menurut Dr Albert Pastore, adalah sejenis tikus kecil yang hidup di benua Amerika Utara.
 
Berdasarkan pengamatan, diketahui biasanya yang satu akan mengikuti yang lain, bahkan menuju kematian sekali pun, seperti ketika beriring-iringan itu tanp sadar menuju sungai yang tengha banjir atau ke tepi jurang yang dalam.
 
Jadi, Efek Tikus Lemming" berarti sebuah kecenderungan "menjadi Pak Turut" yang menurut Dr Pastore, gejala psikologi ini sekarang mulai menggejala di kalangan pengguna media massa, entah itu media cetak, elektronik, maupun online internet.
 
Celakanya, justru korban Efek Lemming ini melanda orang-orang terdidik dan kaum terpelajar, yang seharusnya mampu berpikir rasional dan kritis.
 
Menurut Pastore, gejala psikologis ini bisa melanda semua lapisan sosial-ekonomi di masyarakat.
 
Yang berbahaya dari gejala Efek Lemming ini, berpotensi untuk dimanipulasi untuk maksud-maksud jahat.
 
Efek Lemming memungkinkan seluruh segmen masyarakat kehilangan akal sehatnya untuk membuat pertimbangan dan keputusan.
 
Menyimak pandangan Dr Pastore ini, saya berkesimpulan bahwa orang-orang yang terkena Sindrom "Efek Lemming" ini, punya kecenderungan untuk menolak fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan baru yang disajikan, jika hal itu dirasa tidak cocok dengan lingkungan peer group mereka.
 
Jadi kalau kelompok peer-nya sudah punya sebuah sikap pandangan tertentu tentang suatu isu yang sedang berkembang, maka para korban sindrom "Efek Lemming" itu berusaha tetap menyelaraskan diri dengan sikap dan pandangan umum kelompok peer-nya. Meskikupun fakta-fakta baru tersebut sebenarnya merupakan pengungkapan sebuahnya kebenaran.
 
Kalau dipikir-pikir, dalam situasi yang penuh kebebasan dan demokratis sekarang ini, gejala psikologis Efek Lemming ini, justru melahirkan anggota masyarakat yang paradoks dengan demokrasi dan kebebasan.
 
Sebab manusia Lemming sejatinya tak mampu memikul tanggung-jawab atau tekanan sosial. Betul tidak? Akibatnya, justru lahir orang-orang tidak berwatak independen dan punya individualitas atau kedirian (tapi bukan individualisme atau egoisme lho).
 
Sebaliknya, manusia Lemming justru punya dorongan kuat untuk menyesuaikan diri dengan kelompok, terutama kelompok peer-nya.
 
Alhasil, manusia Lemming, pikirannya selalu tertutup, dan punya kecenderungan melawan setiap usaha yang akan mengubah keyakinan mereka yang keliru, bahkan dengan segenap kekuatan batin yang ada.
 
Dalam situasi yang demikian, para pengelola media yang sadar betul menguatnya Sindrom Efek Lemming, dengan mudah akan memberikan informasi dan sajian berita atas dasar kerangka pemikiran yang sudah dirancang dan direkayasa sebelumnya.
 
Menguatnya gejala psikologis Sindrom Efek Lemming di semua segmen masyarakat pengguna media massa, para pengelola media dengan mudah "menghipnotis" para pemirsa tv atau pembaca surat kabar, agar mempercayai atau meyakini omongan para narasumber tokoh atau pakar yang dianggap kompeten. Sehingga kebenaran yang dirancang dan direkayasa oleh media pun kemudian berhasil terbentuk dan tertanam di benak para penggua media massa sebagai penerima pesan.
 
Berpikir secara logis, terbuka dan bebas, saya kira merupakan langkah awal untuk melepaskan diri dari belenggu yang mengikat orang-orang yang telah menjadi Kaum Lemming. Melepaskan diri dari mentalitas Lemming.
 
Manusia Lemming amat rentan untuk jadi sasaran dis-informasi dan dengan mudah menelan begitu saja fakta-fakta berita yang kalau diverifikasi lebih lanjut, sebetulnya tak lebih dari dongeng atau cerita fiksi belaka.


Artikel Terkait
» Berita Media Massa dan Semangat Bertempur Kelompok Teror
» Kembali ke Fitrah Jurnalisme TVRI
» KWAA: Jurnalis Progresif Asia Afrika Bersatu!
» Sudah Independenkah Pers Kita?
» Jokowi dan Facebook
» Kebangkitan Jurnalis



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Menyimak Konflik Sosial di Indonesia

Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »