» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Sejarah Nusantara
22-02-2016
Sejarah Melayu
Menyatukan Bangsa Serumpun Melayu Nusantara yang Berserakan
Penulis : Daun Lontar Yogyakarta

Sebagian besar orang Jawa, Batak, Bali dan suku-suku lainnya di Indonesia tidak mengakui ataupun tidak menyadari bahwa dirinya sebenarya adalah bangsa Melayu. Mereka beranggapan bahwa Melayu itu hanya meliputi suku Melayu Banjar, Melayu Riau, Melayu Minang, Melayu Deli, Melayu Pontianak dan seterusnya. Padahal jelas sekali bahwa Jawa, Batak, Madura, Bali bahkan Papua Bagian Barat masuk dalam rumpun bangsa Melayu. Hanya katena entitas politik kesukuan dan diperparah oleh pecah belah kolonial belanda yang membuat kita yang serumpun ini menjadi asing sebagai satu rumpun Melayu Nusantara.


Apalagi kalau berbicara Malaysia tentu yang muncul adalah apriori. Hal ini tidak terlepas dari pemberitaan media tertentu di Indoesia yang tidak Cover Both Side dalam pemberitaanya sangat berbeda sekali kalau mereka memberitakan tentang Amerika atau Cina yang jelas-jelas busuk tapi dikemas menjadi apik. Kita lupa Padahal Malaysia, Indonesia, Champa (Vietnam), Kamboja (Campa), Thailand, Melayu Singapura, Brunai, Malagasi (Madagaskar) Maori (Selandia baru) maupun Philipina adalah bagian dari Nusantara yang berumpun Melayu.

Dengan hanya menjelaskan yang serba terbatas seperti ini tentu tidaklah cukup perlu ada panggung diskusi untuk menjelaskan tentang keserumpunan bangsa Melayu Nusantara ini dalam sebuah diskusi agar informasinya paripurna.

Terobosan awal memulai rencana itu tadi malam 20/02/ 2016 salah satu penggiat kemelayuan Bung Fairuz Bin Kamarulzman dari Selangor Malaysia datang ke Yogyakarta untuk menyusun rencana menbangun Serikat Melayu Nusantara atau apapun namamya itu.

 



Artikel Terkait
» Mengukir Sejarah Baru Melalui Generasi Baru
» Sejarah Aceh, Fondasi Hubungan Luar Negeri Ri-Turki?
» Napak Tilas Kejayaan Nusantara di wilayah Gempol - Pasuruan
» Melacak Makna dan Kejayaan Nusantara
» Membaca Peradaban Menuju Kejayaan Nusantara (bagian dua)
» Membaca Peradaban Menuju Kejayaan Nusantara
» Salah Kaprah Nusantara



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »