» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Migas
24-02-2016
Revisi ICP Pengaruhi PNPB Migas

Menyusul melemahnya harga komoditas minyak dan gas, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mempertimbangkan untuk merevisi turun asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price /ICP) tahun ini ke kisaran US$30-40 per barel. Dan dipastikan akan berdampak pada merosotnya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) migas.


Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, target PNBP ditetapkan sebesar Rp273,8 triliun, di mana PNBP dari sektor migas menyumbang Rp78,6 triliun. Dengan asumsi turun 20 persen, maka setoran PNBP tahun ini diperkirakan hanya sebesar Rp62,88 triliun. 
 
"Saya kira segitu angka yang realistis, setelah disepakati freeze produksi antara Arab Saudi, Rusia, negara-negara Amerika Latin sih harusnya punya dampak terhadap harga minyak. Dan saya kita harga US$30 sampai US$40 itu mungkin," ujar Sudirman Said usai menjadi pembicara di sebuah diskusi di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (24/2). 
 
Sebelumnya, Direktur PNBP Kementerian Keuangan Anandy Wati menjelaskan asumsi yang dijadikan acuan untuk menghitung PNBP migas antara lain ICP, tingkat produksi (lifting) minyak dan gas, serta nilai tukar rupiah. 
 
"Untuk ICP kita membuat asumsi US$30 per barel, US$35 per barel dan US$ 45 per barel. Sedangkan lifting minyak 780 ribu barel per hari (Bph), 790 ribu Bph, dan 810 ribu Bph," ujar Anandy Wati.
 
Dengan asumsi kurs rupiah tetap Rp13.900 per dolar AS, jelas Anandy, PNBP Migas berpotensi menjadi minus Rp1,5 triliun untuk membayar utang pajak pertambahan nilai (PPN) jika ICP dipatok US$30 per barel dan lifting minyak 780 ribu Bph. 
 
Indonesia-Iran Jajaki Kerjasama 
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, I.G.N Wiratmaja Puja mengatakan pemerintah Indonesia mengundang Iran untuk berpartisipasi dalam pembangunan kilang dengan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) dengan Pertamina sebagai Penanggung Jawab Pembangunan Kilang (PJPK).
 
"Kami mengundang kemarin kalau bisa membangun kilang dengan skema KPBU di Arun atau Bontang, dan mereka kelihatan tertarik, jadi sedang didiskusikan cukup detail,"ujar Wiratmaja pada Selasa (24/2) di Hotel Ritz Carlton Kuningan Jakarta.
 
Wiratmaja menyebut dana investasi untuk pembangunan satu kilang dengan kapasitas 300.000 barel mencapai US$ 8 miliar.
 
Sementara itu jika kilang dibangun dengan pabrik petrokimia maka dana investasi yag dibutuhkan mencapai US$ 14 miliar.
 
"Mereka sepertinya ingin dengan petrochemical, itu yang lagi dibahas sekarang. Target kami kan groundbreaking kilang tahun depan, sekarang lagi diskusi secara detail,"ujar Wiratmaja.
 
Sudirman Said mepertegas bahwa kerja sama dibicarakan dalam pertemuan antara Kementerian Energi dan delegasi Iran di Bogor kemarin. Badan usaha lokal seperti PT Pertamina (Persero), PT PGN (Persero) Tbk, dan PT Medco Energi Internasional Tbk juga diundang. Perusahaan migas milik pemerintah Iran juga turut menghadiri pertemuan.
 
"Ada 9-10 peluang kerja sama yang bisa di-eksplore lebih jauh," ujar Menteri Energi Sudirman Said di hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu, 24 Februari 2016.
 
Namun, Iran meminta syarat kepada Indonesia agar membangun bank di sana. Tujuannya untuk kemudahan pembayaran. Terkait dengan ini, Sudirman mengatakan presiden sudah mengimbau Bank Indonesia untuk menindaklanjuti permintaan Iran.
 
Meskipun demikian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengemukakan rencana kerja sama sektor minyak dan gas bumi dengan Iran menemui titik terang. Kesepakatan dikebut pascapencabutan sanksi ekonomi awal tahun lalu. (Republika.co.id/CNNIndonesia.com/Tempo.co/Invfovesta.com/TGR)
 

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »